
"Akhirnya kalian datang juga." Terdengar suara bariton menggelegar dari arah sebuah pintu.
Dengan wajah sumringah, terlihat Buana Putra berjalan semakin mendekati mereka. Via secara refleks mundur ke balik bahu Jimmy. Jimmy kembali merangkul pinggang Via mendorong agar maju sedikit lagi.
"Kamu jangan takut!" ucap Buana Putra, menyalami sang gadis, Via agak ragu menyambutnya. Akhirnya tetap disambutnya.
"Kamu masih mengingat kejadian lalu ternyata?" ucap ayah Jimmy. Via hanya bisa tersenyum canggung. Ini terasa benar-benar berat baginya.
"Maaf kan saya atas semua hubungan buruk kita di masa lalu. Kamu tenang dan jangan takut! Saya tak akan menyakiti wanita yang dicintai setengah mati oleh putra saya." ucap Buana Putra seramah mungkin.
"Kamu tahu? Banyak sekali yang terjadi saat kamu menghilang. Kami kasihan sekali melihat Jimmy kala itu." ucap Ibu Jimmy menekankan ucapan suaminya.
Via kembali menatap Jimmy. Pria itu hanya mengangguk sekali, mengajak masuk duduk di ruang tamu yang luas.
"Via, jika memang kamu serius dengan anak saya, mulai hari ini belajar lah memanggil saya dengan Papa!" titah Buana Putra.
...glek...
Papa? batinnya.
"Iya Sayang. Seperti aku memanggil Mami dan Tosan kamu. Oh iya, mana handphone kamu? Ayo kita videocall dengan keduanya." ucap Jimmy sembari menengadahkan tangannya.
Via masih memiliki perasaan gundah. Apa Tosan masih ingat nama Buana Putra? 'ck' Aku harap, Tosan udah lupa.
Dengan ragu Via melakukan panggilan video terhadap kedua orang tuanya sekaligus. Jantung Via berdegup kencang, dia merasa ada sesuatu besar yang akan terjadi setelah ini. Telepon belum sempat dijawab, Via kembali menutup kedua panggilan itu.
"Kenapa ditutup lagi?" Jimmy memasang wajah heran.
"Lain kali saja Kak. Kayaknya saat ini kita terlalu terburu-buru."
Aku memang sudah tidak sabar untuk bersama denganmu Sayang," bisiknya di telinga Via.
"Ada apa Jim?" tanya sang ayah.
"Oh, tidak apa Pa."
Jimmy merebut ponsel itu, dan mencoba melakukan panggilan ulang. Tak lama panggilan pun masuk pada kedua orang tua Via. Keduanya telah terlihat rapi.
Semangat sekali Tosan. Pasti Tosan yang memberitahu Mami, batin Via.
"Halo semua!" sapa Tosan di layar tersebut.
"Haloo.. selamat sore..." Mami Via ikut menyapa.
Kedua orang tua Jimmy ikut memberi salam. "Wah, lucu sekali ya. Seperti pertemuan dua keluarga saja?" ujar ibu Jimmy.
"Iya, tidak apa. Sekalian buat kita resmikan saja secepatnya." ucap ayah Jimmy.
"Iya, benar. Jimmy sepertinya sudah tidak sabar." timpal ibunya.
"Eekhemmm..." Jimmy berdehem menahan malu. Sementara Via masih deg-degan.
"Perkenalkan saya Mamanya Jimmy, kalau tidak salah kita pernah bertemu waktu di rumah sakit dulu kan?"
__ADS_1
"Oh iya? Dokter yang merawat Via dulu kan? Ternyata Anda ibunya Jimmy?" sambut ibu Via yang juga masih mengingat hal itu.
"Iya, Jimmy sudah menyukai Via sedari dia sekolah lho Bu?" timpal ibu Jimmy.
"Ekheemmmm..." kembali Jimmy berdehem. Mukanya mulai merah karena harap-harap cemas dan deg-degan.
"Waaah? Benar kah? Jimmy sudah menyukai Via sejak lama?" sambung ibu Via.
"Iya, beneran. Tetapi kala itu, dia patah hati karena Via tidak menyukai dia." Sang ibu melirik Jimmy sambil menahan tawa. Via juga ikut melihat Jimmy, mengingat dirinya dulu yang masih asik bersama Deval.
"Ekheemm..." terdengar deheman pria dari dalam layar tersebut. "Giliran bapak-bapak sudah ada belum?"
"Hehe, maaf." ucap kaum ibu.
"Saya ayahnya Via. Anak-anak kami biasanya memanggil Tosan. Jadi, Jimmy juga boleh ikut memanggil Tosan. Nama saya Chizuru Sato. Biasa dipanggil Mr. Sato."
"Tosan pamer ya?" gumam anaknya.
