Crazy Baby

Crazy Baby
Tamu Tak di Undang


__ADS_3

...Hai hai? W enim balik lagi nih... semoga ada beberapa yang masih setia menunggu kelanjutan cerita dari Crazy Baby ini....


...Buat kalian yang masih menetap dan menunggu, Enim ngucapin terima kasih banyak dan maaf karena beberapa minggu kemarin memilih hiatus....


...Baik tanpa berbasa-basi lagi, langsung saja—...


...Cerita bersifat fiksi atau karangan, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik tombol like, vote juga comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...___________________________...


...T a m u - T a k - d i U n d a n g...


...__________________________...


..._______________...


..._______...


..._...


Gabriel tersenyum miring, turun ke dunia memang memerlukan kekuatan lebih. Tapi lain cerita jika sosoknya mendapat undangan istimewa untuk hadir dan menyatu menjadi bagian dunia meski sebentar, akhirnya moment yang sangat Gabriel tunggu—itu datang. Sang menantu menyerukan nama demi sebuah kebenaran, dilihatnya sosok Davian dari balik tudung wajah yang menutupi setengah rupa makhluk tersebut.


"Apa yang ingin kau tahu hingga berani memanggil nama ku?" ucapnya berlagak lugu. Davian memandang dingin, beberapa detik lelaki itu terdiam seakan pikirannya kosong sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka mulutnya. Jujur Davian sedikit kikuk; ia bingung ingin berkata apa, tak tahu memulainya dari mana—hingga hanya satu kata yang berhasil lolos dari kerongkongan.


"Benarkah?"


Semua masa lalu dan rasa sakit yang di alami Reva, istrinya itu?


Pemerkosaan, penganiayaan, dan—?


Deg!


Anggukan Gabriel membuat seluruh rasa kemanusiaan Davian sirna. Mahkluk yang berada di depan hazel ini tak perlu banyak usaha, apa yang menjadi jawabannya adalah sebuah kebenaran dan nyata adanya. Gabriel tak berniat membohongi Davian tak ada untungnya juga jika dia melakukan hal tersebut. Davian yang membeku menampilkan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Benar-benar mengerikan, dia memandangi bangunan kota didepan matanya seakan-akan si hazel siap melahap mereka semua secara membabi buta. Meski tahu lokasi Josan yang menculik Reva berada dimana tapi tampaknya Davian perlu waktu sejenak sebelum menjemput istrinya itu.


Lelaki yang tak bertanya apa-apa lagi itu beranjak tanpa suara, Gabriel bahkan enggan berkata-kata. Biarkan sang menantu mencerna seluruh kenyataan dengan pemahamannya sendiri. Mau itu kemarahan, rasa jijik, kecewa, pengkhianatan ataupun sebuah kebencian; biar Davian yang menentukan karena hal ini akan menjadi tahap terakhir dari sebuah keputusan—pantaskah dia bersama gadis malang bernama Reva tersebut.


Hm? Entahlah.

__ADS_1


Dalam senyap Davian melangkah menjauh bersama dengan hilangnya wujud dari sang Gabriel. Makhluk yang perlahan memudar itu berbisik—


Semoga beruntung~


Sebelum keberadaannya lenyap seketika.


Si bungsu dari keluarga hazel—menyusuri pelan jalanan sebuah kota asing menuju satu tempat tujuan yaitu tempat istrinya berada. Reva.


...***...


"Argh..." lenguhan pelan terdengar.


Wujud Josan yang tengah termenung tampil apa adanya, dia menatap kosong pundak Reva dari jarak yang tak begitu jauh. Pundak mulus tanpa sehelai benang selain selimut menutupi tubuh gadis itu.


"Hah~" lagi-lagi lenguhan tak berarti bersama hela napas gusar keluar dari sela mulut lelaki itu. Josan masih naruh minat pada sosok Reva yang terlelap damai sebelum ia memilih berpaling muka. Pikiran lelaki itu sedikit kalut, meski keadaan mereka seperti ini; percaya lah Reva dan Josan tidak melakukan apapun—tepatnya belum melakukan apapun.


Ha-ha |


"Aku tidak tahu kau sangat menderita selama ini..." gumam Josan melucu seraya tertawa hambar. Entah dia baru sadar akan kejahatannya atau dia terlalu merasa kalau dirinya selalu benar sehingga menjadi buta selama ini apapun istilahnya; semua tetap sama saja. Josan bajingan. Hanya itu, cukup sederhana bukan?


