
Akhirnya Otor marah-marah sama Noveltoon. Berasa karya Otor tidak dihargai. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ Apa benar karya Otor tidak bagus??
Rasanya Otor pengen hengkang dari entun. Padahal Otor udah Up lebih dari 1x sehari, levelnya cuma naik 1 tingkat. Karena apa? Karena cerita Otor cuma dikit peminatnya. Terus harapan Otor untuk upah Up lebih dari 60.000 kata dalam sebulan tidak dikasi. Karena Lv. Otor masih sangat kecil.
Untuk para reader, mohon hargai kerja keras para Otor. Meninggalkan like dan komentar itu tidak lah berat. Memberi hadiah pun tidak lah berat. Reader bisa mengumpulkannya gratis setiap hari jika membaca novel yang up.
Ini sangat terasa bagi kami yang Otor-otor baru muncul di entun. Jika masih tak terlihat nasib baik di entun, mungkin Otor juga pindah lapak. Tapi tanggung jawab Detektif Muda akan Otor selesaikan dengan sebaiknya. Jangan lupa tulis kesan dan pesan selama membaca cerita ini. Terima kasih.
Jimmy sejak tadi berjibaku melawan anak buah Oliver yang banyak itu, terus berusaha mencari Via. Tampak pasukan yang satu tim dengan Via. Namun, dia tidak melihat Via.
"Van, dimana dia?" Jimmy mencegat Devan yang tengah bergerilia.
"Via?"
"Iya, siapa lagi."
"Tadi dia masuk ke sana!" Menunjuk pintu yang tengah terbuka.
"Oke, saya ke sana." Jimmy kembali melanjutkan mengendap masuk ke ruang itu dan langsung murka melihat kekasihnya tengah diperlakukan tidak senonoh oleh bule itu.
Tanpa aba-aba, Jimmy berlari sekencangnya, melompat dan memukul kepala Oliver dengan gagang pistol.
bugh...
Via terlepas dari jeratnya. Jimmy langsung memeluk dan mengecek keadaan Via. "Kamu baik-baik saja kan?"
Via mengangguk, dan tanpa membuang waktu, Via langsung bergerak membalas Oliver. Melompat dan memberi serangan menghunuskan siku ke leher Oliver.
"Aaarrgghhhtt...!!!" Oliver menatap Via penuh amarah. Mencoba untuk bangkit namun kepalanya diberi pukulan dengan lutut, "Aaaarrgghhttt!!" Kepalanya menjadi pusing seketika.
Via masih merasa belum puas, terus menghajar Oliver penuh rasa dendam. Ini adalah hari yang ditunggunya semenjak delapan tahun lalu. Dimana dia bisa membalas kematian Deval.
"Sayang! Sudah!"
"Aku tak akan berhenti menghajarnya hingga dia mati di tanganku sendiri."
Wajah Oliver menyeringai meski Via terus menghajarnya. Dalam layar monitor, terdengar suara Tosan yang dibuka penutup mulutnya.
"Via, kamu pergi lah!!!"
Wajah Via mendongak ke layar besar monitor LCD itu. "TOSAN..." pekiknya.
"Jika kamu masih memukul Tuan Oliver, jangan salah kan kami! Ayahmu akan kami tembak saat ini juga!"
"Via! Pergi lah! Jangan pikirkan Tosan. Pilih lah dengan siapa pun kamu ingin kan untuk menjadi pendamping hidupmu! Kamu harus memilih orang yang bisa membuatmu bahagia!"
"Diiaaam!!!" Mulut Tosan kembali disumpal dengan lakban. Lalu meninju dagu Tosan dengan sangat keras.
"TOSAN...!!!" pekik Via.
Via kembali mengeluarkan pistolnya. Menodongkan senjata api itu ke pelipis Oliver. "KENAPA KAU TERTAWA SIALAN? SUDAH BERSIAP UNTUK MASUK NERAKA?"
__ADS_1
"Huh? Neraka? Mungkin ayahmu yang terlebih dahulu ke sana!"
Via memukulkan gagang pistol itu ke kepala Oliver, "Hahaha, Kau akan merasakan panasnya api neraka terlebih dahulu!" Via mengokang senjata api miliknya itu. Bersiap-siap menarik pelatuknya.
Jimmy mencegah Via dengan memegang tangan yang bersiap menarik pelatuknya. Jimmy menggeleng. "Dia adalah urusanku. Aku ingin membalas apa yang dilakukannya delapan tahun lalu terhadapku."
"Kak! Jangan halangi aku! Jika dia sudah kubunuh sejak dulu, mungkin hingga sekarang Deval masih tetap hidup."
Mendengar Via mengatakan nama Deval lagi, Jimmy melepas tangannya. "Terserah! Sampai kapan Kamu akan terus dalam bayangan masa lalu?" Jimmy menjauh dari Via.
"Tuan keparat, ada satu permintaan yang akan kau minta sebelum dibakar api neraka?"
Meski tertunduk, Oliver menyeringai dan tersenyum licik. Sedikit atraksi menumpukan berat bada pada tangannya Oliver menendang tangan Via hingga senjata itu terjatuh. Lalu terjadi lah perebutan pistol itu antara Via dah Oliver.
praaak...
Oliver yang menang dalam aksi perebutan senjata itu. Jimmy bersiap berlari untuk menghajar Oliver, namun Oliver menodongkan senjata itu kepada Via.
