Crazy Baby

Crazy Baby
Side Story Zim 8


__ADS_3

...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...__________________...


...Z i m...


...__________________...


..._________...


...____...


..._...


"Apa?" Zim seolah terkejut saat mendengar serentetan cerita yang baru saja keluar dari mulut wanita didepannya. Vioner memiliki segudang kisah yang ingin dia bagikan pada Zim, entah kenapa laba-laba betina itu merasakan perasaan nyaman. Meski tidak sesedih dulu raut muka Vioner masih sarat akan makna, sesekali Zim memberi tepukan ringan di punggung laba-laba itu sebagai penyemangat.


Akhirnya, sedikit beban di pundak Vioner terangkat. Ada satu orang yang berada dipihaknya dan itu membuat Vioner senang, sampai-sampai kembali menitikkan air mata.


"Kalau begitu kita bertemu nanti malam, sampai jumpa~" ucap Zim hangat. Vioner mengangguk seraya melambaikan tangan.


"Sampai jumpa..." balasnya. Kedua orang yang berada diras berbeda itu lalu memilih untuk berpisah, Vioner masih berada di jam kerja jadi dia tidak diperkenankan untuk membolos akhirnya mereka sepakat. Seusai kerja Vioner akan mendatangi Zim disalah satu kedai makan. Hitung-hitung merekan akan makan malam bersama.


Setelah menghilangnya punggung serta suara langkah kaki lenyap, Zim berbalik—menantap dalam bangunan istana. Tiba-tiba terdengar hela napas berat, manik Zim berubah sayu dengan rona merah yang terasa janggal.


"Hah~"


Ada sesuatu dengan sosok itu.


Pasti beberapa sudah ada yang bisa menebak, tapi biar lebih mudah mari kita jabarkan—sebenarnya apa yang terjadi.


Zim menyadari kalau dia tidak akan mungkin bisa memiliki Vioner. Wanita itu terlalu buta terhadap cinta miliknya, entah disakiti berapa kalipun Vioner pasti akan memaafkan bajingan tersebut.


Merebut Vioner secara paksa seperti karakter lainnya sangat terdengar mustahil untuk Zim, dilihat sekilas laba-laba betina yang merupakan bagian dari anggota istana raja itu jauh lebih kuat dari Zim. Makhluk kelas atas, setara bangsawan dengan gelar yang sengaja diberikan. Bunuh diri jika Zim yang pengecut ini ingin mengontrol Vioner dengan kekerasan.


Satu-satunya yang dimiliki laba-laba itu hanyalah cinta.


Deg!


Zim terpikirkan sesuatu. Vioner akan selalu memperjuangkan segalanya demi cinta lalu bagaimana jika cinta tersebut yang mengkhianati dirinya?


Vioner itu tulus, berbeda dengan bajingan gila bergelar suami Vioner itu.


Satu-satunya hal yang dapat membuka kembali penglihatan Vioner adalah; buat dia menyaksikan langsung sesuatu yang tak pernah ia pikirkan. Suami Vioner selalu melakukan kekerasan tapi tidak ada catatan kalau dia pernah berhubungan dengan wanita lain.


"Cukup setia juga ternyata..."

__ADS_1


Hal ini dimanfaatkan oleh Zim, asal mendapatkan wanita yang sesuai selera—suami Vioner pastikan akan berpaling. Tinggal mengatur waktu yang pas agar Vioner sendiri yang memergoki suaminya lalu tersulut oleh api kemarahan.


Gerbang cinta pasti akan tertutup.


Lalu Zim akan membukanya kembali setelah membunuh bajingan tersebut, mental Vioner pasti ada didalam posisi yang tidak stabil. Buat dia mencintai mu secara perlahan adalah satu-satunya cara.


Tapi agar tidak menimbulkan kecurigaan, Zim rasa keberadaan dirinya akan sangat mencolok. Hal ini dikarenakan Zim pernah menyatakan cinta pada Vioner.


Dia harus pergi, yakinkan Vioner kalau dirinya benar-benar meninggalkan ibu kota ini.


Benar!


Buat catatan perjalanan palsu.


"Kau," panggil Zim pada salah seorang wanita penghibur malam.


"Apa kau cukup baik dalam menggoda seseorang?" Mata zamrud Zim berkilat, wanita itu mengangguk dengan bangganya.


"Tentu saja tuan~"


Zim menyeringai sadis.


