
Tiba-tiba penghuni yang tepat berada di depan rumah Via, membuka pintunya menyiram air satu ember ke arah Jimmy.
"Kata orang di dalam sana kau ini seorang penjahat! Apa yang akan kau lakukan kepadanya, hah?!"
"Ini hanya sebuah kesalapahaman," ucapnya dingin dan berlalu. Dengan segera menaiki tangga, mengganti pakaiannya, lalu kembali pergi. Tujuannya kali ini adalah Romi. Dalam wajah tenangnya, ada hasrat luar biasa untuk menghajar Romi.
Dia membuka ponselnya, mencoba menghubungi Romi. Namun, tak ada tanda bahwasanya panggilan itu tersambung. Sepertinya kontaknya telah diblokir oleh Romi, "ck" Jimmy hanya bisa berdecak geram.
Setelah itu, dia mencoba menghubungi Dino. Menanyakan apa dia mengetahui lokasi Romi. Namun ternyata Dino juga tidak mengetahui posisi teman dekatnya itu. Tiba-tiba dia teringat pada Kevin, lalu mencoba mencoba menghubungi Kevin, "Temukan Romi dengan segera! Lacak GPS-nya!" ucapnya dalam telepon.
"Kenapa dia?"
"Cari aja!" ucapnya dengan dingin dan tegas.
Saat ini Jimmy tengah memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah keluarga Romi. Tetapi belum mencoba untuk masuk ke sana. Tanpa menunggu terlalu lama, Kevin mengirimkan GPS lokasi keberadaan Romi saat ini. Sangat mengejutkan saat dia mengetahui lokasi keberadaan Romi sekarang.
Jimmy memutar balik kendaraannya kembali ke apartemen. Mengejar Romi yang menbuat hubungannya yang baru seumur touge, rusak karna ulahnya.
Jimmy sudah memarkirkan kendaraan, mengikuti lokasi yang ditunjuk GPS, dan saat ini dia tengah berada di puncak gedung apartemen ini. Tampak Romi tengah tiduran bertopang kedua telapak tangannya, di atas kursi malas. Dia sedang merenung menatap malam tanpa bintang.
Jimmy mendekatinya, dengan raut wajahnya tak dapat diartikan. "Santai sekali Kau!" ucapnya dingin.
"Lama! Lebih satu jam saya menunggu di sini!" ucap Romi dengan mata masih mengawang menatap langit.
"Apa yang Kau pikir kan?" mata Jimmy tak putus menatap Romi dengan dingin.
"Saya menyesali segala yang terjadi. Mengapa cinta datang terlambat. Di saat dia telah pergi. Bekerja sama dengan orang yang mencintainya juga. Seharusnya dulu tidak begini." Romi masih mengawang menatap langit.
"Lalu sekarang apa yang Kau ingin kan?"
"Saya ingin keluar dari White House!" Romi bangkit, duduk tepat menghadap Jimmy, menatap mata Jimmy dengan tak kalah dingin.
"Kenapa?"
"Saya tak kuat melihat kemesraan di antara kalian. Seandainya saya juga memiliki kekuasaan lebih. Mungkin saya juga ingin memilikinya, sebagaimana caramu memaksa dia untuk menerimamu!"
Jimmy berdiri, menarik kedua sisi kerah baju Romi. "Apa Kau tak bisa bersaing dengan cara yang sehat?"
__ADS_1
"Sehat?" Romi tersenyum sinis, menyibak tangan Jimmy dengan kasar. "Kau bilang ini sehat? Mendklarasikan hubungan secara sepihak, itu yang dinamakan sehat?" Romi kembali melirik Jimmy dengan ujung matanya, senyuman sinis menyeringai di bibirnya.
"Kau...!" Jimmy tercekat, apa yang dikatakan Romi itu benar adanya. Saat Via langsung memutuskan hubungan pun, tidak diterimanya.
"Saya sudah mengajukan pendaftaran sebagai hacker pada Organisasi BOS, namun ternyata ditolak karena memiliki riwayat yang terdeteksi oleh sistem di sana. Bahwa saya adalah mafia pencipta game judi yang tengah mereka cari."
"Kau tau, banyak usaha yang terpaksa dilakukan untuk menghapus rekam jejak itu. Agar mereka tidak dapat mendeteksi keberadaan saya dan grub kita?"
"Saya baru menyadari, ternyata selama ini telah memilih jalan yang salah. Meski semua itu sangat menguntungkan." jelas Romi sembari mengeluarkan kotak rokok yang baru saja dibelinya. Dia merasa, benar-benar membutuhkan nikotin saat ini.
