
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
...__________________________________...
...T i d a k !...
...__________________________________...
..._________________________...
...________________...
..._________...
...____...
..._...
"TIDAK!" sangkal Davian kuat-kuat. Wajahnya memerah dengan napas tersengal; menatap tak terima Gabriel.
Jika Davian bisa melihat, mungkin dia akan menyaksikan Gabriel merotasi kedua bola matanya—tak habis pikir. Dasar bocah, komentar makhluk itu dalam hati; menanggapi sikap kekanak-kanakannya Davian.
Lalu apa alasan mu kesetanan ketika ada seseorang baik laki-laki ataupun perempuan yang menyentuh anak ku, Reva? Tidak mungkin hanya karena insting buas tanpa pemicu—ucap Gabriel menggantung. Davian ingin membuka suaranya tapi mulut lelaki itu tertahan saat mendengar kalimat selanjutnya dari Gabriel.
—memangnya kau H E W A N ?
Alhasil Davian menelan lagi mentah-mentah kalimat yang ingin diutarakannya. Lelaki bermanik hazel itu berhasil dibuat bungkam seribu bahasa.
Hah~
__ADS_1
Hela napas Gabriel.
Biar ku ulang kembali kata-kata ku, tuturnya pada Davian.
Aku akan membantu mu jika memang kau ingin berpisah dari anak ku. Jadi apa jawaban mu? Tanya Gabriel.
Davian menunduk, lelaki itu menggigit pipi bagian dalam wajahnya. Seharusnya dia bisa menjawab dengan lantang pertanyaan itu, tapi? Tapi kenapa—saat dia diberikan jalan pintas; hatinya hanya sedikit?
Ragu. |
Apa karena semua ucapan Gabriel yang tidak memiliki seinci pun kesalahan? Atau memang karena dirinya yang enggan; dalan artian berbeda.
Apa-apaan ini.
Menyetujui mu dengan anak ku juga bukan sesuatu yang benar, gumam Gabriel menarik minat Davian. Apa maksud makhluk didepan Davian ini?
Menyetujui? Restu 'kah?
"Apa yang tidak benar?" tanya Davian penasaran dan sedikit spontan usai memikirkannya dalam hitungan detik. Ada jeda diantara percakapan mereka sebelum Gabriel menyuarakan kata-katanya.
Deg!
Apa yang Davian tak boleh tahu? Apa yang disembunyikan makhluk bernama Gabriel ini darinya? Apakah berkaitan dengan Reva? Kenapa Davian tak boleh mengetahuinya?
Bukannya Davian adalah pasangan takdir Reva.
Dia suami Reva.
Lelaki itu punya hak untuk mengetahui.
Reva istrinya.
Reva 'kan miliknya?
Rahang Davian mengeras. Perasaan gelisah, marah, dan tidak terima muncul mencemari akal sehat pemilik hazel itu. Maniknya berubah kelam. Tajam menatap sang Gabriel.
__ADS_1
"Tidak," bisik Davian. Gabriel memiringkan kepala; tanda dia tengah kebingungan dengan ucapan menantunya.
Terlihat Davian dengan emosi labilnya mengepalkan kedua tangan.
"Tidak." bisiknya lagi.
"Aku dan Reva memang sudah ditakdirkan—" ujar Davian.
Meski tidak terlalu mengerti apa konteks percakapan ini, tapi sepertinya dapat diambil sedikit kesimpulan; kalau Davian saat ini tengah mengakui perasaan juga takdirnya.
Gabriel menyeringai. Cahaya lentera yang dibawanya menjadi terang. Perasaan menggebu muncul dihati makhluk tersebut. Tangan lainnya terangkat, menuju pipi Davian.
Ekspresi yang bagus, komentar Gabriel sambil meniupkan sesuatu. Bubuk-bubuk emas yang muncul entah dari mana berterbangan mengitari Davian lalu merambat kearea mata hazel itu dan tiba-tiba menyatu dengannya; dengan manik Davian.
"ARGH!" Davian meringis, mundur beberapa langkah dengan mata terpejam. Titikan darah hadir diantara kedua kelopak mata Davian.
"APA INI?!" tanya Davian marah. Lelaki itu membuka matanya, semua pandangan menjadi merah tapi hal mengejutkan terjadi pada manik hazel Davian.
Mata itu, berubah keemasan.
...***...
...TBC......
...Jangan lupa like, vote, & comments......
...(Semoga kalian suka)...
...Makasih......
...Jumpa lagi nanti......
...Bye...
...:3...
__ADS_1