
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Mungkin akan memberi efek trauma bagi beberapa pembaca, diharapkan manjadi pembaca bijaksana....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._________________________...
...S i d e - S t o r y - A d a m...
...(Last Chapter)...
..._________________________...
..._____________...
...____...
..._...
"Kakek, bau darah dimana-mana... rasanya menjijikan. Bahkan ini bukan perang tapi bara api menghiasi malam."
"Kau benar, ini menjijikan nak."
.
.
.
.
.
"Maafkan kami Adam tapi kami tak ingin terikat lebih dalam dengan keluarga utama. Meski kau adalah pasangan takdir satu-satunya untuk putri kami... kami menolaknya, takdir bisa di ubah dan itu yang kami percayai." ucap pria tua dihadapan Adam yang tak lain adalah ayah dari gadis yang ia cintai.
Tangan Adam mengepal, lelaki pendiam itu menundukkan kepala tak sanggup menatap wajah dari orang tua Eni. Adam ingin menyangkalnya tapi dia terlalu takut jikalau tindakan bodoh itu hanya berakhir membuat kedua orang tua Eni jadi membencinya.
Tanpa bersuara Adam beranjak dari sana, meninggalkan kediaman sederhana dari keluarga sepupunya.
Orang tua Eni mengira kalau Adam akan menyerah tapi yang mereka dapat adalah wajah lelaki itu di ke-esokan harinya. Masih dengan topik pembahasan yang sama, Adam terus menyerukan kalimat 'ingin melamar' putri satu-satunya keluarga itu. Meski selalu berakhir menjadi penolakan Adam terus berusaha sampai pada satu titik, semua terasa menyebalkan.
Alangkah indahnya jika Eni tak punya orang tua.
Tak ada yang menghalangi pernikahan ini.
Eni bisa menjadi milik ku. Dan kami bisa membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Seandainya~
"Tch!"
Adam frustrasi, wajahnya kesal bukan main. Mata hazel itu berkilat tajam dengan tangan yang menyeka kasar surai rambut miliknya.
Bunuh saja mereka semua, masalah selesai. |
__ADS_1
Tiba-tiba pikiran gila memasuki otak milik Adam, lelaki itu terdiam.
Selama ini Eni sangat baik pada mu Adam, bisa saja dia hanya ingin menguji mu. |
Menguji seberapa cintanya dirimu padanya. |
Mungkin juga dia mencintai mu makanya dia menguji mu, rela 'kah kau melakukan segala hal untuknya? |
"Untuk cinta kita?"
Ya.
Benar, untuk cinta kita.
...***...
"Argh?" lenguhan Eni terdengar, ciri khas gadis itu ketika baru saja bangun dari tidurnya. Adam tertawa kecil, memperhatikan kening Eni yang berkerut. Gadis itu membuka mata miliknya dengan wajah linglung dia memperhatikan langit-langit ruangan yang tampak asing.
Dimana aku? batin Eni penasaran. Gadis itu bangkit dari tidurnya, tak menyadari sosok Adam yang berada tepat di samping Eni; menyandar disandaran ranjang sambil menahan tawa karena tingkah lucu dari gadis manisnya.
Eni melarikan pandangan kepenjuru tempat, apartemen sederhana dengan warna monokrom. Lama memandang Eni akhirnya menyadari satu keberadaan sosok yaitu Adam; berjarak tak begitu jauh dari gadis itu berada.
Awalnya Eni ingin bereaksi biasa saja tapi kilasan ingatan memenuhi otaknya, membuat wajah Eni berubah pucat dengan tubuh yang bergetar. Reaksi ketakutan, gadis itu mengangkat tangannya cepat menuju area leher—dia bisa merasakan sesuatu bertengger disana dan ingin mencekiknya.
"Ti–tid... tidak!" gumam Eni, gadis itu menunduk. Air matanya jatuh. Adam yang melihat itu semua hanya bisa membisu. Gadisnya ketakutan, apa yang membuatnya ketakutan?
Adam yang ingin menggapai tubuh bergetar itu tiba-tiba merasakan tangannya di tepis kuat, bersamaan dengan sorot mata penuh kebencian; Eni berucap—
"Jangan menyentuh ku bajingan."
DEG!
"Akan ku buat kau jadi milik ku ENI."
