
*Notes: sebelum membaca bab ini, otor harapkan reader tidak terlalu masukkan ke dalam hati. Ini hanya hasil reka dunia pernovelan dari otor, dan hanya sekedar pandangan semata dari otor. Jadi jangan BaPer yaaa
Sampai di kantor polisi, mereka langsung membawa wanita yang seperti kepompong yang tertidur langsung ke hadapan Kapten I Bagus Suska.
Dengan wajah dingin dia bertanya, "Kenapa istri korban kalian bawa ke sini, seperti itu?"
"Coba lah Anda tebak Kap!!" sindir Via.
"Hahaha.. Kenzo.. akhirnya Kau muncul juga di sini. Setelah mengkhianati kami bergabung dengan BOS.. Lupa ya? Kamu telah dididik dengan baik oleh lambang ini?" menunjuk label kepolisian.
"Maaf Pak.. ini adalah pilihan saya.. Dan saya berhak untuk menentukan masa depan saya..." jawab Kenzo dengan kalem.
Menatap wanita yang terikat itu, lalu bergantian menyorot Via, Kenzo, dan Stevan dengan mata elangnya, "Lalu apa hubungannya kasus yang kemarin dengan wanita ini?"
"Dia lah pelaku sebenarnya," ucap Kenzo.
"Mana mungkin? Kami sudah menangkap pelakunya. Dia sudah mendekam di penjara!" sanggah Kapten itu dengan tegas.
"Cobalah Anda cek kembali Kap.. apa benar yang anda tangkap itu pelaku sebenarnya. Membiarkan pelaku yang asli bebas dan menyakiti orang lain lagi.." sela Via.
"Saya tidak bicara dengan pencuri!!" ujar kapten itu dingin.
"Terserah lah Kap.. saya hanya ingin Anda segera melepaskan Kak Rini. Kalau tidak, saya akan membuat jumpa pers, menyatakan bahwa anda salah menangkap pelaku membiarkan pelaku sebenarnya lepas, berarti membiarkan pelaku sebenarnya bebas menganiaya orang lain."
"Dia ini mengidap DID, alias kepribadian ganda. Anda boleh mengeceknya langsung ke psikolog, dan saya harap Anda nantinya tidak malu pada diri sendiri setelah semua ini selesai."
Melirik Via dengan nafas mendengkus, "Jadi kamu mengancam saya?"
"Saya tidak mengancam, saya hanya meminta Anda untuk mengecek mental dia ke psikolog ahli. Untuk membuktikan apa yang saya katakan itu benar atau tidak."
"Jadi wanita ini saya serahkan kepada Anda, saya menunggu kabar secepatnya agar teman saya Kak Rini segera dibebaskan, ditambah permohonan maaf langsung dari Anda, karena telah salah menangkap pelaku.."
Lalu Via melihat, si pelaku sudah mulai bergerak.Via sengaja menunggu, melihat reaksi wanita itu setelah sadar.
Perempuan itu mengerjap-ngerjap kan mata. "Saya dimana?" tanyanya mencoba melepaskan diri.
Via membungkuk dan menyodorkan wajahnya pada wanita yang telah dipasung sekujur tubuh itu.
"Ibu masih ingat saya?"
"Kamu siapa?" tanya dia dengan heran.
__ADS_1
"Jadi Ibu benar-benar tidak mengingat saya?" kembali Via menginterogasi wanita itu.
"Bukan kah hari ini pertama kali kita bertemu?" tanya wanita itu.
Via kembali ke tempat Stevan dan Kenzo berdiri. Dia hanya menggelengkan kepala pasrah, dan memastikan apa yang mereka duga, tersangka mengalami sindrom DID, alias kepribadian ganda.
"Apa pun yang akan kita tanyakan masalah tadi, dia tidak akan ingat!" jelas Stevan.
"Jadi kita harus bagaimana agar Kapten I Bagus Suska mau menuruti kita agar membawanya ke psikolog?"
"Kita berdoa aja lah, semoga ada titik cerah. Doain aja dia kumat saat kita udah nggak di sini. Biar pusing mereka untuk menenangi Ibu Nana ini," jelas Stevan 😂😂 *doa yang luck nut, jangan ditiru!*
"Kap. Kami boleh menemui Kak Rini?" tanya Via, yang hanya dibalas melambaikan tangan menyilakan dengan malas-malasan.
