
...Cerita ini hanya bersifat fiksi / karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik vote, like, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
...___________________________________...
...C a c a t...
...__________________________________...
...___________________...
...__________...
...____...
..._...
Reva menuruni taksi begitu selesai membayar, benda beroda empat itu kembali berjalan; menjauh—meninggalkan Reva tepat didepan rumah. Cahaya lampu terlihat disela jendela kaca tertutup gorden, Reva menghela napas. Beranjak dari sana menuju arah pintu diatas teras, dia harus menyambut tamu tidak diundang bernama Josan yang seenak jidat menyelinap masuk ke- kediaman Reva. Lagi.
__ADS_1
"Dari mana saja kau sayang, aku lelah menunggu~" kata-kata sambutan terdengar digendang telinga, padahal baru selangkah dirinya masuk kedalam rumah dan menutup pintu. Reva merotasi matanya; muak. Dia melihat Josan berdiri bersandar tak jauh dari tempat Reva berada.
"Kali ini apa mau mu Josan?" tanya Reva setengah menggeram. Terdengar kekehan dari mulut Josan, Reva rasanya ingin sekali melempar tas di bahunya ini tepat ke wajah lelaki itu.
Reva memilih melanjutkan langkah ketimbang mendengar tawa panjang tak berkesudahan Josan. Langkah kaki terdengar mengiring, Reva merasa kalau lelaki kurang waras itu mengikutinya. Arghh! Apa mau mu sebenarnya?! Reva berhenti, dia berbalik dengan manik nyalang bukan main. Josan yang melihat itu, mengembangkan senyum—selebar garis busur. Dia senang melihat ekspresi Reva, gadis itu jadi tambah manis dengan wajah marah.
Ergh!
Reva merinding, mendapati respon tak biasa lelaki dihadapannya. Entah apa isi pikiran Josan, Reva tak peduli dan tak mau tahu juga—tapi satu hal yang harus Reva tegaskan. Gadis itu menarik kerah baju Josan, membawa wajah lelaki itu cukup dekat dengan wajahnya.
"Jika kau menyuruhku kembali hanya karena ingin membahas pernikahan, jangan mimpi?! Aku tak akan pernah membiarkan ide konyolmu itu terwujud Josan! Camkan itu." bisik Reva sambil menyentak kuat kerah Josan.
Josan bersiul kecil tanpa suara seraya membenarkan kerah bajunya yang kusut. Reva kembali melangkahkan kaki menuju kamar, Josan mengikuti dengan gerakan mata. Sampai didepan pintu kamar—Josan barulah berucap sesuatu pada Reva.
Deg!
Tangan Reva mematung diudara ketika ingin menyentuh kenop pintu usai mendengar ucapan Josan. Manik hitam itu semakin kelam, dia menatap dingin daun pintu dihadapannya lalu berpindah menuju Josan. Pandangan mereka bersinggungan satu sama lain.
"Pergi dari sini," ujar Reva datar.
"Hehe..." sambut Josan dengan kekehan. Reva menyimpan kembali tangannya. Gadis itu berbalik, dikedua sisi tubuh terlihat tangan yang mengepal hingga buku-bukunya memutih.
"Kau pikir karena siapa aku jadi barang cacat?" gumam Reva. Matanya melotot lebar. Senyum licik hadir pada wajah pria bedebah ini, Josan menampilkan mimik berpikir dengan jari mengetuk kecil ujung dagu.
__ADS_1
"Siapa yah?"
"Hmmm? Ah! Itu AKU?!"
BRAK?!!!
Reva mengambil cepat bingkai foto diatas nakas; posisinya paling dekat dengan tubuh. Dilemparnya kearah Josan, dalam hitungan detik benda itu menghantam kuat dinding. Beruntung Josan berhasil menghindarinya. Lelaki itu menghela napas panjang, sikap agresif Reva kembali kambuh.
"Ku mohon, KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!" lengking Reva nyaring sambil menunjuk pintu keluar.
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote, & comments......
...Terima kasih,...
...Ketemu lagi nanti......
...Bye...
...:3...
__ADS_1