
"REVA! APA YANG TERJADI DENGAN MU?!" pekik Kian panik saat melihat tubuh sahabat lamanya tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri. Wanita dengan mahkota di kepalanya itu menyeret tubuh Eva ketepiaan sungai, Kian membaringkan Eva tepat diatas pangkuan.
Wanita ini benar-benar ingin tahu tapi penglihatan yang di miliki Kian sangatlah terbatas. Dia hanya bisa melihat warna jiwa seseorang tidak lebih karena raja Demon sudah menguncinya.
Sial! Sial! Tak henti-henti dia merutuki lelaki besar bertanduk mengerikan yang selalu mengaku suaminya itu, bahkan berani menculik Kian dan membawa wanita itu ke dunia lain yang sangat berbeda.
"Tunggu aku Reva, aku akan meminta pertolongan!" Ucap Kian tegas. Wanita itu lalu mendongak, dia menatap langit merah sewarna darah.
"SEBASTIAN! AKU DISINI!" Panggil Kian nyaring, tiba-tiba saja sesuatu melesat dari arah langit—jatuh tak jauh dari tempat Kian berada. Bentuknya seperti burung namun juga setengah singa; dia memberikan tatapan dalam pada sosok Kian sebelum memilih merubah bentuk layaknya manusia.
Pakaian yang dikenakan persis seperti setelan jas pelayan, ada kacamata kecil bertengger manis di hidungnya. Sosok itu setengah membungkuk; seperti memberi sebuah penghormatan. Lelaki yang dipanggil dengan sebutan Sebastian itu lalu mendongak, bibirnya tersenyum sampul—sambil berkata kepada sang Kian.
"Yes, Ratu dari seluruh negeri—"
"Ada yang bisa saya bantu?"
...***...
Ratu! Ratu kembali! Ratu telah pulang!
Hanya itu yang menjadi buah bibir di penjuru istana; saat tahu kalau Kian telah kembali bersama pelayan setia dari raja Demon—Sebastian. Makhluk besar yang selalu duduk malas diatas singgah sananya beranjak, meski wajah monsternya cukup mengerikan tapi jika sekilas dilihat ada raut kerinduan yang tertancap disana. Elliot; berjalan dengan langkah terburu-buru menuju luar istana tepatnya mendatangi tempat Kian berada.
Saat punggung wanita itu terlihat dari kejauhan, Elliot berlari dengan ke 4 kakinya lalu melompat tinggi sebelum merubah bentuk menjadi persis seperti manusia agar bisa memeluk tubuh manis milik Kian. Wanita yang mendapat serangan mendadak itu terkejut, dia menatap kesal kearah Elliot dengan mulut mendesis.
"Lepas sialan! Enyah kau!" Kian mengempaskan pelukan hangat dari Elliot, membuat sang raja Demon meringkuk sedih.
Dia mengubah raut muka menjadi masam dengan bibir maju, hal ini membuat Kian merotasi kedua matanya muak. Wanita itu menyilangkan tangan sambil berdecih kesal. Fenomena ini tak luput dari penglihatan Sebastian yang hanya bisa jadi penonton sambil menggendong tubuh tak sadarkan diri milik Eva.
"Berhenti memasang poster buronan dipenjuru negeri Ey! Aku hanya keluar beberapa hari dan kau sudah membuat keributan tidak bermanfaat seperti ini." Ucap Kian sambil menegur keras sikap raja Demon yang kekanakan-kanakan. Elliot mendengus kecil, dia menatap tak percaya kearah Kian dengan manik berkaca-kaca.
"Jika tidak begitu kau akan kabur lebih jauh lagi."
__ADS_1
Sudah merenggut penglihatan milik Kian lalu sekarang ingin membatasi ruang gerak wanita itu. Memang dasar bajingan, tunggu saja suatu hari nanti Kian akan berhasil keluar dari tempat menjijikan ini.
"Lihat, wajah mu bahkan menunjukan niat untuk kabur lagi."
Kian melirik, tidak salah sih tapi persetan. Memang siapa yang akan betah tinggal di negeri penuh para monster seperti ini? Bahkan cara Kian kesini saja tidak normal, Elliot yang menculiknya!
Makhluk itu gila! GILA!
