
...Cerita bersifat fiksi / karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidaksengajaan semata....
...Jangan lupa like, vote dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
...______________________________...
...Ruang Dimensi...
...______________________________...
...________________________...
...___________________...
..._______________...
...___________...
...________...
..._____...
...___...
..._...
Tubuh Reva seperti terempas kesuatu ruangan. Sebuah dinding kaca tiba-tiba muncul—beberapa inci dari kening gadis itu.
"Fush..." Reva menghela napas. Uap panas terlihat disela mulutnya, seolah memberi dampak pada dinding kaca diatas Reva. Retakan besar tercipta. Wajah Reva kaget.
"KRAK!"
Tubuhnya terangkat atau jatuh? Kesuatu tempat—lagi. Air tiba-tiba hadir melahap tubuh Reva. Gadis itu ketakutan. Otaknya bertanya-tanya, apa yang sebenernya terjadi.
__ADS_1
SITUASI APA INI! |
Air yang muncul entah dari mana semakin meluap, tubuh Reva termakan habis sampai seluruhnya tenggelam.
Seperti danau~
Perasaan sesak Reva rasakan, air merengsek masuk melalui hidung menuju paru-paru. Perlahan mengganti peran oksigen yang bersarang dikedua kantung tersebut.
"ARGH—?!"
Reva meronta tak karuan, rasa sakit dan tekanan yang bukan main membuatnya benar-benar merasa ngeri.
Seseorang! Siapapun TOLONG!
Teriak Reva tapi sayang suaranya tertahan di kerongkongan dan hanya menghasilkan erangan tidak jelas. Tubuh Reva tertarik kebawah dasar, tempatnya gelap. Pekat.
Dan dingin.
Tes...
Titikan darah muncul menyatu dengan air; mengalir dari balik hidung Reva. Reva nyaris kehilangan kesadaran sampai kejadian ajaib muncul. Air yang membentuk danau mengerikan tadi tiba-tiba hilang seolah tersapu angin.
Reva terduduk lemas, tetesan air jatuh dari rambutnya bersama dengan darah yang mengalir dari hidung. Gadis itu tertunduk. Menatap kedua tangannya yang gemetaran.
Sungguh pemandangan yang menyedihkan.
"Kau benar-benar kacau nak..."
Reva mendongak. Mata gadis itu terlihat sayu dengan wajah pucat. Dia melihat kakek Davian berdiri sambil menatap datar kearahnya.
Pandangan itu seolah merendahkan Reva.
Reva mengunci rapat bibirnya.
"Huh~"
Kakek Davian menghela napas, tangannya terangkat dan suara jentikan terdengar. Ruangan tanpa pemandangan itu seketika berubah.
__ADS_1
Wus!!
Hamparan rumput, bunga-bunga dan beberapa pepohonan terlihat. Langit cerah dengan awan ikut mengambil bagian. Dalam hati Reva merasakan kekaguman luar biasa sekaligus bertanya-tanya—
"Selamat datang diruang dimensi milik ku nak..."
Siapa sebenarnya lelaki tua ini.
...***...
Eni menatap tubuh Davian yang tidak sadarkan diri didalam lingkaran pelindung. Wanita itu tak bisa apa-apa, bahkan untuk sekedar mendekati tubuh Davian.
Salahnya, seharusnya dia tidak membolehkan Davian membuka ritual pemisahan. Atau singkatnya ingin melakukan perceraian dengan Reva. Meski sekedar uji coba, tetep saja berbahaya.
"Padahal aku hanya sebentar menggodanya tentang punya rasa suka pada Reva," batin Eni, siapa kira Davian malah tersinggung dan mau melakukan perceraian.
Perceraian memang jarang terjadi jika sudah menikah, terlebih lagi di keluarga mereka. Cerai itu tabu, meski begitu sebenarnya cara bercerai setahu Eni sangatlah sederhana.
Hanya perlu melakukan sejenis ritual pelepasan ikatan. Tapi ternyata dikhasus Davian dan Reva sedikit berbeda. Mereka menikah tanpa adanya cinta dan tahu-tahu terikat seperti pasangan yang sudah ditakdirkan; menurut buku kuno mereka perlu tumbal.
Eni tidak tahu maksud dari tumbul itu apa, Davian bahkan mencoba darahnya sebagai ganti penumbalan. Tapi tidak terjadi apapun sampai sepupunya itu merasakan sakit luar biasa.
Wanita itu mengingat jelas moment ketika Davian kesakitan. Katanya jantung lelaki itu seperti meledak, tenggorokannya terbakar.
Hanya satu asumsi yang terlintas dibenak Eni. Semua yang dilakukan Davian ditentang.
Gabriel tidak merestuinya.
?
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote & comments......
...Terima kasih,...
__ADS_1
...Bye...
...:3...