
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...________________________...
...K a b u r...
..._________________________...
...________________...
...________...
...___...
..._...
"Argh?" erang Reva, gadis itu membuka paksa kedua kelopak matanya ketika cahaya terik menyengat permukaan wajah. Langit-langit ruangan yang tak asing menyambut penglihatan Reva; gadis itu pernah beberapa kali berkunjung kesini—tapi tidak untuk menginap.
Apartemen Josan. Pukul berapa ini? batin Reva. Gadis bermanik kelam itu menoleh, mencari-cari benda bulat dengan kumpulan angka yang biasanya menempel disudut dinding ruangan.
Delapan lewat seperempat menit, pantas saja matahari sudah membumbung tinggi dengan sinar cerahnya. Seminggu lebih Reva terperangkap dalam ruangan monokrom milik Josan, tanpa melakukan aktivitas selain makan dan tidur. Reva tahu Josan anak orang kaya, lelaki itu selalu bergelimang harta—minusnya Reva tak tahu kalau keluarga lelaki itu abai. Memerangkapkan gadis dalam sebuah kamar dianggap wajar. Ini nyaris serupa penculikan.
Setelah insiden penjembolan di gudang; tepat pada hari kelulusan, Reva diseret ke apartemen lelaki itu dalam keadaan pingsan. Gadis itu di larang berhubungan dengan orang luar, termasuk ibunya. Meski Josan menjawab kalau dia yang menangani semua itu; alhasil ibu Reva tidak melaporkan khasus orang hilang karena saking percayanya dia kepada mulut Josan yang penuh tipu daya. Haha.
Cklek~
Suara kenop pintu terbuka. Reva mengalihkan pandangan menuju arah Josan yang baru saja melangkah masuk, suit yang dia kenakan terlihat cocok menempel ditubuh pria itu. Sepertinya lelaki itu memutuskan masuk perusahaan yang dikelola oleh ayahnya.
"Selamat pagi sayang~" sapa Josan ramah. Reva membuang muka, memilih menatap pintu kaca balkon apartemen lantai 15—pemandangan kota tempat mereka tinggal terlihat indah.
Kalau terjun kesana... apa semua ini akan berakhir?
Omong kosong! Pintu balkon itu dilapisi tralis yang di kunci rapat.
"Hah..."
"Kau menghela napas lagi..." ucap Josan, melangkah mendekati Reva. Lelaki itu duduk di bibir ranjang.
"Bukan urusan mu sialan," desis Reva mengundang tawa renyah milik Josan.
"Baiklah-baiklah... maafkan aku sayang,"
Untuk apa kau minta maaf?
"Aku berangkat dulu sayang~"
Pergi ke neraka sana!
Reva memicingkan kedua mata usai mendapat salam perpisahan pagi seperti biasa; menatap setiap langkah kaki yang berjalan menjauhinya. Sosok Josan hilang tertelan daun pintu ketika benda itu tertutup pelan. Akhirnya bisa bernapas lega. Reva memejamkan kembali kedua mata, meresapi kedamaian sementara.
Hanyut dalam kesunyian, entah sudah berapa lama. Pikiran Reva berubah kalut.
Aku ingin keluar, aku ingin bebas, aku ingin—LEPAS! LEPAS DARI PENJARA MENGERIKAN INI!
Dengan cepat gadis bermanik kelam itu membuka kelopak matanya. Langit-langit ruangan yang masih sama menyambut penglihatan Reva. Gadis itu melirik, nampan berisi sarapan pagi terlihat di atas nakas. Tapi pandangan Reva tidak tertuju pada kumpulan benda penggugah selera itu, tepatnya mata kelam milik Reva terarah pada sesuatu berbentuk persegi juga berbahan kulit.
Dompet. Itu dompet Josan?!
Reva mengubah posisi, menyambar benda itu dengan tangan kanannya. Nampan yang berada tak jauh dari dompet tersenggol alhasil seluruh nampan beserta isinya jatuh membentur permukaan lantai.
__ADS_1
Prak!
Acuh tak acuh Reva membuka dompet Josan, jarang-jarang lelaki itu tertinggal barang mengingat betapa disiplinnya orang itu. Kartu kredit, ATM, dan beberapa kartu penting juga uang tunai berada didalamnya.
Lelaki itu pasti tengah buru-buru, asumsi Reva—mencoba menebak situasi apa yang sedang terjadi. Pandangan Reva lalu beralih menuju pintu kamar.
Deg... deg... deg...
Reva menggigit pipi bagian dalam, gadis itu menurun kan kaki dari ranjang—tempatnya duduk. Beberapa pecahan kaca menggores kaki Reva tapi tampaknya gadis itu mencoba tak peduli, dia ingin menguji keberuntungan. Dengan jantung yang berdebar kuat, gadis itu melangkah mendekati satu-satunya akses keluar masuk kamar ini.
Sisa sejengkal, Reva sudah berhadapan dengan daun pintu. Tangannya terangkat menuju kenop; pelan gadis itu membuka, hasil yang ia dapat adalah–t e r b u k a .
Brak!
Reva membuka lebar daun pintu hingga benda itu membentur keras dinding disampingnya. Gadis yang hanya menggunakan dress tipis berwarna putih itu ingin terkekeh nyaring, dengan membawa dompet milik Josan ditangan kirinya. Dia berjalan keluar, jalur menuju ruang tamu serta dapur terlihat.
Dengan mata cerah, Reva melangkah cepat kearah ruang tamu. Jejak kaki dengan warna merah terlihat di permukaan jalan yang dilalui Reva. Kali ini Reva mencoba menebak seperti tadi begitu melihat daun pintu apartemen. Dia berharap lelaki itu tidak menguncinya.
Klak!