"Sejak kapan Kau merokok?"
"Entah!" menyalakan api pada rokok itu, lalu mulai menghisapnya pelan-pelan.
"Terserah Kau mau apa! Ini adalah hidupmu. Kau berhak memilih jalan yang Kau inginkan. Saya hanya ingin mengatakan, jika sekali lagi mengganggu hubungan kami, saya akan melupakan hubungan baik kita selama ini."
"Pa...- Jimmy! Ayo duel saat ini juga! Kau tak perlu menunggu lagi!" Romi melempar rokok yang tadi dihisapnya lalu menginjaknya.
"Ini sudah saya bayangkan sejak awal. Karena saya tahu, bekerja sama dengan rival bukan lah pilihan yang tepat." Mendorong Jimmy dengan sekuat tenaga, hingga pria itu masuk ke kolam renang.
Jimmy segera kembali muncul ke permukaan, berenang ke tepian dan menangkap kaki Romi dengan penuh amarah. Romi pun ikut tercebur ke dalam kolam.
...byuuuuurrrr...
"Mari kita lihat, siapa yang akan bertahan!" Jimmy melepaskan sepatu, kaus kaki, dan pakaiannya. Lalu kembali masuk ke dasar mengejar Romi dan menghajarnya di dalam air.
Romi tercekat sesaat, lalu berusaha menahan kembali nafasnya mencoba naik ke permukaan.
...byaaaarrr...
Romi meraup udara dengan rakusnya. Ikut membuka benda-benda yang mengahalangi gerakannya di dalam air. Mereka saat ini sedang bertelanjang dada.
Berenang mendekati Jimmy yang baru saja muncul dari permukaan, lalu melayangkan kakinya dengan sekuat tenaga, menendang perut Jimmy di dalam air. Jimmy terhenyak kembali terdorong masuk ke dalam air.
Romi mengejar kembali melayangkan kakinya menghajar wajah Jimmy. Jimmy gelagapan mulai kekurangan oksigen, mencoba mengepakkan tangannya menuju permukaan.
Romi tidak memberi kesempatan, menarik kaki Jimmy makin masuk ke dalam air. Aura membunuhnya tiba-tiba menjadi semakin kuat.
__ADS_1
Jimmy yang makin terdesak mengibaskan kakinya menendang tangan Romi yang berusaha menarik kakinya dengan sekuat tenaga. Nafas Jimmy sudah mulai tersengal, dia telah berhasil terlepas dari genggaman Romi, lalubsegera mencoba naik ke permukaan.
...piiaaaarr...
Jimmy kembali merauh udara, membuka mulutnya lebar-lebar, diikuti Romi yang muncul di permukaan bagian lain.
"Boleh juga Kau!" ucap Jimmy dengan senyuman miring, berenang menuju Romi.
Jimmy dengan gerakan cepat menangkap kepala Romi, lalu dihajar dengan lututnya di dalan air. Romi dengan sigap membalas dengan menjepit satu kaki Jimmy lalu berputar hingga Jimmy kembali terhenyak masuk ke dasar kolam. Saling tendang dan saling pukul terjadi di antara mereka berdua di dalam air.
Kevin, Gilang, dan Via berlari menuju ke arah kolam renang. Menyaksikan dua pria itu bagai ikan yang asik bermain di dalam air. Via tidak berani terlalu dekat dengan kolam itu.
"Wooi, Jim, Romi!" hardik Gilang.
Via masih tertegun dengan jarak yang cukup jauh dari kolam renang itu. Tampak Gilang membuka pakaian diikuti oleh Kevin, lalu menceburkan diri masuk ke kolam. Mereka berdua menarik dua orang yang sedang asik bergelud menjadi ikan di dalam air.
Saat melerai, Gilang ikut kena tendangan Jimmy, Kevin kena tinju dari Romi. Akhirnya terjadi pertarungan beramai-ramai di dalam air. Via ingin menghentikan itu, tapi kakinya kaku melihat air yang banyak seperti itu.
"HENTIKAAAAAAN...!!!"
Mereka yang asik bergelut, sama sekali tidak mendengar suara teriakan Via. Tiba-tiba Irin berlari datang bersama Devan.
"Rin! Suruh mereka berhenti! Gue gak bisa ke sana." ucap Via dengan wajah tegangnya.
"Itu apaan juga? Bukannya melerai malah ikut-ikutan menjadi ikan di dalam kolam," sungutnya.
"Van, Kamu punya pistol?"
"Ada, buat apa?" tanya Devan dengan wajah heran.
"Buat menembak semua penjahat itu." Via menengadahkan tangannya.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...
__ADS_1