
"Oo, jadi gue gak boleh ke sini nih? Oke! " dengan kesal Via bergerak hendak meninggalkan lapangan.
"Tunggu!" Deval menahan Via. Menarik tangan Via hingga Via tepat berdiri di hadapannya, kembali mereka dalam aksi saling bertatapan yang cukup panjang. Aliran darah Via seperti tersengat listrik 1000 volt.
"Ekhehmmm..." Via mencoba mengalihkan keadaan yang membuat jantungnya berdebar. Ini pertama kali baginya sedekat ini dengan lelaki selain Tosan dan kakaknya. Via menghela nafas dengan kasar mencoba membuang pikiran yang belum pernah dia rasakan.
Deval, dengan cepat melepaskan tangannya, "Lo harus lihat lemparan tiga angka gue dulu! Kalau gue berhasil, lu boleh pergi!" kembali mencoba lemparan "yah GAGAL” sambil melirik gadis yang tengah memperhatikannya itu.
"Lo pura-pura ya? Kalau lo mau gue di sini bilang aja! Gue dengan senang hati di sini.”
"Lo tenang aja di situ!" ucapnya dengan ketus.
Ni anak jutek banget? Via menunggu dengan bermacam gaya karena bosan. Seperti tidur-tiduran di lapangan basket, senam, menari ala cheerleader dan lain-lain, Kapan selesainya ini sih? Via kembali merebut bola.
Terjadi aksi saling rebutan bola, "Lo lihat gue dulu! Gini caranya melempar bola dengan mulus kembali masuk ke dalam ring," bola dilempar dan masuk dengan mulus, "Yes,yes berhasil," lalu membalikkan badan.
"Dah, gue balik dulu! tanpa menghiraukan ekspresi Deval," Via kembali masuk ke dalam rumah "Bi, Bibi?"
"Ada apa Dik?"
“Devan tadi di mana ya Bi?"
"Oooh, Mas Devan tadinya ngintip ke lapangan basket. Setelah itu menuju ke sebelah sambil marah-marah ..."
"Eh, iya?" Via menepuk jidatnya "tadi gue pergi kesini sama dia, sekarang malah gue tinggalin dia sendiri," desisnya..
"Apa dik? Gak kedengeran?"
"Eh, enggak Bi.. dimana tempatnya Bi?"
"Nanti Dek Via ke arah sana, ada pintu, di balik pintu tu ketemu sama Mas Devan."
"Oooh oke, Aku kesana dulu ya! Makasi ya Bi.”
"Sama-sama dek.”
Devan tidur-tiduran di kursi malas merenung menyangga kepala di kedua telapak tangannya. Via memperhatikan tingkah-laku Devan dari pintu.
Devan yang sadar tengah diperhatikan pun merungut, "Ngapain ke sini lagi? Kamu kan lagi asik sama dia.”
"Udah sampai mana renungan ya?" Devan hanya memasang wajah cemberut.
"Emang gue gak boleh kesini nih? Kan tadi lo yang ngajak gue ke sini?" duduk di kursi sebelah Devan.
"Habis, udah jelas aku yang ngajak. Tapi, malah aku yang dicuekin begitu aja?"
"Tadi kan lo yang nyuruh gue nyari dia sendiri, yaaa biar gak buang waktu gue cari aja. Penasaran sama dia.."
"Mesti sampai peluk-pelukan gitu?"
"Aaahh.. ga ada pelukan..." tiba-tiba wajah Via bersemu mengingat kejadian tadi.
"Tuuuhh.. kayak ada yang seneng," Devan menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Jadi kamu sukanya yang kayak gitu?"
"Aaahh.. lo bikin gue malu aah.. Jangan bahas lagi!"
"Aneeh.. ternyata suka yang dingin kayak gitu.."
"Enggak wah... gue nggak suka dia.. dia ngeselin...!!" Lagian seingatnya, tak ada baik-baiknya kelakuan Deval selama ini terhadapnya. Apalagi kesan pertama saat ketemu di bawah tiang bendera, minta ditonjok.
"Semakin kamu mengelak, malah makin kelihatan kamu beneran suka.. Aduh.. aku patah hati beneran," Devan meletakkan tangan di dadanya. Dia mengatakan perasaannya saat ini tanpa malu. Dia terlalu terbuka, batin gadis itu merasa aneh dengan kembar yang berbeda watak ini.
"Kalau kamu memang suka sama dia terpaksa aku ikhlaskan. Tapi kamu jangan nyesal dengan sikap dia ke depannya!" mengedipkan matanya. "Kalau dia membuatmu kecewa, aku siap kok menggantikannya," tambah cowok muda yang terlalu blak-blakan ini.
