
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...__________________________...
...S e m p u r n a...
...__________________________...
..._______________...
...______...
..._...
Benar-benar cerah, Davian membuka kelopak matanya ketika mentari pagi menyetrum kecil permukaan kulit wajah lelaki itu.
"Hoammp~" Sambil merubah posisi tidur menjadi setengah duduk Davian menguap besar, sesekali tangan dengan permukaan kasar itu mengucek pelan sudut matanya.
Jam berapa ini? batin Davian, berusaha keras untuk menyadarkan diri dari rasa kantuk. Lelaki itu menoleh—wujud Reva yang masih terlelap didekat tubuhnya tampil; menyambut pagi Davian.
Awalnya pemilik hazel itu tidak bereaksi apapun ketika melihat Reva tapi tiba-tiba wajah lugu khas bangun pagi berubah drastis saat otaknya mengingat sebuah kejadian panas antara dia dengan Reva.
__ADS_1
Blush~
Lagi-lagi Davian merona, cepat dia menutupi wajah merah dengan kedua telapak tangan. Ya ampun! Ya ampun?! Apa itu sungguhan?! Jerit dewi batin lelaki itu. Adegan ciuman panas dengan belaian lembut dari Reva membuat Davian meremang, di tambah lagi lidah mereka yang bertautan satu sama lain hingga menciptakan benang tipis saliva yang tercampur.
Ehe?!
Davian senang.
Dia terus-menerus-an mengingat seluruh moment sampai ke-detail terkecil yang bisa si hazel itu ingat. Ciuman mereka cukup panjang juga lama, hampir dilakukan sebelum jarum tengah malam berbunyi nyaring; sebagai alarm tidur untuk kedua muda-mudi itu atau mereka akan melakukan lebih—tepatnya Davian yang mungkin lepas kendali. Haha.
Davian, lelaki itu masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil terkikik geli. Ah~ jantungnya berdetak tak karuan seakan mereka tengah melakukan pesta perayaan untuk Davian. Meski sayang, tawa renyah itu berubah perlahan menjadi kekehan sumbang. Pemilik hazel melirik dari sela jemari tangan, ditatapnya lekat sosok Reva.
Seringai aneh hadir di sudut bibir Davian.
Manik lelaki itu menyala terang, seperti hewan buas yang mengunci mangsa-nya ditengah perburuan. Davian menurunkan kedua tangan yang menutupi pandangan. Bola mata hazelnya bergetar, Davian menyoroti dari ujung kepala hingga kaki Reva dengan wajah memerah; bukan rona tersipu malu melainkan ekspresi sesak—menahan sesuatu.
Sudut bibir lelaki itu semakin terangkat naik. Dia benar-benar senang, ribuan kupu-kupu seperti menggelitik dalam bagian perutnya. Davian membuka pelan suara—
"Akhirnya sempurna..." bisiknya serak.
...***...
"Jam berapa ini Davian?" tanya Reva setelah lama termenung menatap langit-langit ruangan. Gadis itu baru saja membuka kelopak matanya 2 menit lalu, lelaki yang duduk menyandari kepala ranjang dengan buku ditangannya itu melirik.
"Delapan lewat 15 menit," sahut Davian. Reva ingin terkejut tapi tubuh gadis itu terlalu lemah, susah payah ia merubah posisi berbaring diatas ranjang menjadi duduk dipinggiran. Telapak kaki Reva menyentuh pelan permukaan lantai yang masih dingin, gadis itu bergumam pelan pada Davian.
"Cepat mandi, kita ada kelas pagi ini..."
__ADS_1
Davian tersentak horor, wajahnya menampilkan tulisan 'YANG BENAR SAJA?!' kearah Reva. Gadis itu abai; memilih merotasi kedua matanya sambil mencoba berdiri.
Kenapa kepala ku terasa pening? batin Reva penasaran tapi tiba-tiba tubuhnya terhuyung kedepan.
Mata Reva membola, otak gadis itu pikir keningnya akan membentur keras permukaan lantai tapi yang ia dapat adalah sebuah dekapan hangat di area pinggang. Reva menoleh cepat, Davian menghela napas lega.
Hug~
"Hah... Kau baik-baik saja?" tanya Davian.
Reva memasrah diri, gadis bermanik kelam itu memejamkan kedua mata sambil bersandar pada Davian.
"Entahlah, rasanya sedikit pusing..." bisik Reva bernada lemas.
"Benarkah?"
...***...
...T b c ......
...Jangan lupa like, vote, & comments......
...Terima kasih,...
...bye...
...:3...
__ADS_1