Dan hari itu menjadi hari yang penuh dengan teriakan pilu. Permintaan tolong, makian hingga tangisan Eni tampilkan.
"Tol...ong, berhenti Adam!" gumam gadis itu putus asa.
...***...
"Dia membantai satu keluarga saat pertama kali mendapat siklus insting buas-nya? Luar biasa, Davian... bisa kau panggilkan kakak kedua mu kesini?"
"Tentu saja kakek,"
Eni menatap kosong pintu balkon yang berjarak beberapa meter dari ranjang. Langit sudah gelap diluar sana, entah sudah lewat berapa jam atau hari Eni tak tahu. Dia bisa mendengar dengkuran halus dengan nada teratur milik Adam, lelaki tanpa busana dan hanya dibalut selimut itu benar-benar terlelap disamping tubuh Eni.
Beruntung usai menjamahi tubuh Eni, lelaki itu masih ingat untuk memberikan Eni pakaian; meski baju yang di berikan tipis dan terawang.
Eni yang termenung memikirkan sesuatu menatap dalam penutup balkon didepannya, wanita itu tiba-tiba beranjak dari sana. Kakinya lemas, area selangkangannya sakit. Sambil meringis Eni berjalan menuju pintu balkon, tangannya menarik minggir tirai yang menutupi pintu lalu membukanya kasar.
Hush~
Udara malam membelai pipi Eni seketika. Eni kembali berjalan kali ini menuju pembatas balkon, ditatapnya kosong bangunan-bangunan tinggi yang menjulang tepat didepan sana.
Keluarga ku telah tiada.
Apa yang berharga milik ku telah di renggut.
Hati ku hancur, jiwa ku lebur.
__ADS_1
Apa yang harus ku lakukan sekarang?
Batinnya penasaran. Dari menatap langit kini mata hazel itu berpindah kebawah, tinggi apartemen milik Adam adalah 20 lantai—jika jatuh dari sini apakah akan bebas?
Tanpa berpikir apa-apa lagi, Eni menaiki pembatas balkon. Adam yang merasakan sosok Eni menghilang terbangun, tapi apa yang dia lihat membuat maniknya membola sempurna. Cepat-cepat Adam memasang kimono, dia ingin menyusuli Eni yang bermain-main diatas pembatas balkon tapi sayang Eni menyadarinya.
Adam lalu membeku.
Gadis itu menatap dan tersenyum simpul kearah Adam.
"Selamat tinggal, Adam." gumamnya sebelum menjatuhkan diri dari lantai tersebut.
Adam berlari menuju balkon, mencoba menggapai Eni tapi terlambat. Lelaki itu ingin melakukan teleportasi dan menyelamatkan gadis manisnya di udara namun ada satu penghalang yang membuat kekuatan Adam terlambat beberapa detik; penghalang milik Eni. Sebelum berhasil menyusul Adam sudah menyaksikan tubuh Eni membentur tanah dengan darah berceceran.
Kaki Adam lemas, matanya bergetar tak percaya tepat beberapa meter Eni meregang nyawa dihadapannya.
Sambil menangis Adam mengambil sedikit darah dari pasangan takdirnya itu, membuat simbol kecil diatas tanah lalu merapalkan sebuah mantera.
"Tolong selamatkan dia." bisiknya putus asa bersama linangan air mata.
Tak!
"Kau dipanggil kakek—ka." Dan kehadiran Davian memperkeruh suasana.
.
.
.
.
.
Plak!
Adam merasakan tamparan keras dipipinya. Kevin mengeluarkan aura kemarahan luar biasa, kekacauan yang dilakukan anaknya membuat lelaki itu nyaris dipenggal oleh kepala keluarga utama—sang ayah karena lalai dalam mendidik seorang anak.
"Beruntung kepala keluarga utama memberi mu 1 kesempatan lagi Adam, jangan lakukan hal diluar nalar dan menjauh dari Eni mulai sekarang atau kau benar-benar akan dikirim menuju Hell!" ucap Kevin lugas dengan nada geram. Adam yang mendengar hanya bisa mengangguk kecil tanpa suara.
Setidaknya dia tahu kalau Eni selamat meski gadis itu akan tumbuh bersama kebencian terhadap Adam di sisa hidupnya.
...Selesai....
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote, & comments......
...Terima kasih...
...(buat yang mampir)...
...Ketemu lagi nanti......
...Bye...
...:3...
__ADS_1