
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________________...
...S i d e - S t o r y - A d a m - 2...
...___________________________...
..._______________...
...______...
..._...
"HAH?! Kau bercanda?! Apa maksud mu?! Hei Adam! Berhenti menghimpit ku?!" ucap Eni berupaya mendorong Adam tapi lelaki itu tak bergerak seincipun dari tempatnya. Membuat gadis didepan Adam itu mengembuskan napas kesal, mau tak mau dia kembali memanfaatkan kekuatan miliknya; mengubah tubuh menjadi tak bisa disentuh lalu menjauh dari Adam.
Menyadari rencana kabur Eni, cepat-cepat lelaki itu memindahkan tangan menuju leher gadis didepannya. Menghentikan proses transformasi Eni secara mendadak, napas Eni tercekak. Matanya melotot menatap nyalang atas tindakan kurang ajar Adam terhadap dirinya.
"ADA APA DENGAN MU ADAM?!" Kali ini bukan lagi kekesalan melainkan amarah, kilat mata Eni menyala terang meski tak seseram milik Adam—Eni masih merupakan bagian dari keluarga hazel apa-apaan tindakan kurang pantas yang dia dapatkan.
"Jika kau ingin bicara, bicara Adam. Aku tak mengerti! Jangan hanya diam lalu apa maksud dari ucapan mu barusan?! Kau cinta? Pada ku? Apa itu?!" desis Eni sambil menunjuk-nunjuk dada milik lelaki seumuran dengannya. Adam terlihat menghela napas pasrah, tiba-tiba saja dia jadi lelaki penurut—menjauhkan tubuh dari Eni, memberi ruang untuk gadis itu bernapas. Eni menghela napas lega, dia membenarkan ujung baju miliknya yang kusut akibat Adam.
"Cukup sederhana, sejujurnya aku menyukai mu ha-ha,"
Apa yang lucu? komentar Eni datar terhadap tawa hambar milik Adam. Baik, sepertinya cukup Eni saja yang menyimpulkan tentang situasi ini; pantas kalau lelaki itu bertingkah aneh ketika melihat reaksi Eni sebelumnya—seakan menolak pasangan takdir atau sejenisnya itu. Rupanya Adam kesal karena Eni menolaknya.
"Jadi kau ingin kita menikah? Seperti itu?" ujar Eni dengan sifat blak-blakkannya, Adam tersentak. Eni memang hebat dalam menyederhanakan satu perkara hingga terdengar mudah ditelinga Adam.
"Haha," Adam lagi-lagi tertawa hambar, lelaki itu sedikit bingung harus bereaksi seperti apa. Meski maksud lelaki itu sudah terlihat jelas tapi Adam masih kikuk untuk bersikap jujur. Ditambah Eni sepertinya meno—
__ADS_1
"Tidak terima kasih," sanggah Eni menghentikan lamunan Adam. Demi Tuhan dia baru saja berpikir kalau Eni akan menolaknya tapi siapa kira itu langsung diwujudkan dalam hitungan detik. Rasanya bagian dari hati Adam ada yang retak, ini menyesakkan.
"Kau juga bilangkan kalau kakek salah ucap, aku menganggap mu sebagai keluarga begitu juga dengan keluarga ku terhadap mu Adam. Meski kami bagian dari keluarga cabang kita tetap keluarga, tak lebih Adam." Ucapan Eni mematikan perasaan Adam, begitu banyak penekanan kata keluarga terhadapnya. Ya dia tahu mereka keluarga, tapi bukan berarti mereka tidak bisa bersama kan?!
Ingin sekali Adam memuntahkan kalimat miliknya—melayangkan penyangkalan terhadap ucapan Eni; gadis didepan sana tapi Adam memilih diam, menelan kembali kata-katanya sambil mengapalkan tangan.
Melihat reaksi membatu Adam, Eni merotasi kedua bola matanya. Tak habis pikir 'bagaimana bisa sepupunya itu tertarik hingga jatuh cinta padanya?' membuat frustrasi saja. Tangan Eni terangkat menyeka surai rambut yang menutupi pandangan, gadis itu lalu berucap.
"Jika kau berani, datangi orang tua ku dan minta restu dari mereka... jika mereka mengizinkan kita maka akan ku beri kesempatan pada mu Adam." ucap Eni memberi keputusan, dari pada ambil pusing memikirkan tingkah Adam lebih baik menyuruhnya langsung bertindak saja agar mengerti; karena keluarga Eni tak akan pernah menyetujui hubungan ini, tidak jika berkaitan dengan keluarga utama—begitu pikir Eni sebelum satu tragedi terjadi.
