Crazy Baby

Crazy Baby
Kepingan


__ADS_3

Hujan. Fenomena yang jarang sekali terjadi di dunia bawah karena rintikan yang turun lebih tampak seperti darah ketimbang air biasanya. Davian mendongak, udara tiba-tiba terasa dingin. Lelaki itu terlihat menghela napas panjang uap panas muncul dari celah bibirnya.


"Hufss~"


Setelah ditinggalkan, lelaki dengan manik hazel itu memulai kembali pencarian. Satu-satunya area yang terbesit dalam benak lelaki itu adalah bagian tenggara negeri ini. Tidak mungkin Eva berkeliling ria tanpa tujuan yang jelas, sekilas wanita itu pintar ditambah fakta soal dirinya adalah perwujudan atau reinkarnasi dari Reva memperkuat argumen Davian soal pola pikir wanita itu.


Ya meski Davian harus menelan keras pil pahit yang ia dapatkan. Entah salah tebakan atau apa yang pasti ketika Davian sampai di bagian tenggara tepatnya pegunungan merah lelaki itu tidak bisa menemukan secuil pun jejak keberadaan milik Eva. Sedikit pun!


Wanita itu seakan-akan menghilang dari peradaban dan tak pernah menapaki area manapun. Sial.


Davian ingin sekali menyangkalnya, tidak mungkin lelaki itu salah perkiraan kecuali kalau memang Eva tidak pernah menjejakkan kaki sedikit pun di daerah sana; cukup masuk akal. Lalu pertanyaan lainnya hadir, kemana gerangan sosok itu memilih untuk mengembara? Jawabannya 'tidak tahu!' Davian tidak tahu. Argh! Ini membingungkan sekaligus menyebalkan jika terlalu lama dipikirkan. Kemana lagi lelaki itu harus mencari?


Eva~


Haruskah dia menjadi pribadi sabar lalu menunggu sambil memperkirakan kemungkinan-kemungkinan lainnya yang mungkin saja muncul? Kurang sabar apa lagi Davian? Perlukah dia menjadi sosok alim baru bisa dipertemukan dengan kekasih nakalnya itu? Poor him—ini benar-benar menyedihkan.


Davian terpejam, rintikan hujan beraroma besi itu terlihat menerpa kulit wajahnya.


Sebelum udara semakin dingin; lelaki itu harus mencari tempat untuk meneduh tapi langkah kaki miliknya terasa berat, rasa putus asa sedikit menggerogoti hatinya. Dia kelelahan—tanpa sadar hidung lelaki itu mengalirkan darah. Davian membuka pelan kelopak mata, tangannya terangkat menyapu kasar darah tersebut lalu mengeratkan tudung jubah miliknya. Wajah Davian datar, dia menatap dingin sekitar sambil beranjak pergi dari sana lelaki itu tak henti-hentinya memikirkan wanita bernama Eva.


Tap!


Tap!


Tap!


Berlari diatas tanah keras, langkah kaki cepat Davian menggema dimana-mana. Bisingnya suara langit memperkeruh suasana, hujan semakin lebat. Jarak pandang lelaki itu mulai terbatas; dia harus cepat-cepat mencari tempat untuk meneduh—seperti goa contohnya. Namun sesuatu berhasil membuat sosok Davian menghentikan langkahnya, gerak kaki lelaki itu melambat dengan mata yang melotot lebar; tak percaya. Apa itu? batinnya penasaran tanpa terganggu sedikitpun oleh air hujan yang mendera.


Davian berjalan kesana, pikirannya melayang kemana-mana. Apa ini? Lagi-lagi lelaki itu membatin, tangannya terangkat menadah benda yang nyaris sekali jatuh keatas tanah. Ini seperti—


Kepingan kecil milik jiwa seseorang?


DEGH!


Dia tidak salah mengira; saat berhasil menangkap kepingan kecil berwarna terang yang melayang diantara tetesan hujan lelaki itu sudah bisa menebak bahwasanya itu adalah pecahan jiwa.


Milik siapa ini?!


Ini jelas-jelas sebuah jiwa! Jiwa manusia tepatnya.


Davian bergerak panik, hanya ada satu orang selain dirinya yang memiliki jiwa seperti itu—disini; siapa lagi kalau bukan wanita bernama Eva.


Pertanyaannya; kenapa kepingan jiwa milik wanita itu bisa bertebaran bebas dilangit?! Manis sekali, haruskah Davian berpikiran positif kalau wanita itu diserang lalu berakhir sekarat?


Haha! LUCU.


Tidak |

__ADS_1


Ada sesuatu yang janggal tengah terjadi dan Davian tidak tahu itu.