Via mengajak Stevan dan Kenzo menengok Rini di sel tahanan sementara. Kenzo menolak, meminta diri untuk menunggu di mobil saja. Sementara, Stevan ikut dengan Via.
Di dalam sel, tampak Rini meringkuk menangisi nasibnya. Kesialan berasa datang beruntun pada dirinya. Orang yang dia harapkan, telah pergi meninggalkan nya untuk selamanya.
Anehnya kepergiannya malah membawa kesialan untuk dirinya. Dirinya yang sudah ternoda, tidak suci lagi, ditambah dituduh sebagai pelaku atas perbuatan keji yang tidak dilakukannya.
"Kak Rini..." Via sudah siap memperlihatkan jati dirinya pada Rini.
"Bang Bule..." ucap Rini lirih berjalan ke arah sel pembatas.
Stevan yang tidak paham, menunjuk ke dirinya sendiri.. "Saya Mba?" Tanyanya heran.
"Wah, Abang bule jago banget bahasa Indonesia nya ya..."
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Stevan, yang melihat Rini seperti mengenal dirinya.
"Kemarin gue lihat lo tidur di dalam mobil travel., Ya gue saja yang tahu sama bang bule kok.. Karena bang bule Bobonya nyenyak bener."
"Kak..." Kembali Via memanggil, baru Rini fokus pada gadis kecil di samping Abang bule.
"Kak Rini baik-baik saja kan?"
"Gu..Gagu...? Ini Lo gagu?" Rini sangat terkejut mendapatkan tampilan berbeda dari Marni yang dia kenal..."
"Aku Via Kak," ucapnya lirih.
__ADS_1
"Via mana?" lalu dia berpikir sejenak, mengingat sesuatu yang pernah viral beberapa waktu lalu, namun tiba-tiba menghilang.
"Lo itu detektif Via yang sering disebut-sebut orang dulu?"
"Ya ampuuun… Gue bener-bener gak nyangka.. Detektif Muda yang dulu sering disebut-sebut orang ternyata ada di deket gue…"
"Kenapa sampai mengubah identitas begini?"
… Via pusing karena ocehan Rini, tidak tampak seperti orang yang dalam kesusahan...
"Karena banyak alasan Kak.. dan ini.. yang Bule kakak bilang kemarin adalah rekan kerjaku…"
"Ooohh pantesan dia ada di depan kostan… Kenapa tidak bilang dari kemarin…" ocehnya..
"Kalau Lo bilang dari kemarin-kemarin, kan gue tidak akan terlibat masalah yang absurd ini…"
"Lho? apa hubungannya?" tanya Via heran.
"Kalau gue kenal dia dari dulu kan, udah lama gue putusin si almarhum tukang selingkuh itu!"
"Sssttt..." Stevan dan Via serempak menyuruh Rini menghentikan umpatannya terhadap orang yang telah meninggal.
"Nggak baik mengucapkan keburukan orang yang telah meninggal Kak."
"Ini gue kesel tau nggak..? Udah metong malah mendatangkan masalah buat gue."
"Sabar ya Kak.. Ikhlas .." sela Stevan.
"Apa kakak nggak sedih, pacar kakak telah pergi untuk selamanya?" tambah Via.
"Huuuffftt, kalau dibilang sedih, ya sedih.. meskipun begitu, gue punya rasa yang lebih untuk dia. Tapi ketika tahu dia telah mengkhianati gue, diam-diam menikahi wanita lain, namun tidak memutuskan hubungan.. yang tersisa saat ini hanya sebuah kebencian.'"
"Sssttt.. Kakak tak boleh begitu.. maafkan lah dia.. Doakan dia tenang di kehidupan penantian nya…"
Tiba-tiba Via tersadar.. selama ini dia sendiri belum bertobat. Aakhh.. kapan pun gue juga bisa mati karena pekerjaan ini.. tiba-tiba air matanya jatuh mengingat dekat dengan kematian.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE & KOMENTAR...
...terima kasih...
__ADS_1