
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote & comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
...___________________________________...
...R a s a...
...___________________________________...
..._________________________...
..._______________...
..._______...
...___...
..._...
Kakek Davian benar-benar dibuat membisu, sama halnya Kevin. Mereka kehabisan kata-kata. Tak pernah terpikirkan jika hal sederhana mampu membuat Davian jadi se-G I L A ini.
"Perasaan labil bisa berubah mengerikan ternyata." ucap Kevin berkomentar. Kakek Davian setuju, setelah mengulik paksa jiwa Davian bersama sang anak; Kevin—mereka berdua akhirnya mengetahui sesuatu. Perasaan terpendam yang kurang masuk akal milik Davian, anggaplah pemicu luapan emosi tak stabil dari lelaki muda bermanik hazel itu; ternyata—
__ADS_1
Cinta.
Ya, kuncinya ada di rasa 'cinta'. Simpelnya karena Davian tertarik pada Reva, itu saja.
"Pftt!"
Kevin mencoba menahan tawa, dia harus menceritakan hal ini pada Sarah nanti. Putra bungsu mereka sangatlah menggemaskan, sampai-sampai ingin menghancurkan sekitar karena berusaha menekan lonjakan aneh yang disebut musim semi remaja. HAHA!
"Dasar anak manja yang bisanya merepotkan orang dewasa, haha..." keluh Kevin bersamaan dengan nada renyah dan tawa meledak. Sudut matanya berair senang.
Kakek Davian ikut tertawa kecil, meski sebelumnya dia sudah lebih dahulu menggoda Davian dengan candaan—Davian jatuh cinta pada Reva. Lelaki tua itu tidak mengira sang cucu malah menganggap serius, pantas saja saat dia melontarkan godaan serupa Davian malah meledak. Dasar anak congkak, terlalu sombong untuk mengakui kalau dia jatuh cinta.
Tsundere~
"Ah... saya pamit undur diri saja ayah... banyak hal yang harus dikerjakan di kantor dari pada pengurusi bocah tengil ini," ucap Kevin usai tertawa terbahak-bahak. Sudut matanya terlihat meninggalkan jejak air mata senang, perut lelaki versi lebih tua dari Davian itu saja masih terasa geli.
"Ku rasa, punggung ku semakin sakit..." gumam kakek Davian, menepuk-nepuk punggungnya. Pandangan lelaki itu tertuju pada sosok sang cucu yang masih berada pada lilitan rantai, perlu kekuatan ekstra; mulai dari membuat segel, menekan kekuatan, hingga mengulik paksa jiwa Davian. Sudah saatnya kakek Davian keluar dari pseudo, tangan lelaki tua itu terangkat—tubuhnya berpindah dari ruang hukuman menuju dunia nyata. Dinding-dinding familiar serta sosok Davian yang terikat oleh kekuatan Adam menyambut pemandangan lelaki tua itu.
Tak jauh dari sana ada sosok Eni yang tengah tertidur dengan posisi duduk. Kening kakek Davian terangkat; bingung, seingatnya Reva ada disini.
"Eni?" panggil sang kakek pelan tapi mampu mengejutkan Eni. Wanita itu menatap panik manik kakeknya.
Kapan kakek kembali? batin wanita itu seraya mengelap sudut bibirnya. Barang kali ada air liur menetes disana ketika dia terlelap.
"Ada apa kakek?" tanya Eni.
Sejenak keheningan melanda, kakek Davian berpikir dalam sebelum membuka bibirnya untuk bertanya.
__ADS_1
"Dimana cucu menantu ku?" ujar kakek Davian bernada tanya. Sedikit perasaan tak senang muncul pada hati lelaki tua itu. Eni menelan saliva kasar, apa ini? Tekanan aneh dari mana ini?!
Eni mengangkat tangannya sambil menggaruk tengkuk yang tiba-tiba terasa gatal tanpa sebab. Otak wanita itu berpikir keras merangkai kata-kata untuk diucapkan pada sang kakek.
"Reva mendadak menerima telpon," tutur Eni. Guratan tak senang semakin jelas terlihat pada sang kakek.
"Di jam selarut ini?"
Eni mengangguk.
"Jadi Reva berpamitan usai makan malam,"
Lalu? Kata itu terlihat diwajah sang kakek, padahal lelaki tua itu tidak berucap apapun tapi Eni seakan paham maksudnya. Sekilas ingatan muncul dibawah tekanan. Eni berujar lantang
"Saya dengar dia ingin bertemu dengan tunangan–nya?!"
Eh?
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote & comments......
...Terima kasih,...
...Bye...
__ADS_1
...:3...