Siapa kira Adam akan jadi segila itu.
...***...
"Da-vi-an~" panggil Eni pada sepupu bungsunya, gadis itu hobi menggoda lelaki yang baru duduk di sekolah menang pertama itu. Terdengar Davian berdecih tak suka, waktunya kembali di ganggu oleh wanita aneh bernotabe sepupu ini.
"Enyah kau!" ucap Davian sarkas mengundang tawa brutal milik Eni. Usai tertawa gadis itu memilih duduk disamping Davian tepat di kediaman kakek mereka. Adam tidak terlihat beberapa hari belakangan, entah kemana perginya lelaki itu. Setelah percakapan terakhir mereka Eni bisa menebak kalau hilangnya Adam adalah dikarenakan dia mendapat penolakan dari keluarga Eni perihal hubungan atau pasangan takdir, sejenis itu.
Bersama dengan Davian Eni memandangi langit senja berwarna kemerahan, cantik meski sedikit menakutkan.
"Bau darah," ucap Davian tiba-tiba. Hal itu mengundang rasa penasaran Eni, apa maksud dari ucapan sepupu kecilnya itu? Darah? Apa ada yang terluka?
Eni ingin membuka mulut; bertanya pada Davian tapi sayang Eni malah di kejutkan oleh sesuatu yang tiba-tiba bersandar di bahunya.
Sebuah telapak tangan besar dengan aura gelap seseorang yang berada tepat dibelakang tubuh. Eni mendongak cepat lalu mata gadis itu bertabrakan dengan manik serupa milik Davian. Senyum simpul terpajang manis di wajahnya, ciri khas dari Adam—lelaki pendiam itu.
"Apa yang kau lakukan disitu Adam?! Kau mengejutkan ku!" keluh Eni, lagi-lagi terhadap sikap menyebalkan Adam yang baru-baru ini muncul. Lelaki itu malah tidak menanggapi ucapan sepupu manisnya melainkan ucapan dari adik bungsu yang berada tepat di samping Eni.
"Kau tidak boleh berkata kasar pada sepupu mu Davian," tegur Adam. Davian merotasi matanya muak, memilih diam—lelaki itu beranjak dari teras meninggalkan Adam bersama Eni seorang diri dibawah langit senja berwarna kemerahan serupa darah.
"Maafkan dia Eni, Davian cukup kasar untuk anak seusianya..."
Eni menggeleng tak habis pikir, gadis itu tak pernah mempermasalahkannya. Davian memang seperti itu tapi apa-apaan dengan sikap Adam kali ini, membuat merinding saja ditambah dengan eyes smile-nya.
"Oh ya, sudah lama kita tidak bertemu ya kan Eni?" ucap Adam memulai percakapan baru. Eni hanya menanggapi singkat ucapan Adam.
__ADS_1
"Ya, kemana saja kau?"
Lagi-lagi senyum simpul itu hadir.
"Beberapa urusan mendesak, tapi tenang aku sudah mengurusnya..."
"Owh ya, benarkah... bagus kalau begitu." tanggap Eni cuek. Sepertinya lebih baik Eni pulang berada dekat Adam membuat Eni tak nyaman. Belum beberapa langkah ingin menjauhi Adam, lelaki itu kembali memanggilnya.
"Eni?"
Eni berbalik.
"Ingat percakapan terakhir kita?"
"Iya?"
"Aku sudah mendapat restu untuk hubungan kita, jadi tak masalah jika kita menikah setelah lulus..."
Hah?
"Apa maksud mu?" beo Eni tak percaya. Wajah riang Adam membuat tubuh Eni meremang, atmosfer mengerikan apa ini?
Tanpa menunggu jawaban dari Adam Eni lebih memilih menghilang dari pandangan lelaki itu, berpindah tempat menuju kediaman keluarganya tapi apa yang dia lihat dengan kedua bola mata hazelnya membuat tubuh Eni luruh seketika dengan sorot wajah ngeri bukan kepalang.
"A, apa—? APA YANG KAU LAKUKAN ADAM!!!" jerit gadis itu histeris dengan ribuan air mata.
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, & comments......
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti......
__ADS_1
...Bye...
...:3...