
Via kembali teringat semua yang disampaikan oleh Deval, "Tante, maafkan aku. Seharusnya sejak delapan tahun lalu aku menyampaikannya, kepada Tante dan seluruh keluarga." Via berjalan meraih tangan kedua orang tua Deval itu.
"Terakhir kali Deval mengatakan bahwa dia sangat menyayangi kalian. Berterima kasih kepada Om, dan Tante telah menbesarkannya. Dia tidak meminta apa pun kepada kalian."
Isak tangis kedua orang tua Deval pecah. Merasa selama ini menjadi orang tua yang buruk karena kehilangan putera mereka yang berharga. Ibu Deval akhirnya memeluk Via. Mereka terisak saling berpelukan.
"Maafkan Tante! Seharusnya dulu Tante tidak membuatmu semakin tersiksa."
"Sudah lah Tante, waktu yang berlalu tidak bisa lagi kembali. Kala itu, perasaanku tulus untuk Deval. Pengorbanannya pun aku rasakan sebagai bukti ketulusan cintanya kepadaku."
"Kali ini, aku meminta izin kepada kalian, orang tua dari orang yang pernah aku cinta, untuk mengizinkanku melangkah dan membuka lembaran baru."
Ibu dari Deval mengangguk, dan memeluk Via kembali. "Kamu boleh memilih, kamu boleh melangkah. Kamu jangan terkungkung dalam masa lalu. Tante bangga pernah mengenalmu." Pelukan itu dilepaskan, dan Ibu Deval berjalan ke arah Jimmy.
"Tolong gantikan Deval untuk menjaganya!" menepuk lengan Jimmy, dan pria itu mengangguk.
"Percayakan dia pada saya, Bu!"
Ibu dari Deval melangkah berlahan ke arah suaminya. Sang suami menyambut sang istri dalam dekapannya. Mereka melanjutkan perjalan yang tertunda beberapa saat.
Jimmy mendekati Via, merangkul pundak gadis itu. "Apa kamu masih mencintainya?"
Via hanya tersenyum tipis, "Dulu mungkin aku sangat menyukainya. Dia adalah cinta pertamaku. Sebuah kenyataan yang menamparku, saat melihat dia pergi di hadapanku, membuatku menyadari akan sesuatu. Bahwa, cinta tak selalu memiliki."
Jimmy mengambil posisi di hadapan Via, meraih kedua tangannya menatap netra gadis itu dengan lekat, "Tapi aku ingin memilikimu, untuk selamanya lho."
"Tetapi, bersamaku Kakak akan menghadapi hari-hari yang berat. Musuh selalu mengintariku. Aku tak sanggup jika kejadian Deval terulang lagi."
"Kamu harus tahu, hari-hari yang aku jalani lebih berat tanpa melihatmu. Jika kamu kesepian, aku akan menjadi orang yang ada di sampingmu. Jika kamu ketakutan, aku akan berada di depanmu untuk melindungimu. Jika kamu tertekan, aku akan berada di belakangmu untuk mendorongmu maju kembali. Jadi, apa pun itu, aku tak akan meninggalkanmu."
Air mata Via kembali terjatu, tubuhnya refleks memeluk Jimmy. Menangis dalam rangkulannya. Jimmy kembali tersenyum, merasa bahwa hati gadis itu benar-benar telah terbuka penuh untuknya.
Jimmy membisikkan sesuatu di telinga Via, "Ayo, coba jujur kepadaku! Kamu sudah mencintaiku apa masih belum yakin?" Via hanya mengangguk, dalam pelukan itu.
"Aku ingin mendengarnya dari mulutmu langsung."
"Aku malu," dia melepaskan pelukan dan membelakangi Jimmy menutup wajahnya.
__ADS_1
"Aku masih menunggu," Jimmy kembali merangkulnya, kembali menggandeng tangan Via dan berjalan menyusuri pertokoan.
Mereka berhenti tepat di depan sebuah butik yang tadi diperhatikannya. Dia melihat gaun pengantin bewarna putih yang sangat indah. Via melihat Jimmy dengan tatapan tanda tanya.
"Ayo kita masuk. Kita pura-pura akan segera menikah dulu yuk?" menarik Via masuk ke dalam butik itu.
Via memilih model gaun yang tersedia di katalog. Mencoba memakai satu gaun yang cantik, dan membuat Jimmy terpana. Diganti lagi, dan lagi untuk sekedar mengambil foto. Akhirnya membuat sang pegawai butik menjadi kesal. Sudah skian gaun yang dipilih, tetapi satu pun tak ada yang jadi.
"Mbak dan Mas ini beneran mau beli nggak sih?" dengusnya kesal.
