Crazy Baby

Crazy Baby
Krak


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...__________________________________...


...K r a k...


...__________________________________...


...____________________...


...____________...


..._______...


...___...


..._...


BAHAHAHAHA!!!


Seringai Gabriel melebar, dia melihat intens Davian yang membalas tatapannya dengan manik keemasan; penuh wajah murka.


Aku tak mengira akan cocok! ucap makhluk itu girang. Tetesan darah masih mengalir dikedua mata Davian, sinting! Jeritnya dalam hati pada Gabriel.


Rasanya sakit, diarea mata seperti berdenyut ngilu.


"Apa yang kau lakukan GABRIEL!" sarkas Davian. Bola mata keemasannya bergetar.

__ADS_1


Anggap saja hadiah untuk mu—dari mamah? ujar Gabriel bernada polos. Sudut bibir Davian berkedut, hah? Wajahnya seperti berucap kalimat 'yang benar saja' pada Gabriel. Kata-kata tak masuk akal apa yang didengar oleh gendang telinga Davian barusan.


Tingkah mu benar-benar mengingatkan ku pada Tăbi, apa jangan-jangan kau reinkarnasi dia...


Monolog Gabriel sendiri yang dapat didengar Davian; meski semua kalimat Gabriel hanya menghasilkan tanda tanya, Davian masih saja mau mencernanya dalam otak sambil mengelap tetesan darah didekat mata.


Rasa berdenyut berangsur hilang digantikan sensasi janggal, penglihatan Davian mulai kembali normal walau sesekali terasa gatal.


Oh ya, menanggapi sikap mu barusan. Bukannya sisi lain jiwa mu menginginkan Reva?


"Tch!" Davian berdecih, kali ini dia tak menyangkalnya. Disangkal pun hanya akan sia-sia, Davian suka heran pada dirinya sendiri kenapa kadang-kadang dia selalu bersikap sensitif jika berurusan dengan masalah Reva.


Davian membuang pandangannya, wajah lelaki itu cemberut. Ingatan tentang Reva tiba-tiba terbesit dalam benak Davian. Rona merah muncul seketika. Wow, apa yang kau pikirkan Davian? Kenapa wajah mu serupa tomat?


Gabriel jadi ingin menggoda Davian jika begini. Lelaki yang kadang berjiwa labil didepannya ini ternyata lumayan juga, menggemaskan. Dia imut. Cocok untuk anak Gabriel yang kaku.


Entah kenapa aku jadi tidak ragu lagi, ucap Gabriel. Senang.


Alis Davian terangkat, apa yang tidak ragu? Tanya Dewi batinnya. Atmosfer terasa ringan tanpa mereka sadari.


Hm?


Bibir Davian merapat, matanya melebar. Sedikit tersentak, apa yang baru saja gendang telinga Davian tangkap. Tanpa sadar Davian malah mendekatkan diri menuju Gabriel.


"Kali ini, bisa kau jelaskan maksud ucapan mu?" pinta Davian baik-baik. Nadanya terdengar halus. Menatap dingin Gabriel.


Eh?


Sosok pembawa lentera itu terdiam, dirinya lumayan kaget. Apa yang Gabriel rasakan bukan sesuatu yang lucu, biasanya dia yang selalu memberikan sensasi ngeri pada orang-orang karena kehadirannya. Bukan sebaliknya; dibuat ngeri oleh tatapan dingin seorang manusia.


Aura gelap beraroma pekat, tekanan apa ini. Benar-benar busuk!


Apa yang ingin kau tahu? tanya Gabriel canggung seraya mengangkat tangannya menuju hidung, menghalau segala macam aroma tercemar disekitarnya.

__ADS_1


Manik Davian berkilat.


"Reva, aku ingin tahu... semua tentangnya, termasuk kejelasan kalimat mu barusan." bisik Davian bernada rendah.


.


.


.


.


.


Krak!!!


REVA!


Panik Gabriel. Kejadian berlangsung cepat; dalam hitungan detik lentera yang dibawa Gabriel sang penjaga padam. Davian mematung kala itu—seluruh pandangannya berubah gelap. Keadaan menjadi senyap.


Firasat buruk apa ini? batin lelaki itu menatap liar sekitar.


...***...


...Tbc......


...Jangan lupa like, vote, dan comments......


...(Semoga suka)...


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti......

__ADS_1


...Bye......


...:3...


__ADS_2