Dia berkoar-koar soal takdir, cinta yang sudah ditentukan. Kita adalah pasangan dan bla bla bla lainnya yang berhasil membuat Kian muak, jika bisa wanita itu ingin sekali meninju wajah menyebalkan Elliot.
Atau dia sudah meninju wajahnya beberapa kali? Hah! Abaikan. Kian berkacak pinggang, dia memilih kembali karena ingin meminta pertolongan kepada makhluk itu—tepatnya karena Kian tidak mengenal siapapun didunia ini selain mereka jadi mau tak mau wanita itu meminta tolong pada Elliot. Meski rasanya tak sudi.
"Sebastian kemari..." pinta Kian. Lelaki berpakaian rapi tersebut mengangguk dia maju beberapa langkah, mata Elliot yang sebelumnya fokus kearah Kian teralihkan. Dia cukup bingung ketika bersinggungan dengan objek asing ditangan pelayan setianya.
"Manusia, penyusup 'kah?" Tanya Elliot tanpa sadar, tangan lelaki itu ingin menyentuh pipi Eva tapi tertahan saat Kian melarangnya.
"Jangan berani-berani meletakan tangan kotor mu diwajah teman ku!"
Nyali Elliot menciut, dia menyimpan kembali tangan kesisi lain tubuh. Dari kalimat yang dilontarkan Kian ada baris kata yang lumayan menarik; teman ku? Lelaki itu menoleh penasaran. Dia perlu Kian menjelaskan situasi apa ini dan bagaimana bisa ada manusia lain di dunia bawah. Seingat Elliot akses keluar masuk antara dunia manusia dan dunia bawah dijaga ketat tidak mungkin makhluk rapuh seperti manusia biasa bisa masuk begitu saja kecuali dia keturunan dari mata Tâbi.
Sejujurnya Elliot ingin protes, bagaimana bisa Kian bermain-main ke tenggara seorang diri. Jelas-jelas wanita itu ingin kabur tapi dikarenakan melihat raut muka penuh kekhawatiran Elliot mengurungkan niatnya dan memilih menunggu Kian untuk menyelesaikan kalimat miliknya.
"Jadi Ey cari tahu kenapa Reva bisa pingsan lalu sembuhkan dia." Dari sekian banyaknya percakapan yang pernah mereka lakukan mungkin hanya kalimat ini yang tulus di ucapkan oleh Kian pada Elliot. Karena tidak ingin di cap sebagai suami yang tidak kompeten, Elliot mengangguk ya meski begitu dia mengajukan syarat licik untuk ratu nakalnya ini.
"Apa yang akan ku dapatkan jika menolong dia ratu ku? Bantuan ku tidak gratis." Kian mengembuskan napas panjang, sebentar dia berpaling muka sambil berpikir. Elliot menunggu penawaran apa yang akan wanita itu ajukan padanya. Semoga saja setimpal karena lelaki ini sangat tidak suka melakukan kontak fisik dengan manusia kecuali pada istri satu-satunya.
"Aku tidak akan kabur selama sebulan." Ucap Kian. Mendengar penuturan dari Kian yang terdengar biasa-biasa saja melunturkan semangat juang lelaki itu.
"—di tambah tidur seranjang dan kau bebas memeluk ku semalaman."
Manik mata Elliot berkilat, dia menatap senang kearah Kian.
__ADS_1
"Tambahkan jadi 5 bulan!"
Kian melotot tak percaya, dia tak suka mendengarnya. Elliot melakukan negosiasi sepihak yang membuat Kian ingin mencakar wajah dari lelaki itu tapi dikarenakan Kian 'lah pihak yang memerlukan bantuan—wanita ini tidak bisa banyak protes seperti biasanya.
"Tiga bulan, tidak lebih!"
"Setuju!" Seru Elliot girang bukan main. Lelaki itu menoleh kearah Sebastian dia meminta pelayannya itu untuk mengantarkan tubuh Eva kesalah satu ruangan yang ada di istana.
"Sebas, minta Vioner memeriksa tubuh manusia itu lalu jika ada sesuatu yang menjanggal—segera laporkan pada ku!"
"Yes My Lord."
...____________________...
...R a t u...
...____________________...
...____________...
..._____...
..._...
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti....
__ADS_1
...Bye...
...:3...