Crazy Baby

Crazy Baby
Adam (Side Story 8 Part 2)


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...___________________...


...A d a m...


...___________________...


...___________...


..._____...


..._...


"Lepas! Lepaskan! Lepaskan sialan! ADAM! LEPASKAN!" Berapa kali pun Eni berteriak, menendang, dan bergerak layaknya cacing kepanasan—tidak menyurutkan niat Adam membawa wanita itu dalam gendongannya; ala karung beras tentunya.


"Berisik sekali," keluh Adam pelan, merapalkan mantra pengikat pada mulut Eni agar benda kenyal itu terkunci. Akhirnya berhenti mengoceh. Merasakan mulutnya tidak bisa digerakkan Eni meronta kian kuat, semakin menggila. Sialan! Tak henti-hentinya dia merutuki kelakuan dari Adam.


LEPASKAN AKU BODOH!


"Arghhh?!!?!"


Gara-gara penghalang berlapis yang menutupi area sini Eni jadi tidak bisa menggunakan kekuatan miliknya. Sekarang Eni hanya terlihat seperti manusia biasa dimata Adam walau sedikit merepotkan karena dia tidak bisa diam.


Asal tahu saja, dada wanita itu dari tadi bergesekkan manja di belakang punggung Adam. Jika wanita ini tidak bisa diam untuk kedepannya lelaki dengan nafsu sebesar binatang seperti Adam ini mungkin tidak akan bisa menahan dirinya dan memilih menyerang tubuh Eni diatas tumpukan semak belukar, taman yang dulunya ditempati bunga-bunga cantik dandelion.


"Diam 'lah Eni..." ucap Adam seraya meremas kuat bagian belakang wanita itu. Eni tersentak, bisa-bisanya Adam meletakan tangannya diatas bokong wanita itu dengan sikap kurang ajar.


"ARGHH!"


Bugh! Bugh!


Wanita itu memukul-mukul punggung Adam dengan mata nyalang. Sebuah peringatan yang ia berikan pada Adam meski ujung-ujungnya akan lelaki itu abaikan.


Kediaman kosong dari Eni terlihat, Adam berjalan menuju teras. Ketika sampai disana lelaki itu dengan gamblangnya menurunkan tubuh Eni hingga menimbulkan suara keras. Agak kasar memang, Eni meringis kesakitan. Belum meredakan rasa sakit dibagian belakang wanita cantik itu malah dikejutkan oleh rantai aneh yang membelenggu kakinya.


"Apa-apaan ini Adam?!" Teriak Eni, tiba-tiba bisa bicara. Tak ada lagi rasa lengket yang menjahit bagian bibirnya, wanita itu bergerak ingin melepaskan rantai yang membelenggu kaki dengan semua mantra yang ia ketahui namun hasilnya nihil.


Semua usaha Eni gagal. Manik wanita itu bergerak gelisah, dia benar-benar mencoba untuk tenang tapi tak bisa.


Adam mendekat, deru napasnya terasa menyapu permukaan kulit Eni. Jantung wanita bermanik hazel itu berpacu kencang layaknya kuda, dia bergerak menghindar—menjauh semampunya dari tatapan intimidasi milik Adam.


Sial! Sial!


Eni takut.


Ia takut.


DIA BENAR-BENAR TAKUT!


Bayangan mengerikan muncul, silih berganti memenuhi ingatan wanita tersebut. Tubuh Eni bergetar. Dia merasakan kalau dirinya terpojok di antara dinding juga tubuh dari Adam.


"Ka-kau... kau mencuci—otak ku 'kkan?" Tanya Eni spontan saking takutnya, membuat Adam berhenti mendekati.


Lelaki itu terdiam, dari wajahnya terlihat kalau sosok itu tengah memikirkan sesuatu.


Beberapa detik kemudian mulut milik Adam terbuka, suaranya timbul dari celah bibir tersebut.


"Hebat~ sepertinya kau mengingat sesuatu Eni—"


"Sesuatu yang seharusnya tidak kau ingat. Ck... ck... ck... sayang sekali."

__ADS_1


Apa maksudnya?


...***...


Hentikan!


Hentikan!


Hentikan!


HENTIKAN!


Cukup?!


Aku tidak mau lagi! Berhenti!


Tidak?! Rasanya tidak enak!


Berhenti, berhenti menjejalkan aku dengan benda itu.


Adam.


"—rasanya tidak enak, hiks... hiks..." lirih Eni sedih, maniknya kosong. Jejak air mata terlihat disana, memenuhi bagian pipi cantik milik wanita itu.


