
Jadwal kuliah Stevan semakin waktu semakin berkurang, karena dia telah berada di ujung masa perkuliahan di tingkat empat. Saat ini, dia tengah mengajukan proposal mengusulkan tugas akhir demi menyelesaikan pendidikan strata satu yang dia tempuh.
Berkurangnya kegiatan membuat waktu senggangnya menjadi cukup banyak, sehingga dia mengajukan jam tambahan kerja pada organisasi BOS. Namun, nyatanya permintaan tersebut tidak langsung disetujui. Meskipun dia sudah menjadi agen pada organisasi BOS, tetap saja prosedurnya untuk menambah waktu kerja itu tidak mudah. Walau telah menjadi agen pada divisi private, dia tetap harus mengikuti tes kembali hingga tahap akhir, dan akhirnya dinyatakan sebagai hacker freelancer pada organisasi BOS. Jadi pekerjaannya dilakukan jarak jauh saja, sesuai permintaan markas.
Sebagai freelancer, dia memiliki waktu yang sangat bebas dalam bekerja. Bila ada tugas dari Via, Stevan dengan telaten mengerjakan tugas itu. Bersusah payah meniru tulisan Via yang sangat rapi, sementara tulisannya seperti tulisan dokter yang hanya bisa dibaca oleh dirinya sendiri.
Setelah semua pekerjaan usai, waktu kosong kembali membuatnya bosan.. Jadi bisa dibilang lebih sering ngegabut gak jelas. Nongkrong dan cuci-cuci mata tengokin cewek lalu-lalang di pusat perbelanjaan, saat si cewe membalas, dia malah mundur. Karena dalam pikirannya saat ini hanya ada nama Via. Si gadis nakal yang dulunya sangat menyebalkan. Entah sejak kapan dia memikirkan remaja tanggung yang usianya belum genap limabelas tahun itu. Hampir setiap hari bertemu dengan gadis itu selama selama tiga tahun terakhir ini
Sementara kegiatan kampus saat ini, hanya sekedar bolak-balik menunggu dosen, untuk bimbingan tugas akhir. Bagi para dosen, Stevan merupakan mahasiswa kesayangan. Selain memiliki wajah paling bersinar di antara anak-anak jurusannya, attitudenya juga sangat bagus.
Jurusan Teknik Nuklir, rata-rata diisi oleh para kutu buku, yang sibuk belajar, belajar, dan terus belajar rmengenai umus-rumus eksakta. Materi yang tak jauh dari hal yang berkaitan dengan ilmu fisika dan matematika membuat mahasiswa itu hanya asyik pada tugas yang diberi dosen setiap hari.
Kesibukan itu lah yang membuat tampang para mahasiswa jurusan ini hampir mirip terkena radiasi nuklir, sibuk belajar hingga lupa memikirkan penampilan. Yang penting bagi mereka tugas telah beres, nilai bagus, dan tidak mengulang lagi. Tak jarang mahasiswa jurusan ini mengalami sakit Hepatitis ataupun tipes. Kesibukan dari pagi hingga pagi membuat jadwal makan mereka tidak teratur sehingga membuat sistem imun mereka menurun dan gampang sakit.
Stevan seperti mentari dalam kelam mahasiswa teknik nuklir ini. Dia terlahir dengan berkilau, tak perlu mikirin penampilan pun tetap tampak tampan. Wajah dia memang tampak seperti bule. Namun, darahnya asli Indonesia. Darah bule turun dari Kakek Ibunya. Yang kebetulan Asli dari Finlandia. Kakek buyutnya itu datang ke negara ini pada masa penjajahan dulu, bersama Inggris yang hendak berdagang. Lalu Menikah dengan warga pribumi, sehingga semenjak itu turun wajah bule di sekitaran keluarga besarnya.
Ibu nya Kinanti Indonesia turunan, bapaknya Rusdi asli pribumi, berarti darah Indonesianya sudah melekat pada dirinya sebanyak 90% dan sisa 10% masih lekat wajah penjajah seperti mata kucing bewarna terang, tubuh tinggi, hidung mancung. Namun jiwa dan raganya itu nasionalis sekali.
Bisa jadi karena tampang juga lah Stevan bisa direkrut gabung dalam BOS, selain dari kemampuan otak yang brilian dia juga menjadikan boxing sebagai olah raga yang membentuk otot pada tubuhnya. Sebagai fighter yang handal apabila berada di situasi yang tak terduga.
__ADS_1
Pada awal direkrut sekitar tiga tahun lalu, dia tidak tahu hendak dimasukkan pada divisi apa. Namun ternyata setelah resmi bergabung ternyata dia harus mengampu divisi private. Pantas aja tes tulis luar biasa susah, karena yang dicari orang-orang yang memiliki otak yang brilian. Setelah menjalankan tugas pertama, alangkah kecewanya dia menerima kenyataan bahwa tugasnya hanya sebuah hal yang sepele. Yaitu membuatkan PR seorang anak SMP yang sok sibuk di usianya kala itu.
Pertama kali menjalankan misi, dia merasa sedikit enggan meminta kepada pihak organisasi BOS untuk dipindahkan ke divisi lain. Gila aja, buatin anak orang PR. Enak banget tu anak, dulu waktu dia sekolah harus susah payah dalam membuat tugas sekolah sendiri. Masa sekarang dia yang sudah mahasiswa kembali bergelut dalam tugas anak sekolah?
