
"Kak," sapa Irin. "Kamu itu Kak Jimmy ya?" tanyanya untuk memastikan.
Jimmy telah menyelesaikan kegiatan susun-menyusun kulkasnya. "Sabrina," jawabnya membalas sapaan Irin. "Sudah diceritakan olehnya kan?"
"Aku ingat dulu sebelum kami pindah, Kak Jimmy dalam perawatan keluar negeri. Ternyata ketemunya malah berubah menjadi makin tampan."
"Hehehe, kamu pinter becanda ya?"
"Aku tidak sepintar Via kok Kak, jago becandanya," lalu mereka berdua tertawa.
"Eeekheeemm... ada yang ngomongin gue nih?" sungutnya.
"Semua sudah beres, kalian sudah bisa memasak sarapan buat pagi nanti," ucap Jimmy berjalan menuju pintu keluar.
"Loh? Itu aja Kak? Ayo sini ngobrol dulu?" ajak Irin sambil menepuk-nepuk sofa di sebelah Via.
"Udah malam, ini saja rada kurang enak keluar masuk di rumah kalian. Tapi aku kasihan jika dapurnya kosong gitu. Kalau ada apa-apa kalian bisa panggil aku. Aku di lantai atas."
"Waaah, kakak tinggal di sini juga?"
"Oh ya, nanti kalau ada apa-apa kami hubungi." Irin berjalan ke arah Jimmy sembari mengeluarkan ponselnya. "Boleh minta kontaknya?" menyerahkan ponsel ke Jimmy yang ternyata sudah tertera kontak Via.
Jimmy terbelalak, dan Irin memberi kode agar pria itu menyalin kontak tersebut diam-diam. "Udah!" menyerahkan kembali ponsel milik Irin.
"Terima kasih ya Kak," melambaikan tangannya. "Nanti mampir lagi yaaa!" masih melambaikan tangan. Jimmy mengedipkan mata mengacungkan jempol.
"Kalian terlihat mencurigakan," Via menatap dengan tajam.
"Maksud lo?" Irin seolah tidak peduli, lalu berlalu untuk membersihkan diri.
***
Jimmy keluar dari rumah Via, dan baru saja mendapatkan kontak gadis itu tanpa perlu memikirkan drama cara meminta kontaknya. Dia pun merasa heran, tumben sekali Irin menyambutnya dengan baik hari ini.
Jimmy memilih tangga menuju satu lantai lagi ke tempat yang baru saja menjadi tempat tinggalnya. Rumahnya tepat berada di atas rumah Via. Rumah itu tengah penuh diisi oleh anggota White House, mafia game online yang dibentuknya.
__ADS_1
Mereka ditugaskan oleh big boss yang memiliki panggilan khusus 'Papa'-- oleh para anggotanya. Menyusun setiap bagiannya, agar membuat Jimmy merasa nyaman tinggal di sana.
"Sebenarnya tidak disusun pun tak masalah. Toh dia cuma buat numpang tidur saja di sini," celetuk Kevin.
"Aah, elo... Bukannya didukung Tuan Papa mengejar cinta, ini agar mereka makin dekat. Gue sih setuju Jimmy pepet terus si Marni," ucap Gilang.
"Marni?" tanya seseorang mulai mendekat. "Kenapa Marni?" seorang yang kepo itu adalah Dino.
"Calon Mama kalian!" celetuk Kevin.
Dino seketika menengok ke arah Romi. Romi sang hacker mereka sibuk dengan laptopnya. Padahal sebenarnya dia tengah mendengar percakapan itu juga. Meski saat ini dia sudah memiliki pacar, entah kenapa dia masih penasaran dengan Marni. Yang berhasil diketahui keberadaannya di Amerika. Ya, dia lah orang yang menemukan Marni pertama kali, di negeri paman sam itu.
"Kenapa semua orang pada suka sama Marni sih?" celetuk Dino. Tiba-tiba dia teringat pada seorang perempuan di mobil tadi pagi yang dikatakannya sombong.
"Eeeiy, yang tadi didorong pakai kursi roda oleh Deri itu si Marni?"
"Lo lihat orangnya?" tanya Romi.
"Yaaa, lihat laah." Dino menggosokkan kedua telapak tangannya. "Hmmm, pantesan aja dia nggak mau diajak bicara yaa. Ternyata dia masih dendam sama gue yaa." Dino seperti merencanakan sesuatu.
"Hei, bukannya lo menyukai dia?"
"Hmmm, Gue juga udah punya cewe!"
"Tapi lo main-main doang. Masa iya sekali, macarin anak orang sekaligus empat?"