"Gue bilang cukup! Gak usah dibahas!"
Setelah itu dalam beberapa saat Devan tampal berpikir, “Ya udah, maaf. Sebenarnya dia sangat menyukai kamu lho? Sejak kami SMP dia selalu memperhatikan foto kamu, meski dia hanya diam, tapi aku mengerti dia menyukaimu..."
"Lhoooh.. kok bisa? Ketemu aja nggak pernah..."
"Kami sangat mengidolakan kamu dari dulu, tapi kayaknya dia lebih dari pada aku. Waktu itu aku ke tempat Paman di Bandung, memperhatikan kamu sedang pecahin kasus pamanku yang di sana. Kamu begitu mudah memecahkan masalah pamanku. Kami sangat kagum padamu kala itu. Masih SMP seusia dengan kita, kamu terlihat lebih hebat dari pada polisi. Kemudian kami minta foto kamu pada paman. Kami ingin jadi seperti kamu juga, tapi Deval kayak yang udah menganggap kamu seperti pacarnya. Ngajakin foto kamu bicara terus lhoooh."
__ADS_1
"Waaahh, itu benar-benar di luar dugaan. Berbeda sekali dengan sikapnya yang ditunjukkannya tadi..."
"Mungkin dia malu, jadi salah tingkah. Tiba-tiba pacar khayalannya ada di depan mata dan...." bicara Devan terhenti melirik seseorang yang tengah berdiri dengan tangan terlipat menatap sinis ke arahnya.
"Lambe nya bisa ditambal?" tanya Deval dengan arogan.
"Laaahh, lo jangan jaim-jaim ah.. nanti ada yang nikung ngenes Lo? Atau gue aja yang maju duluan?"
Wajah Via kembali bersemu merah seperti ceri, ternyata orang yang sedang mereka bicarakan muncul diam-diam. "Udah.. udah.. gue pulang aja deh .. Malam udah makin larut..."
"Biar gue antar..." tawar Deval tiba-tiba.
"Nggak usah .nggak usah .. gue bisa pulang sendiri..." karena ada Dedi yang siap 24 jam untuk sport jantung menerima panggilan darinya.
"Nah gitu dunk Val.. kalau lu garcep, siapa tau Via beneran makin suka sama Lo..."
Deval hanya membelalakkan matanya pada Devan, dan saudaranya yang terus nyerocos pun diam karna aura intimidasi yang kuat dari Deval.
"Ayo gue antar...." kembali Deval menawarkan dan menyerahkan jaket miliknya. "Pakai! karena malam akan semakin dingin..."
Via masih melongo, tiba-tiba sikap Deval berubah 180 derajat. "Maaf, tadi gue...ekhemm.." dia tidak melanjutkan ucapannya, namun Via mengangguk seolah paham apa yang akan dikatakan cowok arogan di depannya ini. Masih bingung sambil mengikuti Deval, dan ternyata dibawa naik motor ninja.
***
Di tengah perjalanan, tampak seorang wanita tengah dikepung oleh beberapa preman.
"Val, Val, berhenti dulu!" Deval yang juga melihat kejadian tersebut langsung menepi, mereka sengaja tidak membuka helm yang tengah terpasang.
Via mengambil batu di pinggir jalan, lalu melemparnya ke kepala seseorang yang diperkirakan merupakan ketua dari pasukan preman itu.
"Aaaaaawwwwww...." teriak orang itu kesakitan.
"Siapa itu... berani-beraninya nimpuk kepala gue?" ketua preman mengusap kepalanya yang sakit dengan geram.
"Gue... gue yang melempar..." Via melambung-lambungkan batu di tangannya, dan dengan perhitungan tenaga yang cukup kuat kembali melempar ke rombongan preman. Terdengar kembali jeritan pertanda ada yang kena lemparan.
Deval bersiap dengan melepas helm moncong dan memasang kuda-kuda bersenjatakan helm.
Para preman mulai mengejar Via dan Deval. Dengan gesit Via mengelak dengan Capoeira yang dia kuasai, dengan satu tendangan di wajah, satu preman berhasil dilumpuhkan. Sementara Deval menyerang tiga preman yang tengah mengepungnya menggunakan helm di tangannya, memukul kepala preman tersebut dan berhasil dilumpuhkan.
...klik gambar di bawah ini
...
Dari kejauhan, tampak berdatangan kembali kawanan preman dengan jumlah yang cukup banyak ke lokasi pertarungan itu. Tentunya untuk membela kawanan merekaq tadi. Karena situasi semakin tidak terkendali, Via mengeluarkan knuckle dan memasang di jemarinya. Kali ini boxing digunakan melawan para preman mendapat tinju besi yang sengaja dipasang Via, hingga melumpuhkan sekaligus lima orang.