Usai mendengar semua rangkaian kata penuh makian, kebencian serta cinta konyol diluar perkiraan dari Reva kegilaan Josan memudar, tangan-tangan nakalnya terhenti dari upaya menggagahi tubuh Reva; hingga akhir dari rentetan kisah ini adalah gadis berstatus mantan pacarnya Josan itu kelelahan lalu tertidur tepat diatas ranjang tanpa penjagan ketat—begitu lengah.


Seharusnya Reva lebih hati-hati lagi, kita tak tahu apa yang akan Josan lakukan nanti. Haha|


"Hah?!"


Josan menyeka kasar surai rambut miliknya yang menutupi pandangan mata. Kali ini lelaki setengah telanjang itu mengalihkan pandangan menuju ubin lantai. Banyak hal mengganggu pikiran Josan meski rasanya itu seperti dibuat-buat.


Haruskah aku kembali memperkosanya?


Agar kami bisa menikah.


Lalu hidup bersama selamanya,


Lagi pula Reva masih mencintai ku.


Tak akan jadi masalah bukan?


Otak mu yang bermasalah?! |


Entah datang dari mana pemikiran biadab itu, tapi begitulah dilema yang Josan rasakan. Meski dia tahu kalau Reva masih mencintainya tetap saja rasa benci gadis itu sedalam cinta miliknya. Sulit untuk di artikan, memang. Penggambaran hubungan mereka sedikit aneh dan gila; entah dalam konteks baik ataupun buruk. Berkhayal sesuka mu.


Walau Josan masih sedikit berharap kalau Reva mau memaafkannya. Memaafkan seluruh kegilaan—termasuk sikap biadab yang selama ini dia lakukan?

__ADS_1


Kau bercanda? |


"Apa mungkin?" gumam Josan, meski jawabannya jelas 'tidak mungkin'—bayangkan saja dia pernah memperkosa, melakukan penganiayaan, memanfaatkan koneksi keluarganya, memanipulasi orang tua Reva lalu menjatuhkan Reva secara mental meski gadis itu mampu bertahan hingga sekarang; orang gila mana yang mau memaafkan secara suka rela sebuah kejahatan? Haha ya... setidaknya Josan masih berharap dalam kemungkinan kecil itu.


Gerakan samar dari Reva yang berbalik badan membuat Josan kembali menoleh, sosok polosnya benar-benar manis dengan kening yang di tekuk—apa dia bermimpi buruk? Mungkin saja sekarang ini di alam mimpi Reva tengah dikejar sekawanan anak bebek. Membayangkannya saja lucu, akan lebih indah jikalau Josan ada di tengah-tengah mimpi itu. Tanpa sadar Josan mendekatkan wajah sambil berbisik kecil; entah apa yang di katakannya yang pasti setelah itu sebuah kecupan hangat mendarat lembut di permukaan kening Reva.


Cup~


"Aku ingin kau selalu disisi ku selamanya... Reva," bisik lelaki berstatus mantan kurang ajar dari Reva tersebut.


Aku mencintai mu.


Bersama pengakuan menjijikkan. Argh, ini menggelikan sungguh. |


Usai melakukan hal tersebut Josan akhirnya memilih untuk menjauh, kali ini dia beranjak dari tepi tempat tidur. Rencana lelaki itu saat ini adalah menuju kamar mandi, menuntaskan sesuatu yang dia kira tak akan bangun; kalian tahu sebuah insting liar dari para lelaki tapi langkah Josan malah tertahan, dia menelan kasar salivanya seraya menoleh pelan kearah pintu balkon. Menatap dalam tirai tipis berwarna transparan yang menutupi pintu balkon, benda itu bergoyang ringan di ikuti embusan angin.


"Sejak kapan itu terbuka?" gumamnya menaruh sedikit tanda tanya pada pintu balkon yang terbuka, angin dari luar masuk perlahan kedalam—membawa kain tipis itu menari-nari bersamanya.


Suasana jadi sedikit menegangkan.


Tap~


DEG!


Josan mendengar suara langkah perasaan merinding membelai tubuhnya. Sensasi yang sulit untuk dilupakan, meski baru beberapa kali merasakan sepertinya Josan familiar terhadap sensasi tersebut dan tanpa bersusah payah dia bisa menebaknya.


Tamu tak di undang rupanya, batin lelaki itu sambil menoleh cepat kearah lain—jelasnya menuju arah ranjang tempat Reva berada.


Dan benar saja. Sosok tamu tak di undang tersebut tengah berdiri beberapa meter dari Reva sambil melayangkan tatapan yang sulit di artikan. Dalam kesunyian Davian bungkam, lirikan matanya lalu bergerak pelan menuju arah mata Josan. Pria yang ditatap tersentak—kilat emas dari mata itu berubah menjadi kehitaman.


...***...


...Tbc......


...Jangan lupa like, vote, dan comments......


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti,...


...bye bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2