"Hahaha, gue juga baru sadar ternyata gue tampan!"
Dino menoyor kepala Romi, "Mending kasih ke gue satu!"
"Hahaha, salah sendiri! Ngerjain Marni sampai segitunya dulu. Cewek-cewek pada ilfeel sama lo kan?"
"Sialan lo!" Dino menginjak kaki Romi lalu kembali membereskan rumah sang big boss.
Sementara Romi tkembali membuka laman berisi foto-foto Marni di Amerika. Dia sudah tahu Marni bernama asli Via itu seorang detektif semenjak Via pergi begitu saja meninggalkan mereka. Berusaha mencari informasi hingga belajar menjadi hacker. Kala itu dia mengalami patah hati yang luar biasa saat memutuskan akan menyatakan cinta, namun orangnya telah pergi begitu saja.
__ADS_1
***
Setelah rumahnya sepi, semuanya telah beres, Jimmy akhirnya bisa merasa lega. Menyandarkan diri di atas tempat tidur sembari menatap ponsel yang hanya memiliki satu foto wanita yang dicintainya itu.
Dilihatnya waktu telah lewat tengah malam. Tidak mungkin untuk menghubungi gadis yang tinggal di bawahnya ini. Lalu merebahkan diri masih melihat foto itu.
"Setidaknya kali ini kamu tidak lagi mencoba kabur seperti dulu, cuuup...," ditutup dengan mencium foto itu dan memeluknya memejamkan mata.
Kita masuk ke cerita delapan tahun lalu saat Jimmy dibawa oleh sang ayah ke negara yang memiliki kemampuan merenovasi wajah yang hebat. Tanpa mengatakan apa-apa, Jimmy hanya mengikuti arahan sang ayah. Menjalani serangkaian tindakan untuk memperbaiki wajahnya yang sudah tidak berbentuk lagi akibat cairan amoniak yang disiram oleh Oliver.
Beberapa waktu kemudian, di saat harus membuka perban usai operasi plastik, Jimmy memperhatikan di dalam cermin setiap lembar yang dilepas dokter yang menangani kasusnya. Di saat mulai lembaran pertama, perasaannya semakin tidak karuan. Setelah semua selesai, dia tertegun, mendapati orang yang tidak dikenal di dalam cermin.
"Apakah wajah saya tidak bisa dikembalikan seperti dulu lagi Dok?"
Dokter itu tersenyum tipis, meletakkan tangannya di pundak Jimmy. "Kami sudah melakukan hal yang terbaik, sesuai kemampuan kami. Selamat menjalani hari-hari menjadi orang yang baru!" Dokter meninggalkan Jimmy yang masih tertegun melihat diri yang berbeda di dalam cermin.
Apakah Marni masih bisa mengenalku?
Akhirnya Jimmy kembali ke Indonesia, dan menjalani hari-hari menjadi Jimmy yang baru. Duo kawan yang melihat perubahan Jimmy, merasa tak percaya melihat orang yang berbeda ini adalah Jimmy. Begitu juga dengan seluruh warga sekolah.
Mendapati Marni yang tiba-tiba menghilang begitu saja, membuat Jimmy seperti orang gila dalam mencari informasi tentangnya. Menemukan Romi yang sama-sama mencari informasi mengenai gadis itu. Akhirnya mereka tahu, Marni kembali Singapura berkumpul bersama keluarganya usai mengalami depresi setelah kejadian besar, meninggalnya siswa bernama Joko, pacar Marni.
Jimmy melanjutkan pendidikannya menjadi mahasiswa kedokteran seperti yang dicita-citakannya. Kevin memilih perkuliahan administrasi bisnis, dan Gilang mengambil kedokteran di kampus luar kota. Jimmy dan Romi masih terkoneksi untuk mendapatkan berita tentang Marni, yang mereka ketahui bernama Via.
Saat lulus sekolah menengah, Romi mengabarkan Via pindah ke Jepang. Membuat harapan kedua orang ini semakin pupus. Akhirnya Romi memilih perkuliahan bidang IT, bercita-cita menjadi hacker handal untuk merekam kembali jejak yang telah dihapus.
Usai Jimmy menyelesaikan pendidikan spesialisnya, dia mendirikan rumah sakit. Mengajak orang-orang yang dikenal, termasuk Romi yang juga baru saja lulus. Romi mengajak kawan-kawannya dan tereeeng, jadi lah Mafia White House, dengan segala programer berotak Romi.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...
...Otor Akan mau ikut Event lomba Wanita Mengubah Takdir... Nanti Mohon Dukungan juga yaaa.. Otor mau nulis kerangkanya dulu..hehehe......
__ADS_1