"Kau siapa anak muda?" tanyanya kepada Jimmy. "Kenapa kamu selalu dikelilingi oleh banyak pria Sayang?" Mendekati Via, dan menariknya kembali dalam pelukannya.
"Seharusnya aku marah atas kelakuanmu tadi. Tapi semua pukulan yang kau beri hanya seperti gelitikan pada tubuhku. Aku sangat menikmatinya. Sepertinya melewati malam denganmu pasti akan sangat panas dan me\*ng\*ga\*ir\*ahkan." Oliver menjilat pucuk senapan itu.
"Keparat sialan!" umpatnya.
ddoooorrrr...
\*\*\*
**Aksi anak-anak Papa**.
Nono & Nana
Jimmy lebih dahulu sukses naik dan masuk ke dalam. Saat memanjat bangunan gedung itu, Nana dan Nono saling bahu membahu agar bisa sampai ke balkon lantai dua. Tiba-tiba, beberapa anggota gengster mendorong Nana yang duluan sampai di atas. Nono masih berusaha berpegangan pada talang air.
Nana melompat hingga bergelantungan di ventilasi, mengayunkan badannya, lalu melepaskan pegangan. Nana mendarat di tubuh algojo. Langsung melayangkan bogem berkali-kali hingga algojo pusing.
Saat satu algojo bebas akan menyerang Nana, Nono yang masih belum sampai di balkon menarik kaki sang algojo, hingga si algojo jatuh mendarat di pa\*n\*tat. Nono berhasil naik, menarik algojo yang pusing dihajar Nana tadi. Menariknya berdua sampai jatuh ke bawah.
🙉
Seperti yang dikhawatirkan Marko, Jason yang masih ababil masih belum paham situasi kali ini tidak sama dengan situasi yang biasa dia hadapi. "Eyang, kita lomba lari ke sana!" Langsung berlari masuk lewat pintu utama bangunan itu.
"Jason...!!!" Buana Putra mengejar cucu dapat gede itu. Jason ternyata sedang dihadang oleh mafia-mafia bule bertubuh bongsor. "Kan sudah Eyang bilang? Di sini tu bahaya!"
"Aku akan meninjunya Yang!" Jason melayangkan tinjunya pada sang algojo. "Aaarrghht," dia mengibaskan tangannya kembali. "Keras amat perutnya Yang." ucapnya sembari mencoba menghilangkan rasa sakit.
Buana Putra tak berpikir panjang, langsung mengeluarkan pistol dan mengokangnya. Algojo yang mau menghajar Jason, langsung ditembak bagian kepala oleh Buana Putra.
__ADS_1
doooorrr...
Algojo menegang, menimpa Jason yang masih asik memainkan tangannya. "Eyaang, tolooong..."
🙉
Apa kabar dengan Dino? Kali ini Dino *partner*-an dengan Marko. Dino yang biasa diampu sebagai penanggung jawab lapangan, bekerjasama dengan baik dengan Marko si ahli perencanaan. Dino bekerja sebagai tukang pukul, Marko sebagai pemandu sorak.
"Yang itu No! Di belakang lo!" Dino mengambil apa pun yang bisa digunakan untuk bisa memukul orang yang ditunjuk Marko.
paakk...
Memukul tepat bagian kepala menggunakan balok yang dia dapat tiba-tiba.
"No, di samping!" sorak Marko.
"Hei Njir! Lo sorak-sorak kayak *cheerleaders* doang? Bantuin gue napa?" ucapnya sambil mukul algojo yang ditunjuk Marko.
"Ini adalah salah satu bentuk kerja sama tim tau nggak?" jelas Marko berkilah.
"Wooiy, bacot aja lo? Awas! Di belakang!" teriak Dino.
Marko yang melirik ke belakang, terbelalak melihat algojo bongsor yang akan menangkapnya. Marko langsung ambil posisi tengkurap. Menarik kaki si algojo. Algojo langsung rebah, hampir menimpa Marko. Berpikir dengan cepat, mencari sesuatu yang bisa buat menghajar algojo.
Algojo sudah berusaha bangkit. Marko langsung melompat melayangkan lutut ke wajah algojo. Seketika hidung algojo mengeluarkan darah. Marko kembali melayangkan tinjunya pada algojo berulang hingga tak sadarkan diri.
brugghh...
Tiba-tiba Marko ditimpa algojo yang pingsan. Melihat siapa di baliknya. Ternyata Dino yang membuat algojo itu pingsan. Menggerak-gerakkan alisnya naik turun.
🙉
Kaum tua dua *uncle* berada dalam satu tim. Kevin berjalan takut-takut di belakang Gilang.
"Apaan sih lo? Malu-maluin tau nggak? Masa kalah sama anak-anak?" gerutu Gilang.
"Gue kan gak jago berantem!" ucap Kevin masih berjalan di belakang Gilang. Masih teringat dalam benaknya saat tangannya patah dihajar mafia delapan tahun lalu.
"Kalau bukan jagoan, ngapain ikut ke sini? Bikin repot!" Gilang melirik sesuatu yang bisa dijadikan senjata.
"Seperti kata Jason, gue ikut buat jalan-jalan gratis!" Masih berusaha berada di belakang Gilang.
Tiba-tiba jaket Kevin ditarik dari belakang oleh algojo yang mengikuti mereka diam-diam dari belakang.
...\*bersambung\*...
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...
__ADS_1