
...Cerita bersifat karangan / imajinasi dari penulis saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Sebelum baca silakan klik like, 'vote' juga comments diakhir cerita, sebagai wujud apresiasi terhadap karya orang lain....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
... _________________________________________...
...T e r s e r a h...
..._________________________________________...
...__________________________...
...___________________...
...___________...
...______...
...___...
..._...
"Hufss~" Reva mengembuskan napas panjang. Uap panas dari cangkir kopi miliknya terlihat jelas, udara dari balik kaca pembatas sangatlah dingin. Dia menatap pinggiran jalan dari sebuah cafe—tempat dia duduk; mulai menggenang air-air becek.
Reva meletakkan cangkirnya. Dia jadi teringat dengan sekilas kejadian kemarin. Pertemuan Reva dan Davian ditutup dengan akhir yang menyedihkan.
Tapi apa peduli Reva saat ini? Davian saja tidak menjaga citra dia dihadapan Reva.
Lagi pula lelaki itu juga masih berhutang maaf dengannya.
"Huh!" Reva mengeluh. Sial. Pikirannya jadi kembali berpusat pada lelaki temperamental itu lagi.
LUPAKAN REVA! Jeritnya dalam batin. Kembali menyeruput secangkir kopi yang mulai mendingin karena suhu ruangan.
Owh yah~ kemana perginya Kian yah? Rasanya Reva jadi jarang bersama temannya itu, meski hanya sekedar nongkrong sebentar.
Atau hanya perasaan Reva saja?
Ya~ mungkin?
__ADS_1
"Tring!" Reva menolehkan pandangan sedikit, benda dengan layar pipih bercahaya. Tangannya terangkat—mengambil benda itu. Handphonenya.
Notifikasi singkat terlihat. Dari sang ibu.
Reva membuka pesan itu. Sedikit penasaran, hal apa yang membuat ibunya itu sampai mau repot-repot menghubunginya dari kampung halaman.
From : Mom~
Bagaimana kabar mu disana?—
Sudut bibir Reva terangkat. Secuil rasa senang muncul ketika membaca kalimat pembuka dari pesan itu.
Wus~
DEG!
"Brak!"
Reva terkejut. Dia berdiri dari bangku sambil menggebrak meja; kepalanya berubah haluan—menatap kondisi hujan diluar cafe. Matanya terbelalak. Handphone miliknya sedikit terempas membentur permukaan meja.
Apa itu tadi? Batinnya. Mengedar pandangan. Dia benar-benar yakin, ada sesuatu seperti? Melewatinya sambil membawa hawa dingin yang mengerikan bersamanya. Bulu roma Reva sampai ikut meremang.
Sensasinya terasa nyata.
Apa ada kaitannya dengan fenomena paranormal?
Reva mendengus kesal. Kasar, dia kembali duduk dibangkunya. Menopang wajahnya dengan tangan. Merasakannya langsung benar-benar berbeda dari sekedar menonton film horor dibioskop, lama-lama mengerikan juga.
Ayolah... lupakan! Reva lupakan?! Dewi batinnya mendesak. Reva harus mengabaikannya. Dia menghembus sejenak napasnya. Mengatur kembali suasana.
Reva kembali mengambil handphone yang letaknya tidak begitu jauh dari posisi dia. Memutuskan melanjutkan membaca pesan dari sang ibu.
Sampai dimana dia tadi?
Ah! Ketemu.
Tapi bukannya memperlebar senyum yang tadi sempat pupus. Isi lanjutan pesan sang ibu hanya menghadirkan rasa—memuakkan.
—kembalilah, berhanti saja dari studi mu itu... tunanganmu sedang menunggu. Cepat menikah sana! Apa kau tidak kasihan dengan Josan?!
Reva mematikan handphonenya. Meletakkan benda itu dipojok meja. Fakta yang bahkan Kian tidak tahu. Alasan sederhana kenapa Reva melarikan diri dengan dalih belajar. Jauh dari tempat dia lahir dan tumbuh—orang-orang menyebutnya sebagai kampung halaman.
Itu?
__ADS_1
Karena—
Josan.
Lelaki menyebalkan itu.
Rasanya ingin mencabik pria busuk itu.
REVA BENAR-BENAR INGIN MELAKUKANNYA.
Yeah~
"Wah~ aku tidak tahu kau bisa berekspresi seperti itu?"
Reva terkejut ketika mendengar seseorang seperti berbicara tidak jauh dari telinganya. Dengan panik dia mencari sumber suara. Sosok familiar terlihat dari balik kaca.
Posturnya tinggi, menggenakan jas hujan bending. Rambut depannya sedikit lepek karena terkena air hujan. Pandangan hazel itu bertemu dengan manik kelam Reva.
Bagaimana bisa? Batin Reva spontan.
"Aku membagi pendengaran kita" suara Davian terdengar lagi. Mulutnya tidak bergerak. Apakah ini adalah komunikasi batin? Pikir Reva.
"Keluarlah~ Ikut dengan ku," ucap Davian.
Kemana?
Ingin rasanya Reva bertanya, namun sayang. Dia memilih bungkam. Reva beranjak dari tempatnya; membawa seluruh barang setelah membayar—melangkah menuju luar. Tempat Davian berada.
Sedikit aneh.
Entah kenapa rasanya? Reva seolah patuh pada Davian?
Pada lelaki; sang pemilik hazel itu?
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa Like, Vote dan comments......
...Terima Kasih,...
...Bye...
__ADS_1
...:3...