Warna raut wajah Reva berubah pucat, daun pintu apartemen ini terkunci. Reva menelan pil pahit, gadis itu merosot jatuh tepat didepan pintu.
Sial. Sial. SIAL!
Rutuknya pada ketidak beruntungan.
Manik kelam itu perlahan berkaca-kaca, rasanya panas. Reva seperti putus asa. Otak gadis itu buntu, dia ingin keluar dari sini—dia ingin pergi dari sini; menjauh seribu langkah dari keberadaan lelaki bernama Josan.
Ting nung~
Deg!
Reva tersentak, cepat-cepat dia mendongak. Suara yang didengar oleh telinganya menggema dalam ruangan. Gadis itu berdiri, menilik dari lubang intip di tengah pintu apartemen. Bentuknya bulat kecil berlapis kaca.
"Permisi? Kami dari penghuni baru apartemen sebelah..." ucap wanita itu. Reva tak tahu urusan mereka apa, tapi ini sebuah kesempatan. Gadis bermanik kelam itu berbalik, mencari sebuah pulpen serta kertas di ruangan itu.
"Mungkin kah tidak ada orang?" terdengar suara lelaki menyahuti. Reva gugup, matanya menangkap selembar kertas didekat meja ruang tamu beserta pulpen.
"Lebih baik kita langsung ke pengurus apartemen saja..." keluh lelaki itu lagi. Reva mengambil juga menuliskan sesuatu didalam selembar kertas, sebelum kedua pasangan itu memilih beranjak Reva menyelipkan benda itu disela bawah pintu.
Ku harap mereka melihat ini! Ku mohon!
"Tunggu Liam! Apa ini?"
Hah~
Reva menghela napas lega, sepertinya wanita itu melihatnya. Kembali Reva menilik di lubang intip yang berada dipintu, wanita itu mengambil secerik kertas. Dia membacanya—
Bisa tolong aku?
"Aku tidak sengaja menjatuhkan key card di balkon, suami ku sedang tidak ada di tempat... Jadi aku terkunci disini."
Meski terdengar menjijikan; mengakui Josan sebagai suami—Reva tak punya alasan lain selain itu. Tak mungkin kan dia bilang kalau 'aku di culik! Tolong selamatkan aku!' yang ada mereka tidak ingin terlibat, apa lagi pada sesuatu yang mungkin saja melibatkan nyawa mereka. Kehidupan sekarang ini memang menyedihkan, ha-ha |
"Benarkah?!" tanya lelaki yang tidak salah dengar bernama Liam—lantang. Reva membuka mulutnya, berucap nyaring supaya bisa terdengar.
"Iya! Bisa tolong kalian panggil pengurus apartemen untuk meminjamkan aku kunci cadangan? Ku mohon."
Mereka terlihat berdiskusi satu sama lain.
"Ya sepertinya kita tidak punya pilihan selain menghubungi pihak pengurus apartemen, kebetulan kami juga memiliki masalah pada bagian kunci apartemen..." Kira-kira seperti itu yang bisa Reva pahami. Gadis bermanik kelam itu mengangguk.
"Terima kasih!"
...***...
__ADS_1
Tring! Tring!
Alis Josan terangkat, menatap bingung benda pipih bercahaya disudut meja kerja miliknya. Nomor tak dikenal, memilih berhenti melakukan aktivitas—lelaki itu menekan tanda terima panggilan.
Brak!
"APA?!" Josan terkejut, lelaki itu spontan berdiri sambil menggebrak meja. Wajahnya berubah pucat, tanpa peduli keadaan sekitar; lelaki itu bergegas beranjak dari sana. Beberapa pasang mata curi-curi pandang kearah Josan ketika ia berlari disepanjang koridor perusahan. Tiba-tiba dering telepon kembali terdengar, Josan melirik sebentar kearah nama yang melakukan panggilan.
Tap...
Tap...
Tap...
Langkah kaki Josan melambat, lelaki itu mengangkat panggilan tersebut.
"Ayah!" serunya cepat saat sambungan telepon terhubung. Terdengar deru napas lelah dari pria tua diseberang sana.
Josan ingin meminta tolong, dia harus melacak keberadaan Reva yang entah bagaimana bisa kabur dari apartemen miliknya tapi sayang sebelum kalimat itu bisa terucap ayah Josan sudah memotong dengan kata-kata menusuk.
"Apa yang kau lakukan dengan uang sebanyak itu? Pesta?" ucap ayahnya pedas. Josan menelan ludah, otaknya mencerna cepat maksud perkataan pria tua itu.
"Sial?!"
.
.
.
.
.
Sebuah sandiwara, terperangkap dalam apartemen sendiri lalu melakukan penarikan uang dalam jumlah besar di daerah cafe kota. Saat ditelusuri jejak gadis itu menghilang, ditemukan patahan kartu ATM beserta dompet di tepi jalan dekat taman; arah sebaliknya. Meski rencana ini terkesan dibuat dadakan, cukup rapi dan diluar ekspektasi—mengagumkan.
Josan menggigit geram bibir bagian bawahnya. Dia benar-benar dibuat tampil konyol. Reva hilang entah kemana. Baru saja dia menghubungi ibu Reva, tapi jawaban luar biasa yang didengar oleh telinganya membuat mulut itu membisu. Josan pikir Reva akan merengek kepada ibunya, lalu menceritakan sebuah kisah sambil menangis tersedu-sedu tapi—
"—kabur. Studi? Luar negeri? Jangan bercanda! AKU AKAN MENANGKAP MU! TUNGGU SAJA?!"
REVA!!!!!!!!!!
DEG!
"ARGHHHH!?!"
BRAK!
"Reva?!"
Davi–an?
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote, dan comments......
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti......
...Bye...
...:3...
__ADS_1