"Wah, kok nyolot gitu sih Mba? Calon pelanggan adalah raja lho!" sindir Via yang masih asik berpoto mengenakan gaun putih itu bersama Jimmy.
"Sudah lah! Cepat lepaskan baju ini! Nanti pakaian ini kotor malah saya kena omel big boss," matanya dibesarkan, aura penindasan yang sangat kental.
"Maaf, kami hanya ingin mencoba mana yang cocok buat dia saat kami menikah nanti." jelas Jimmy menenangkan.
Aduh, ganteng. Tapi sayang dia kere. Kalau tajir, pasti segera dibelikannya.
"Hmmm, udah! Jangan difoto lagi! Nanti baju ini kotor gimana?" si pegawai semakin kesal.
"Ada apa La? Kok ribut begini dengan pelanggan?" sebuah suara yang membuat pendengar refleks melihat sumbernya.
"Wah, ada Pak Dokter." ucap sumber suara tadi, lalu menghampiri Jimmy. "Mister perfect akhirnya menikah juga," melirik gadis yang membuat pegawainya kesal.
'Dokter?' batin pegawai bawel tadi menciut.
"Ini calon istriku mau melihat-lihat mana yang cocok."
"Waaah, cantik sekali ya calon istri Kamu. Akhirnya, kamu ketemu cewek cantik juga. Setelah sekian lama patah hati ditinggal oleh Marni dulu ya?"
Huk... huk... huk... si Marni terbatuk mendengar ucapan wanita yang mengenal Jimmy ini.
"Kenapa Marni Kak?" tanya Via pura-pura tidak tahu.
"Weeuuh, kamu jangan cemburu begitu. Ini hanya cerita masa lalu saat kita masih sekolah dulu." ucap wanita itu.
"Boleh aku tahu ceritanya bagaimana?" Via mulai dengan mode keponya.
__ADS_1
"Sayang, kalau kamu penasaran, kenapa tidak tanya langsung kepadaku?" gumam Jimmy.
"Aku ingin tahu versi yang lebih jelas. Soalnya, Kakak nantinya pasti akan mengurangi atau menambah bumbu cerita."
"Hahaha, tuh, dia penasaran lho Jim." sela wanita itu.
"Ya udah, terserah Kamu," Jimmy memilih duduk di kursi empuk yang tersedia. Tampak si pegawai yang tadi meremehkan mereka tengah melongo.
"Masa sekolah dulu, Jimmy ini banyak banget lho yang suka. Setelah operasi plastik malah makin banyak yang mengejar dia. Namun, semuanya ditolak. Kata Kevin dan Gilang cinta Jimmy mentok pada Marni. Marni itu dulunya adik kelas kami. Syukur lah sekarang dia udah menemukan yang lebih cantik, seperti kamu."
Via yang mendengar itu semua, langsung menoleh ke Jimmy dan menyusulnya duduk di sebelah pria yang selalu terkesan tenang itu. "Jadi Kakak beneran sudah menyukaiku semenjak masa sekolah?"
"Aku sudah pernah menceritakannya bukan?" Jimmy berusaha tenang. Sebenarnya di dalam hatinya tengah dilanda perasaan gugup.
"Tapi menolak semua cewek gara-gara menyukaiku itu aneh banget lho."
"Kok aneh? Malahan, aku sudah jatuh cinta padamu sebelum tau kamu itu aslinya cantik. Eh, ternyata kamu sangat cantik. Membuatku makin tergila-gila."
Talita, teman masa SMA Jimmy yang memperhatikan percakapan akrab mereka kembali ikut bergabung dalam obrolan mereka. "Jadi ini Marni?" tanyanya tak percaya.
"Iya Kak," jawab Via dengan pasrah.
"Yaa ampuuun. Jadi kamu beneran Marni?" sebuah tawa tak percaya, keluar dari mulutnya. "Pantas Jimmy mentoknya sama Marni. Bahkan jadi secantik ini sekarang." Talita menggelengkan kepalanya, "Bahkan kamu udah tidak gagap lagi? Ditolong sama Jimmy dalam mengobatinya?"
"Bu-bukan sih." Via menggaruk tengkuknya mendapat interogasi mendadak.
Untuk menyemangati Otor yang ga dapat apa-apa dari entun ini, boleh donk bagi Vote dan hadiahnya... Biar pop otor naik, lalu diperhatikan oleh mak tiri kami si entun 😢😢
Otor lagi nulis cerita genre Fantasi Timur
Ini Otor ajuin buat lomba berikutnya. Tapi jika viewsnya ga sesuai terget, Otor hentikan penulisannya.. Soalnya capek nulis fantim, malah gak ada yang baca kan syeedih
...*bersambung*...
__ADS_1
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...