Sato? Bukan kah itu pimpinan Organosasi BOS yang dibicarakan Bruno? batin Buana Putra.
Dia melirik Via, 'Jadi selama ini dia lah yang dicari oleh Bruno namun tidak ditemukan juga?' Ayah Jimmy merasa ada sesuatu yang mengganggu kerongkongannya. Melonggarkan kemeja yang terasa mencekiknya.
"Halo Mr. Sato, saya Mamanya Jimmy. Nama saya Rita Suguarty. Di samping saya ini...--"
Wajah Via semakin menegang.
"Biar saya saja yang langsung memperkenalkan diri." Buana Putra merebut ponsel itu dari tangan istrinya.
"Kabar Baik. Semoga semuanya baik-baik yang ada di sana." ucap ayah Via.
Hufffttt... untung tidak jadi menyebutkan nama. Via kembali duduk dengan perasaan tenang.
Ayah Jimmy menyerahkan kembali ponsel itu ke Jimmy. Di dalam layar ayah Via tampak merenungkan sesuatu. "Oh iya Jim, kalau boleh Tosan tau, nama Papa kamu tadi siapa? Wajahny terasa cukup familiar."
"Oh papaku Tosan? Namanya Buana--"
Via ingin mencegat, namun sudah tidak sempat.
"Putra."
Ayah dan ibu dari Via terdiam sejenak. "Coba ulangi lagi!" titah calon mertua.
Via buru-buru mengambil ponsel tersebut. "Udah dulu ya Tosan, Mami. Kami lanjutkan ngobrol di sini dulu!" Via langsung menutup panggilan itu.
"Ada apa?" bisik Jimmy di telinga Via.
"Hmm, enggak." Via menggelengkan kepala. Namun, perasaannya sudah tak karuan. Sepertinya Tosan masih mengingat nama itu.
Buana Putra seolah memahami apa yang tengah disembunyikan oleh Via. "Apa kamu tidak menceritakan latar belakang keluarga Jimmy kepada orang tuamu?" tanya Buana Putra.
"Hmmm, aku masih bingung untuk membahasnya Om, eh Pa." Via memainkan jari-jari di kedua tangannya. Dia benar-benar merasa kalut saat ini. Tosan pasti langsung mencari informasi.
Jimmy memperhatikan Via yang sibuk memainkan tangannya. "Ada apa? Apa yang kamu pikirkan?" bisiknya.
__ADS_1
"Ooh, enggak. Hanya sebuah kecemasan tak berarti." gumam Via masih tertunduk.
Salah satu tangan Jimmy menggenggam dua tangan Via yang terus bergerak. Dia memahami kondisi Via. "Semua akan baik-baik saja." ucap Jimmy meyakinkan.
"Semoga," desisnya.
"Nah, dari pada bingung, ayo kita makan dulu?" ajak ibu Jimmy.
Ayah Jimmy langsung berdiri, mendekati Via. "Via, Papa harap kamu bisa memaafkan segala yang terjadi di masa lalu di antara kita. Papa sudah meninggalkan pekerjaan itu."
"Jadi saya harap Kamu jangan terlalu canggung berada di rumah ini. Kamu akan menjadi istri dari anak Papa. Berarti Kamu akan menjadi anak Papa juga." Mengelus kepala Via.
"Nanti Papa akan melindungimu, sebagaimana Jimmy melindungimu." ucapnya melangkah menuju ruang makan.
"Aku tak menyangka papamu seorang family man banget." ucap Via menyambut tangan Jimmy yang mengajaknya bangkit dari posisi pewenya.
"Aku juga heran, kenapa papaku bisa berhubungan dengan orang-orang aneh." celetuk Jimmy, menggandeng Via menuju ruang makan.
Tak lama, Via telah menikmati masakan yang dibuatkan oleh assisten rumah tangga mereka. Akhir-akhir ini dia dan Irin selalu dapat kiriman makanan dari Jimmy. "Makanan Indonesia memang the best." Via bergumam lupa diri.
"Orang yang lama di luar ya?" sindir Jimmy terkekeh.
drrrttt...
drrrrtt...
Via melirik layar ponselnya, ternyata sang ayah yang memanggil. Sengaja tidak diangkat.
drrrttt...
ddrrrttt...
Tosan kembali melakukan panggilan. Panggilang itu masih dibiarkan begitu saja.
drrrttt...
drrrttt...
"Sayang, cepat angkat!" titah Jimmy.
"Nanti aja! Aku lagi menikmati makanan." elak Via.
"Kalau begitu biar aku yang angkat!"
"Ja--" Via belum selesai mengucapkan kata 'jangan'. Namun, panggilan telah dijawab oleh Jimmy. Terlihat Jimmy menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Jimmy langsung menyerahkan kepada Via.
"PULAAAAANG!!! KAMU PULANG!!!" teriak sang ayah di balik panggilan itu.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...
__ADS_1