Kepingan jiwa menandakan satu kehidupan manusia, apabila benda itu pecah biasanya manusia akan kehilangan emosi mereka. Tapi jika dalam khasus terparahnya—kehancuran yang didapat jiwa lebih besar dari seharusnya kehidupan tersebut akan bergerak menuju kematian dengan sendirinya, hal ini menakutkan.


Tidak-tidak, Davian tidak bisa membayangkannya. Benarkah ini milik Eva? Milik wanita tersebut?


Belum sempat diberi kesempatan untuk membenah pikiran lelaki itu malah tersenyum kecut dibuatnya, karena apa? Ya, karena tak hanya satu-dua kepingan jiwa yang beterbangan melainkan puluhan bahkan ratus kepingan jiwa berseliweran diantara tetesan hujan.


Ha-ha.


TAP! TAPS—!!


Davian bergerak panik, sekuat tenaga ia menangkap semua pecahan yang berserakan dilangit, dada lelaki itu sesak; tiap satu pecahan menyetrum permukaan kulit tangannya.


Tidak—


Tidak mungkin Eva mati, tidak—lelaki itu tidak bisa berpikir jernih.


Ketakutan hingga bayangan kematian yang pernah dialami Reva memenuhi tiap rongga ingatan lelaki itu.


Sial! Sial! Seseorang?! Siapa saja tolong?! Beri penjelasan kepada Davian agar lelaki itu bisa kembali tenang.


Bugh!


Davian tersungkur. Dagunya menghantam keras permukaan tanah hingga berdarah.


Kepingan terakhir jatuh tepat didepan wajah lelaki itu. Manik Davian bergetar, matanya berair dan terasa pedas. Tangan lelaki itu menggenggam kuat kepingan yang berhasil ia dapatkan.


Kepingan itu pecah, menjadi bagian terkecil sebelum lenyap. Davian menggeleng kuat; dia merubah posisi menjadi duduk bersimpuh lalu memeluk erat kepingan tersebut sambil menangis keras.


Apa yang terjadi?


Apa yang terjadi?!


APA YANG TERJADI!!!


APA - YANG - TERJADI!!!!


BLAKS!


"Arhh!"


Davian meringis sakit, lelaki bermanik hazel itu menyayat lebar permukaan tangannya dengan belati hingga mengeluarkan darah. Dengan hati-hati ia membuat sebuah lukisan aneh diatas tanah dengan darahnya lalu meletakan kepingan jiwa yang masih tersisa sebelum lenyap sepenuhnya diatas lukisan aneh tersebut. Sambil merapalkan sesuatu Davian mencoba mempertahankan wujud kepingan jiwa tersebut namun tak bisa.


"Tch!"


Davian berdecih tak senang, kenapa! Air matanya bercampur hujan. Dia kembali menggambar ulang dengan darahnya lalu memulai ritual serupa tapi tak bisa. Ada reaksi penolakan, semakin Davian berusaha keras mempertahankan jiwa milik Eva semakin cepat proses menghilangnya kepingan jiwa tersebut dari dunia; seperti memaksa pecahan kaca agar bisa menyatu kembali dengan lem kertas. Hasilnya sia-sia.

__ADS_1


"ERGH!"


BRUGH!


Davian mengentakan tanah dengan tangannya, raut sedih bercampur marah. Dia tidak bisa memaksakan lebih jauh lagi atau Eva akan benar-benar lenyap dengan cepat dihadapan Davian.


Apa! Apa yang harus lelaki itu lakukan!


APA?!


"SIAL! SIAL! SIAL!"


Kenapa dia selalu tidak bisa bertindak dan berakhir mati kutu ditempat. Lelaki itu si jenius namun dia sangatlah naif dan bodoh, Davian menangis kesal. Matanya memperhatikan kepingan yang sebentar lagi akan lenyap namun didetik terakhir benda tersebut tidak jadi menguap.


"Ap-apa yan-g terjadi?" gumam Davian tak percaya. Dia mengambil 1 kepingan terakhir lalu meletakannya diatas telapak tangan.


Dia tidak mengerti, ada rasa syukur menyelinap kecil didalam hatinya namun lelaki itu jadi bisa berasumsi akan sesuatu.


"Ada yang bermain-main—dengan jiwa milik Eva." bisiknya pelan dengan raut muka mengerikan.


BADUM!


...____________________...


...K e p i n g a n...


...___________________...


...___________...


..._____...


..._...


...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Season 3 Part 1 Selesai....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih (sudah membaca sejauh ini)....


...Ketemu lagi nanti,...


...salam hangat Wenim....


...Sampai jumpai...

__ADS_1


...Bye Bye~...


...:3...


__ADS_2