Pihak HRD BOS menyatakan bahwa mereka sengaja menggiring Stevan untuk masuk ke divisi tersebut. Apabila suatu saat nanti ingin menambah job kembali, boleh dilakukan apabila dia dinyatakan sebagai agen yang memiliki loyalitas tinggi dalam bekerja.
Tidak hanya itu, tawaran honor yang sangat menggiurkan membuatnya benar-benar tergiur untuk menerima misi itu walaupun tidak rela. "Demi bisa punya penghasilan sendiri tidak apa lah. Bantu-bantu buat biaya penelitian nanti," monolognya.
Pertama kali menemui anak kecil itu, sungguuuh luar biasa rese bikin pusing. Namanya Via, anak dari pimpinan organisasi BOS ini. Saat itu dia masih kelas tujuh SMP. Namun sudah berpisah dengan kedua orang tuanya yang bekerja dan menetap di luar negeri, Singapura.
Oleh karena itu, Stevan memilih untuk memahami diri gadis tanggung yang sebenarnya cantik itu. Via tinggal bersama keluarga Irin, yang notabenenya hanya sahabat dari ibunya. Bukan keluarga inti, "Mungkin karena merasa dibuang kali ya? Jadi wajar aja, dia caper luar biasa," kembali dia berbicara pada diri sendiri.
***
Di sekolah pun banyak yang tidak menyukai Via. Meski dia dikenal sebagai detektif cilik kala itu, wataknya yang arogan, membuat teman sebayanya enggan berteman dekat dengannya. Bahkan ada yang mencoba untuk mengerjai dan membully dia. Namun hasilnya malah nahas, yang mengerjai malah mendapat tendangan dan bogem dari Via hingga babak belur.
Akhirnya kawan-kawannya menjauh, takut mendekat padanya. Via dianggap sebagai preman berkedok detektif oleh kawan sekolahnya. Padahal, itu semua terjadi adalah untuk membela diri dari kenakalan temannya itu. Tetapi negara ini memang begitu, meski kita melakukan untuk membela diri, yang KO selalu dianggap sebagai korban, dan yang kuat sebagai tersangka. Gosip yang tidak enak terus menyebar, membuat Via streaa sehingga merasa bahwa sekolah itu bagai neraka.
Setelah itu, Via meminta orang tuanya agar memindahkannya belajar metode home schoolling. Namun, sang ibu tidak mengizinkan. Ibunya ingin Via belajar hidup bersosialisasi dengan teman sebaya. Agar Via bisa menjadi orang Indonesia yang baik seperti harapannya. Via merasa sangat menderita berada di sekolah, sehingga memilih banyak diam dan menutup diri. Hanya berkomunikasi dengan Irin saja. Karena hanya Irin yang tabah menerima apa yang diperbuat Via pada dirinya.
Semenjak banyak diam di sekolah, waktu terus berlalu dengan bekerja sebagai detektif, dan sebagai siswa SMP. Lambat laun ada yang mau berteman dengannya. Via mulai belajar untuk tidak bertindak sesuka hati. Memilih diam dan tak peduli saat dia diledek. Irin selalu bisa menjadi penenang, di kala Via tengah emosi.
"Biar saja, apa pun kata mereka, Lo tetep lebih baik dari mereka.." Via mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Suatu hari mereka berdua pergi berjalan tanpa pengawasan. Via memperhatikan tindak mencurigakan dari seseorang, bertransaksi di belakang pintu sebuah gedung pusat perbelanjaan dengan gelagat yang aneh. Via menyuruh Irin untuk bersembunyi dan segera menelepon ayahnya.
Diam-diam Via mengikuti orang tersebut, bisa jadi barusan terjadi tindak jual beli narkoba atau hal lain mungkin. Pria itu terus berjalan yang tanpa dia sadar ada yang mengikutinya di belakang. Sampai di suatu tempat mirip bangunan yang telah lama ditinggal, tampak banyak sekali algojo yang menjaga.
Via yang masih remaja tanggung, mengendap mengintip kegiatan orang-orang di dalam sana. Mencoba mengecek lewat kaca mata ajaib miliknya. Tampak di dalam banyak sekali derigen yang entah cairan apa di dalamnya. Alat-alat besar yang tengah memproduksi apa. Kemudian Via mengeluarkan benda mirip pistol, namun di mulutnya tampak sebuah pengait.
Ditembakkan benda itu, lalu pengait itu menarik tali dari dalamnya. Pengait tersangkut di bagian pembatas langit-langit dan Via memastikan pengaitnya tersangkut dengan kuat lalu memencet tombol hingga dia tertarik ke atas. Via memanjat, mengendap, dan mencari tempat persembunyian.
Terdengar percakapan dari orang yang diikutinya tadi. "Nanti malam semuanya harus beres. Agar besok pagi semua obat ini bisa kita distribusikan ke seluruh toko obat sekitar sini."
Orang yang seperti anak buahnya pun menjawab, "Baik Boss.. serahkan semuanya pada kami."
Obat? Ini pabrik obat-obatan? Tapi kok nggak layak banget bentuknya? Pegawainya tak tampak menggunakan pakaian steril dan sarung tangan?
Kemudian Via membuka tablet mencari informasi tentang pabrik obat ini. Tapi sama sekali tak ada informasi konkrit dari izin pabrik tersebut. Apakah ini pabrik obat ilegal? Terus transaksi tadi itu apa?
...*bersambung*...
...Jangan lupa meninggalkan tanda jejak yaa.. LIKE, LOVE, GIFT & VOTE 🥰🥰🤩🤩😍😍...
__ADS_1
...Terima kasiiiih.....