
"Lama tidak bertemu..." sapa Davian canggung. Reva terkekeh, dia meletakan cup berisi coklat panas ditangannya. Wanita itu menatap datar pemandangan anak-anak yang tengah bermain tepat didepan mata.
"Mereka masih bisa terlihat ceria dengan senyuman lebar," tutur Reva mengabaikan sapaan Davian. Lebih dari 15 tahun rasanya, ini adalah pertemuan perdana mereka setelah sekian lama.
"Bagaimana kabar istri mu Davian?" Tanya Reva tiba-tiba. Davian menunduk, menatap dalam ujung sepatu yang ia kenakan sebelum berucap.
"Tubuhnya masih saja lemah tapi dia baik-baik saja."
"Senang mendengarnya,"
Terjadi keheningan panjang, pendengaran masing-masing telinga mereka hanya diisi-i oleh gelak tawa anak-anak yang asik bermain ditaman khusus rumah sakit anak.
"Kalau tidak salah dengar, kau menceritakan kisah yang lumayan menarik tadi. Berisi tentang diri ku yang menjadi karakter jahat lalu menghancurkan kehidupan seseorang."
Hehe.
Davian tersenyum canggung, sial.
Melihat itu Reva tertawa, tangannya terangkat menuju bahu lalu memukul pelan lelaki disampingnya ini.
"Bersikaplah berani! Kau sudah memiliki seorang putri tapi ku mohon. Berhenti mengarang cerita tak masuk akal dan membuat ku harus berperan aktif dalam fantasi liar mu, kau bahkan bukan pengarang novel kau tahu." ucap Reva tajam. Davian meringis, ia hanya mampu menanggapi seadaanya sikap wanita itu.
Tapi?
"Tumben sekali kau mengunjungi rumah sakit anak?" Tanya Reva.
__ADS_1
"Hanya melakukan pemeriksaan kesehatan tapi karena dia takut ketika melihat perawat aku jadi menceritakan sebuah kisah tak masuk akal padanya," kekeh Davian. Dari kejauhan terlihat sosok sang putri melambaikan tangan tinggi kearah Davian; menunjukan bahwa dirinya sudah selesai melakukan pemeriksaan.
Benarkah?
"Lalu tumben sekali kau—" tanya Davian tertahan, ketika ia menoleh dan mendapati sosok Reva telah lama pergi. Davian terdiam lalu tersenyum masam.
Apa yang sedang kau lakukan Davian? Ish! |
Dia mendengus lalu berdiri dari duduknya bergerak menghampiri sang putri. Bocah kecil itu menggandeng tangan Davian, dia menatap sejenak—penasaran kearah bangku; bekas sang ayah duduk.
"Ayo pulang~" ajak Davian. Sang putri mengangguk.
"Dadah bibi!" Serunya pelan disambut hangat oleh sosok Reva. Dengan gerakan halus wanita itu mengangkat tangannya ke bibir lalu—
Pstt!
Okay?
...______________...
...E p i l o g...
...______________...
..._______...
__ADS_1
...___...
..._...
...Davian & Reva Selesai...
...Jangan lupa like, vote, comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
Catatan Singkat: (GAK PENTING WKWKWK)
Tak terasa semuanya sudah berlalu dengan cepat, bahkan tidak mengira akan sampai pada titik ini. Memang sedikit melelahkan namun itu cukup menyenangkan ketika dicoba. Cerita bergenre romansa fantasi memang bukan bidang keahlian ku tapi berhasil menulis hingga lebih dari seratus ribu kata patut untuk di banggakan. Ada juga beberapa yang meminta ku untuk berhenti tapi seperti efek kecanduan (walau berat) aku masih memiliki minat untuk menuangkan hal tersebut didalam ketikkan. Motivasi agar tidak lelah? Entahlah, aku hanya mencoba sebisa ku untuk terus bertahan. Ditambah meski sepi peminat aku tetap semamgat, karena anak-anak (karakter dalam cerita ku) perlu akhir kisah mereka masing-masing. Haha, sebenarnya seluruh basa-basi ini ku lakukan karena sekadar ingin mengucapkan TERIMA KASIH pada kalian semua.
Yang mengikuti setiap langkah cerita, yang memberi dukungan sederhana. Aku—Enim sangat-sangat berterima kasih kepada kalian semua. Semoga hari kalian menyenangkan, tetap semangat dan jangan lupa terus tersenyum.
Ketemu lagi di lain kesempatan.
__ADS_1
Sampai jumpa.