Deval tampak semakin tersudut, Via datang membantu dan meninju bagian ulu hati si preman dengan knuckle, menyikut dagu preman lain, menendang kema***uan preman yang lain, dan melompat bercampur karate menotok bagian tepi leher preman lain, dalam sekian detik melumpuhkan sekaligus empat orang. Deval mengambil nafas yang telah habis akibat menahan serangan dari empat orang barusan.
Kali ini Via mengambil kuda-kuda melindungi Deval, lalu ketua preman berkata, "Hebat sekali gadis kecil berhelem ini... Bisa menumbangkan pasukan gue dengan jumlah yang banyak dalam waktu singkat.. Katakan Lo ini siapa!"
"Siapa pun gue, itu bukan urusan lo...!"
"Kenapa gue teringat pada seseorang yang selalu dibicarakan setiap saat ya.. Jangan-jangan elo tu Detektif Via..."
"Gue bilang siapa pun gue, bukan urusan elo..."
"Ha-ha-ha... gue semakin yakin elo tu Detektif Via yang terkenal itu.. Kenapa Lo ikut campur urusan gue...?"
"Harusnya gue yang bertanya!! Kenapa elo semua berbadan gede nyerang kakak cewe yang sendirian itu?"
"Ha-ha-ha itu urusan kami, Lo gak seharusnya ikut campur!"
"ha-ha-ha, gue tak akan berhenti ikut campur kalau ada orang menindas yang lemah..."
Dari kejauhan terdengar sirine mobil polisi yang terdengar semakin mendekat..
"Polisi...polisi...polisi..." teriak para preman panik..
"Awas Lo Via...!! Urusan kita tidak sampai di sini saja..." lalu ketua preman ikut tergopoh lari dari lokasi.
__ADS_1
"Lo gak apa Val?" Via memastikan kondisi Deval yang masih ngos-ngosan dan menekan bagian dadanya yang mungkin tengah kesakitan.
Pasukan polisi telah sampai, semua preman yang tadi ramai mengisi tempat itu sudah kabur lari tunggang langgang. Dan Kakak yang tadi sembunyi pun muncul.
"Mba, Mas.. terima kasih sudah bantu saya. Kalau tidak ada kalian, saya pasti sudah habis ..."
"Syukur lah Kak, Kakak selamat.. tadi kebetulan kami lewat sini. Melihat ada wanita dikepung oleh preman seperti tadi, kami tentu tak akan tinggal diam."
"Apa benar kamu Detektif Via itu?"
"Bukan..bukan Kak...kami hanya orang yang kebetulan lewat," Via terus mengelak, karena semua tentangnya harus dirahasiakan. "Kalau begitu kami lanjutkan perjalanan lagi ya Kak..."
"Baik lah, terima kasih atas segala bantuannya ya Mba.. hati-hati di jalan!"
Via memapah Deval, "Maaf... seharusnya gue yang lebih banyak melawan mereka, tapi ini malah sebaliknya.." Harga diri Deval berasa jatuh karena kondisi terbalik ini. Seharusnya dia yang menjaga gadis itu, ini malah sebaliknya.
"Engga.. tadi Lo hebat kok.. Bisa bawa motor gak?"
Deval tampak agak ragu, karena seluruh tulang di tubuhnya seperti rontok dari persendian. Tanpa menunggu jawaban dari Deval, Via langsung mengambil keputusan.
"Kalau gitu biar gue yang antar lu balik..." Via mengambil keputusan cepat.
"Lo bisa bawa motor ini?" Deval sedikit ragu.
"Bisa donk..."
Kali ini Via yang berada di depan memegang setir motor...mengantar Deval kembali ke rumahnya..
Misi mengantar Via ke rumahnya pun GAGAL
...bersambung\*...
...Jangan lupa meninggalkan tanda jejak yaa.. LIKE, LOVE, GIFT & VOTE 🥰🥰🤩🤩😍😍...
...Terima kasiiiih.....
si Kembar berbeda watak

...Devan, orangnya lebih ceria dan sangat terbuka....

...Deval, cowok dengan aura kalem dan tertutup...

Lutvia Megita, si cantik turunan Indo-Jepang menyamar menjadi Marni, untuk menjalani kehidupannya sehari-hari semenjak bermasalah dengan Buana Putra. Watak aslinya juga seorang yang arogan, namun perlahan mulai lebih baik.
__ADS_1