DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
114. Kamar Marni


__ADS_3

tok...


tok...


tok...


Irin baru saja pulang sekolah. Belum sempat berbelok ke kamarnya, dia langsung nangkring di depan pintu kamar Via sembari membawakan satu kotak besar pizza.


Siapa tau aja dia mau makan dengan ini.


tok...


tok...


tok...


Biasanya gadis itu sangat cepat membukakan pintu untuknya. Namun ini sudah kali kedua dia mengetuk pintu.


"Marni...!"


"Marni...!"


Namun masih belum ada jawaban. Irin menatap nanar ke arah pintu yang tidak mau dibukakan oleh orang yan ada di dalam. Dengan kecewa dia membawa kembali westerfood itu dari kamar Marni. Tampak Rini baru saja pulang kerja.


"Waaah, pizza? Bagi buat gue dong?"


Irin denga sedih menyerahkan satu kotak besar berisi pizza itu, "Ambil aja Kak. Aku tidak bisa menghabiskannya sendirian."


Kedua alis Rini bertaut, kening berkerut. "Lo kenapa?"


"Aku sedih Kak. Marni dah dua hari tidak makan."


"Kenapa dia?"


"Ada masalah besar yang tengah menimpa dia Kak. Bahkan sejak kemarin dia tidak keluar dari kamar. Aku ketuk, tetapi dia hanya diam tanpa jawaban."


"Ikut gue!" Rini menarik adik kos yang memiliki nama terbalik dengannya itu. Dia membawa Irin ke arah jendela kamar Via.

__ADS_1


"Mari kita periksa! Gue takut dia bundi di dalam."


"Bundi?" tanya Irin heran.


"Bunuh diri!"


Sontak Irin terkejut, itu terasa sangat tidak mungkin. Dia tahu bagaimana Via. Bahkan dia belum pernah melihat temannya itu bersedih. Yang dia tahu kawannya satu ini adalah cewek yang paling tangguh yang dia kenal.


Tampak Rini mencoba membuka jendela itu, ternyata tidak dikunci?


"Setau gue Marni itu suka melompat lewat sini. Pasti dia memiliki sebuah alasan untuk melakukan hal itu bukan?" Rini mengedipkan matanya.


Rini pun membuka jendela yang tidak terkunci itu. Hendak meniru aksi Via melompat lewat jendela. Tiba-tiba sosok murung dengan mata bengkak, muka sayu, dan tampak sangat lusuh mirip kunti muncul saat kepala Rini berhasil masuk ke dalam ruangan.


"Aaarrgghhttt..." pekik Rini, tangannya terlepas dan jatuh mendarat di bokong. "Hantuuuuuuu..." pekiknya.


"Mana ada hantu di siang bolong Kak?" Irin membantu Rini untuk bangkit.


"I-itu...!!!" menunjuk sosok cewek dengan rambut sudah berdiri setengah kusut ingin menutup jendela.


BRUGH...


Tiba-tiba si nyai kunti, eh Via tiba-tiba saja jatuh dan tidak sadarkan diri.


"Viiiiaaa...," pekik Irin melanjutkan aksi jadi malingnya hingga berhasil masuk ke kamar Via.


"Buka pintunya Rin!" titah Rini memilih berputar masuk lewat pintu.


Irin terlebih dahulu membuka kunci pintu kamar, baru kembali ke Via yang terlihat mengurus dan lemah.


"Via..!!! Via...!!!" Irin menepuk-nepuk pipi gadis itu, dan Rini pun sudah ada di sana.


"Kita bawa ke rumah sakit saja!" Rini memencet-mencet kontak darurat. Tidak lama ambulans datang, membuat warga kosan terheran.


Melihay cewek di atas brangkar yang pucat itu mirip maling yang mereka kejar beberapa waktu dulu.


"Kak, bukannya itu si maling yang kami kejar sambil lomba lari dikejar anjing galak itu?"

__ADS_1


"Maling?" tanya Irin heran, karena seingat dia memang ada kehebongan gara-gara ada yang menduga maling masuk ke dalam kosan.


"Ngaco lo! Mana mungkin ada maling masuk sini?" kata Rini. "Kalau berani-beraninya maling masuk, ini nah...!" Rini menunjukkan tinjunya. "Dapat bogem mentah dari gue...!" ucap Rini sok berani.


"Dia bukan maling!" ucap Irin menyela, melihat warga kosan semakin ramai melihat Via yang dibawa dengan brangkar oleh tim resque.


"Terus kenapa dia keluar dengan mencurigakan dari dalam kamar Marni? Yaa tentu saja kami kejar beramai-ramai, ada orang asing masuk ke kamar salah satu penghuni sini."


"Ngaco kalian! Ini kan Marni!" ucap Rini keceplosan. Ketika sadar dia baru saja melakukan ke salahan, disambut tatapan kesal sari Irin, Rini pura-pura melihat cicak sedang bermain kejar-kejaran di dinding.


"Marni? Ini Marni? Marni kan hitam dan jelek?" ungkap beberapa orang karena terkejut.


"Iya, sebenarnya ini lah sosok asli Marni," ucap Irin dengan pasrah.


"Woooaaahh... ternyata ini Marni. Jadi selama ini dia pura-pura jelek? Semacam kayak penyamaran gitu?" ucap salah satu penonton membulatkan bibirnya sok paham.


"Udah! Udah! Kalian berisik banget! Kami bawa Marni ke rumah sakit dulu. Kalian tolong kunci kan kamar Marni, tadi gue lupa menutupnya!"


"Siap kak!" ucap salah satunya langsung berlari masuk ke kamar itu. Dia sama sekali tidak pernah masuk kamar itu. Dengan sedikit kepo mencoba melihat-lihat ke dalam.


"Gilak? Kamarnya gede bener? Kamar gue sempit banget kayak lepet," ucapnya melihat-lihat banyak sekali benda-benda aneh yang dimiliki Marni.


Kembali melanjutkan tour di dalam kamar Marni. Lalu matanya menangkap sepeda keren yang selalu dipakai oleh Marni. Lalu dicoba untuk dinaiki, melihat banyak sekali tombol. Dengan iseng dia menekan salah satu tombolnya.


DOOORRRR...


Otor mau masuk Dusun ga ada signal ni..


Haaahh..bakalan sepi lapak otor.. 😀🤣🤣


Kalau ada reader berbaik hati untuk promo, tolong promoin yaa.. 🤣🤣


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2