Eni bersandar pada dinding, tangan dan kakinya dirantai oleh sesuatu yang Eni tidak tahu apa itu. Tepat didepannya terdapat sosok Adam, berjongkok dengan raut penasaran. Lelaki itu memangku sebelah wajahnya dengan tangan sambil bergumam—


"Kenapa tidak berpengaruh?" Komentarnya pada puluhan obat yang baru saja Adam masukan secara paksa ke mulut Eni hingga wanita itu tersedak lalu menangis. Heran.


Tak ber-efek.


Apa karena Eni berhasil mengingat kembali seluruh ingatannya, jadi pengaruh obat tersebut tidak berguna. Sepertinya begitu, karena obat dari ramuan mistis sangat jarang bisa mempengaruhi orang dua kali pasti orang tersebut berhasil membatalkannya, dalam tanda kutip ia sudah kebal.


Tch!


"Tidak berguna!" Desis Adam, melempar wadah kecil berisi sisa obat.


"Hufss~ ini benar-benar melelahkan." Keluh Adam. Eni melirik, wanita itu mencoba tetap sadar. Dia tidak boleh terpejam atau semuanya akan berakhir begitu saja.


"Se-sebenar—Nya, apa Alasann Mu? ME-laaakukan ini pada ku? Adam?"


Adam mendongak, senyum dangkalnya kembali terlihat. Lelaki itu dengan gampangnya berucap—


"Aku mencintai mu."


.


.


.


.


.


Apa kau tertarik padanya?


Kenapa kau selalu bersikap manja dan lengah?


Jawab.


Kenapa kau selalu terawa ketika melihat usahanya, mengejar cinta milik mu yang tak seberapa hingga jatuh diatas tumpukan lumpur?


"Kita adalah pasangan takdir,"


Hah? Benarkah itu? Sial, aku jadi tidak bisa melihat wajah imut milik Adam lagi ketika mengejar ku.


Haruskah aku menolaknya?

__ADS_1


"Tapi aku tidak menyukai mu."


Kita lihat, apakah belatung ini akan berubah menjadi kupu-kupu atau tetap menari diatas tumpukan bangkai.


BLAS!


"APA YANG KAU LAKUKAN ADAM!"


Bukannya ini yang kau mau? Usaha Adam dalam mengejar mu, hingga terendam oleh lautan darah yang ia ciptakan.


TIDAK!


"Bukti cinta kita."


Omong kosong! Peluklah kepala orang tua mu, ini adalah cinta. Kau yang mengubah lelaki itu menjadi seperti ini.


TIDAK! BUKAN AKU?!


Itulah karma mu, mengutuk seseorang yang tulus menyayangi diri mu.


Hanya karena cinta. |


DEGH!


"Ingat ini Eni, tak ada kutukan yang lebih mengerikan selain cinta. Jadi berhati-hatilah, jangan sembarangan membuat seseorang mencintai mu jika tidak ingin dikutuk oleh cinta itu sendiri."


"Bukannya kita tidak bisa mencegah hadirnya perasaan cinta?"


"Itu memang benar, selama kau yakin bisa menanggung beban dari cinta. Maka kau akan melihat indahnya dunia."


Tapi selalu ingat—


Jangan pernah permainkan cinta. Atau kau yang akan dipermainkan.


"Itu kutukan."


BADUM!


"Mimpi indah sayang?"


Eni menatap horor sekitar, sosok Adam menyambut penglihatannya. Keadaan remang-remang, Eni tahu betul saat ini mereka berada dimana. Kamar lama milik Adam ketika ia tinggal di kediaman Eni semasa kecil.


Rantai masih membelenggu kaki dan tangan wanita itu, bahkan Eni tak heran lagi saat tahu lelaki bermanik hazel disampinganya ini menanggalkan semua pakaiannya.


Tak kunjung mendapat jawaban yang ia inginkan membuat Adam gemas, lelaki itu bergerak mendekat lalu mencubit pelan pipi manis milik Eni.


"Apa yang kau pikirkan Eni?" Desisnya kesal mengalihkan perhatian Eni. Wanita itu melirik, lirih. Dia ingin menangis.


Maafkan aku Adam.


"Ti-tidak ada..." sahutnya gagap. Adam tersenyum. Senyum simpul yang benar-benar terasa menyebalkan.


Sungguh.


Karena telah mengutuk mu dengan cinta.


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti...


...Bye...

__ADS_1


...:3...


__ADS_2