Crazy Baby

Crazy Baby
Haruskah?


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi / karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apa pun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Klik vote, like dan comments diakhir cerita; Sebagai wujud apresiasi terhadap karya orang lain....


...Terima kasih,...


...Selamat membaca....


...***...


..._______________________________________...


...H a r u s k a h ?...


..._______________________________________...


...________________________...


..._________________...


...____________...


...________...


..._____...


...__...


..._...


"Apa maksudmu? Nyawa seseorang?" Tanya Reva. Davian hanya mengangkat bahu—tanda tak tahu; hanya itu yang tertulis dinaskah kuno milik keluarganya. Bertanya pada kakek? Sepertinya lelaki tua itu lebih menyarankan untuk mempertahankan hubungan ini. Mengingat gadis disampingnya memiliki titikkan darah Gabriel, terlalu berharga dan sayang jika dibuang.


Masalahnya Davian tidak ingin terikat dengan manusia, terlebih lagi yang memiliki jenis darah serupa Gabriel. Itu saja.

__ADS_1


Reva melenguh lesu. Selalu saja, informasi setengah-setengah yang didapat. Rasanya percuma mengikuti Davian; sampai rela hujan-hujanan.


"Sebentar lagi..." tiba-tiba Reva mendengar Davian berbicara. Gadis itu kembali melirik sang pemilik hazel. Davian menyipitkan mata, Reva mengikuti arah pandang lelaki itu. Pola-pola yang dibuat Davian memunculkan seberkas cahaya redup. Reva seketika merasa seluruh gerakan pada sekitarnya terhenti.


Sensasinya sama seperti didalam ruang dimensi Davian, tapi gambaran nyata sekitar masih bertahan. Tidak ada kegelapan.


"Segel baru selesai dipasang..." Davian berucap. Ah~ jadi ini maksudnya dari pembaharuan itu.


"Apa fungsinya untuk mencegah kemunculan aura negatif?" Tanya Reva penasaran sekaligus mulai terbiasa dengan kehidupan barunya. Davian menggeleng.


Bukan? Dewi batin Reva bertanya-tanya.


"Tidak ada yang bisa mencegah kehadiran aura negatif selama manusia masih mempunyai nafsu didalam hatinya, segel ini dibuat untuk memperlambat pertumbuhan mereka sekaligus menahan supaya tidak keluar dan menyebar..."


Keluar?


Davian menoleh; membalas tatapan bingung Reva. Wajah gadis dengan manik kelam ini benar-benar menggelikan.


"Apa kau pernah mendengar tentang fenomena supranatural yang menghadirkan wujud mereka secara nyata?"


"Apa yang kau pikirkan—semua itu benar..." Davian menjawab tanpa diminta.


Benarkah? Beo Reva tanpa suara; gerakan bibirnya begitu tipis.


Davian tidak merespon lagi, Reva bisa mengambil kesimpulan bahwasanya itu semua benar. Akan jadi sebuah malapetaka nantinya.


"Oh yah—" Reva kembali menaruh minat pada Davian. Sang pemilik hazel itu membuka mulutnya.


"Orang tua ku ingin bertemu dengan mu..."


Hm?


Apa?!

__ADS_1


...***...


Reva menyisir surai miliknya. Pantulan bayangan diri terlihat, gadis itu tengah duduk dikursi meja rias. Seorang diri dengan gaun tidur. Gerakan pelan itu berhenti; Reva meletakan sisirnya disudut meja.


Kali ini Reva fokus menatap pantulan dirinya. Percakapan terakhir kali dengan Davian masih terngiang-ngiang dalam benak gadis itu.


Undangan untuk menghadiri sebuah jamuan makan malam keluarga. Reva diundang dengan dalih tersebut.


Pemilik kelam mengembuskan napas sejenak.


"Kau boleh menolak, jika tidak ingin..."


Pilihan yang diberikan Davian terdengar menggiurkan. Tapi rasanya sedikit kurang sopan menurut Reva.


Tak ada salahnya bukan jika dia memilih berdatang?


Paling-paling nantinya Davian akan menampilkan wajah jengah andalannya. Pft! Terdengar menarik. Haruskah Reva mencobanya?


Lelaki itu memang punya masalah dengan kepribadian yang dia punya. Sejauh ini rasanya Reva selalu menerima tindakan seenaknya dari Davian. Reva pikir mungkin ini patut dicoba.


Dia ingin balas menjahili pemilik hazel itu. Akankah seru seperti bayangannya?


Ataukah sebaliknya?


Entahlah~


...***...


...Tbc......


...Jangan lupa Vote, Like, & Comments -nya......


...Terima kasih,...

__ADS_1


...Bye...


...:3...


__ADS_2