
Bab ini mengandung bawang, buat yang baperan tidak disarankan membacanya, karena akan membuat kepikiran, dan mewek di pojok rumah.
Stevan melangkah dengan cepat menuju tempat perkiraan Via berada saat ini. Tepat di depan kamar mayat, tampak ramai dikerumuni oleh keluarga Deval, Via, dan Irin.
Wajah Via tampak sayu, tak berjiwa. Stevan duduk di samping mereka. "Bagaimana keadaannya?" tanyanya kepada Irin. Irin hanya bisa menggeleng pelan.
Lalu posisi Stevan pindah berjongkok tepat di hadapan gadis yang sejak tadi diam seribu bahasa. Menyugar poni yang sudah berantakan posisinya. Lalu Via melihat orang yang memiliki tangan itu.
"Aa..." ucapnya lirih. "Seharusnya gue yang mati A..." ucapnya dengan mata kosong. Mendengar itu air mata Irin kembali jatuh.
Stevan meletakkan jemarinya untuk menutup mulut Via, dia hanya menggeleng, "Sssttt...!"
Via bangkit mencoba mengintip aktivitas di dalam ruang itu. Namun tidak ada yang terlihat, entah di bagian mana mereka mengurus jenazah Deval. Lalu Via berjalan dengan tatapan kosong menuju pojok ruangan. Dia berdiri mematung dengan tatapan kosong.
Stevan tidak tega melihat keadaan Via yang seperti itu. Gadis cerewet yang biasanya banyak bicara ini tiba-tiba diam seribu bahasa. Stevan perlahan mendekat dimana Via tengan mematung. Dipeluknya gadis dalam wajah pucat, tengah merana karena ditinggal untuk selamanya
Jika yang pergi itu adalah aku, apa kamu juga akan seperti ini?
Via melirik orang yang tiba-tiba memeluknya dari belakang itu. Lalu melepaskan diri, dan satu tangannya bertumpu pada dinding. Membenamkan wajahnya dan terlihat bahunya bergetar hebat, tanpa suara.
"Via, kalau mau melepaskan sesak itu, maka menangis lah! Kamu bisa melepaskan semuanya. Menangislah sekeras yang kamu mau...!"
Namun Via memilih berjongkok. Membenamkan kembali wajahnya. Sungguh hebat rasa putus asa kerana kasih tak sampai, terhalang alam yang telah berbeda.
"Seharusnya gue harus konsisten sejak awal akan hal ini. Gue tidak boleh mencinta. Gue hanya boleh hidup sendirian tanpa siapa-siapa. Aa menjauh lah! Irin juga tidak boleh deket dengan gue. Gue ditakdirkan untuk itu. Untuk hidup sendiri tanpa ada yang mengenal gue!"
Stevan memilih diam, apa pun yang akan dikatakannya saat ini hanyalah sesuatu yang sia-sia. Membiarkan gadis itu menenangkan diri sendiri.
__ADS_1
***
Buana Putra dan istrinya tergesa memasuki ruangan gawat darurat. Mereka segera mencari dimana posisi anak kebanggan mereka saat ini. Tampak Kevin dan Gilang sedang berdiri di satu sisi yang tengah tertutup kain pembatas bewarna biru.
Kedua orang tua Jimmy langsung membuka tirai itu. Tampak para nakes tengah sibuk memberi perawatan kepada Jimmy. Sang ibu yang sangat terkejut melihat kondisi wajah Jimmy seketika menjerit tidak menerima kenyataan ini.
"Maas! Ini ulah Kamu! Gara-gara Kamu anakku jadi begini."
Buana Putra hanya terdiam. Tidak menyangka Oliver bisa melakukan hal itu kepada putranya. Dia memilih beranjak ke pojok ruang yang sepi. Menekan tombol untuk menghubungi Bruno yang ada di Italia.
"Hallo Mr. Buana Putra. Apa kabar?"
"Bruno! Apa yang kau lakukan kepada anakku?"
"Anakmu? Kalau tidak salah namanya Jimmy? Apa maksudmu?"
"Anak buahmu menyiramkan air keras ke wajah anakku Jimmy. Saat ini kondisi anakku benar-benar sangat buruk!"
"Tanyakan langsung olehmu! Dia anak buahmu! Jika kamu tidak menindaklanjuti kelakuan Oliver itu, mungkin hubungan bisnis kita sudahi saja!"?
"Tenang lah Mr. Buana! Jangan gehabah! Biar Oliver aku yang mengurusnya...!"
"Bagaimana dengan anakku? Mukanya rusak akibat ulah anak buah kesayanganmu itu...!!!"
"Tenang... Segera lah urus perbaikan wajahnya. Carilah dokter bedah plastik terbaik di dunia! Biar aku yang akan menangani masalah biaya!"
"Bedah plastik?"
"Iya. Kita lakukan bedah plastik terhadap anakmu. Namun, setelah wajahnya berhasil diperbaiki, aku akan menjadikannya sebagai pengganti Oliver. Aku sangat tertarik dengan kisah mereka. Bahkan, aku sendiri tidak menau apa yang terjadi."
__ADS_1
"Aku rasa tidak perlu! Aku bisa membiayainya sendiri tanpa bantuanmu!!! Mau dia ikut denganmu atau tidak, itu adalah keputusannya sendiri!"
"Huh, Aku rasa kau melupakan janjimu akan memenuhi semua keinginanku saat kau kembali berjaya."
"Mungkin ada pilihan lain? Aku rasa anakku tak tahu apa-apa jika kau ingin melibatkan dia ke dalam masalah di antara kita."
Bruno menutup panggilannya, menyunggingkan senyuman licik. "Kau mau bermain-main denganku Buana Putra?" lalu Bruno menekan layar ponselnya, menghubungi Oliver.
Buana Putra menggenggam tangannya, merasakan kemarahan atas yang dialami oleh anaknya. "AWAS KALIAN!!!"
Lalu Buana Putra segera mengurus pemindahan perawatan Jimmy. Memilih perawatan bedah plastik yang terbaik di dunia.
***
Di pemakaman, Via tak sanggup berada di dekat pusara Deval. Dia masih merasa semua ini seperti mimpi. Baru saja dia merasakan kehangatan kisah bersama Deval, dalam hitungan beberapa jam saja dia sudah tidak ada di dunia.
"Val, kenapa lo tega ninggalin gue di saat gue memutuskan untuk menjalani ini bersama lo? Seandainya saja gue bisa melihat masa depan. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Mungkin gue memilih untuk tidak mengenal lo atau siapa pun yang ada di dunia ini."
Dia menatap kosong ke arah para pelayat yang tengah mengelilingi pusara Deval. Irin berjalan ke tempat dimana Via duduk meringkuk di bawah pohon jauh dari para pelayat. Memang benar, dia lebih memilih Stevan untuk dekat dengan Via. Tapi sama sekali tak terbesit dalam pikirannya jika Deval harus pergi untuk selamanya.
"Vi, lo harus kuat. Jangan begini terus. Sampai kapan lo diam menjauh seperti ini?"
"Pergi lah! Gue gak mau hal yang sama menimpa lo juga."
Hari ini Senin, jangan lupa tambahkan Vote nya yaaa.. bantu semangati Author yaa.. Ini cerita Author bawa dalam event lomba Yang Muda Yang Bercinta.
...*bersambung*...
__ADS_1
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...