"Goda seseorang untuk ku, akan ku bayar kau nanti..."


BUGH!


Kalau tidak salah namanya Tulio, batin Zim menilai seseorang yang baru saja ditendang keluar dari kediaman mewah.


Zim menyaksikan sosok tersebut tersungkur jatuh diatas permukaan tanah, macan kumbang yang mengintai dari kejauhan terkekeh senang.


Waktunya keluar dari area persembunyian. Pedang perak berkilat diantara remangnya keadaan, tawa sumbang Zim terdengar sampai kejauhan. Tulio berbalik panik, antara takut dan janggal. Kenapa si jala*ng ini menyeretnya kemari?!


Sampai sosok Tulio dikejutkan oleh kemunculan Zim dari dalam kegelapan, membawa pedang dengan senyuman konyol yang mengintimidasi.


"APA YANG KAU INGINKAN?!" Teriak Tulio panik.


Zim tersenyum, nyala dari warna zamrud tersebut benar-benar mengerikan.


"Kematian mu," ucapnya ringan, seringan kapas.


Selebihnya hanya di-isi-i oleh adegan sadis yang berhasil membuat para penonton mual. Bahkan wanita sewaan yang berada ditempat kejadian hanya mampu menunduk takut. Apa yang baru saja ia saksikan? Sial ini menakutkan.


"Maaf membuat mu menunggu lama..."


Deg!


Wanita itu tersentak, dia mendongak ragu. Wujud Zim sudah dipenuhi dengan darah dari Tulio, bahkan sosok itu hanya tersisa kepalanya saja. Wanita dewasa tersebut menelan salivanya kasar.


Glek!


Sial! Sepertinya aku salah berurusan dengan seseorang, rutuknya dalam hati.

__ADS_1


"Ini bayaran untuk mu, terima kasih telah membantu ku." Ucapnya ramah, wanita sewaan itu mengangguk; tanpa pikir panjang mengambil setumpuk uang dalam tas yang diberikan Zim. Dia harus angkat kaki dari sini sekarang juga atau hal buruk akan menimpanya. Tepat dilangkah ke-5 wanita itu Zim tiba-tiba memanggil.


"Sebentar nona,"


Deg!


Rasanya jantung wanita itu ingin melompat jatuh dari tempatnya berada. Dia berbalik ragu sambil menjawab—


"Ya?"


"Kau pernah dengar kabar berita akhir-akhir ini nona?" Tanya Zim, wanita itu menggeleng. Zim tertawa kecil menanggapi keluguan wanita tersebut.


"Ada khasus pembunuhan secara acak yang dilakukan oleh oknum tidak dikenali," terang Zim gantung. Wajah dari wanita itu pucat bukan main, dia pernah mendengar kabar tersebut—tapi karena lebih memfokuskan tugas miliknya wanita itu sampai-sampai mengabaikannya. Apa jangan-jangan pelaku pembunuhan berantai tersebut adalah Zim?


Melihat raut muka yang mudah sekali dibaca itu membuat Zim tergelitik. Dia menggeleng tak habis pikir.


"Bukan nona, aku bukan pelakunya..."


Lalu untuk apa kau membicarakan topik tersebut setelah kau dengan brutal membunuh seseorang beberapa detik yang lalu?!


"Tujuan ku cuma satu, yaitu membunuh bajingan biadab itu... tapi berkat khasus yang dilakukan oleh oknum tersebut, pembunuhan ku jadi akan lebih tersamarkan. Lalu aku juga tidak boleh meninggalkan jejak," bisik Zim. Tanpa sadar sosok itu melangkah kecil mendekati wanita sewaan tersebut, lututnya bergetar.


Apa yang coba kau katakan?! Jeritnya takut saat melihat Zim kembali mengangkat pedang penuh dengan tetesan darah.


"Kau mengerti bukan maksdu ku? Tidak boleh meninggalkan jejak sedikitpun, termasuk saksi mata—"


Jlep!


Dalam hitungan detik Zim menebas langsung leher wanita tersebut. Darah menyebar kemana-mana, membasahi rerumputan juga tubuh milik macan kumbang itu.


Zim mendongak. Langit-langit malam dengan awan tebal menurunkan tangisannya, dibawah hujan lebat Zim bersorak sorai penuh kegembiraan.


"Lagi..."


Sedikit lagi ini semua akan selesai.


Kau akan jadi milik ku—VIONER.


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...

__ADS_1


__ADS_2