
Irin yang mendengar pernyataan gadis patah hati itu langung menariknya berdiri. "Apa pun yang lo katakan gue tidak peduli! Kita ini udah seperti saudara! Bukan lagi sekedar pertemanan biasa!"
Via melepaskan tangan Irin yang menarik bajunya. Tanpa berbicara apa-apa, dia beranjak pergi. Kembali ke rumah kost dan mengunci diri. Ponselnya dinonaktifkan lalu membenamkan diri di bawah selimut.
Hingga keesokan pagi, Via belum juga keluar kamar. Membuat Irin menjadi khawatir.
Dia belum makan apa pun semenjak kemarin. Kalau begini terus dia bisa sakit.
Untuk kesekian kalinya Irin mengetuk pintu kamar Via semenjak mereka pulang dari pemakaman. Namun yang di dalam hanya diam tidak bergeming.
Irin memutuskan untuk berangkat sendirian ke sekolah. Sekolah tengah dihebohkan berita bahwa siswa kelas sepuluh meninggal karena ditembak penjahat.
Untung saja Via tidak ke sekolah hari ini, jika ke sekolah, mungkin dia akan semakin stress mendengar desas-desus yang sedang merebak ini.
"Rin...!"
Ada seseorang yang tengah tengah memanggil namanya. Ternyata itu adalah suara Dino. Irin hanya tersenyum kecut dan kembali berpura-pura sibuk.
"Heh, Rin! Lo denger panggilan gue gak sih?" Dino berjalan semakin mendekat. Romi ikut mendekat. "Marni kemana? Udah dua hari dia bolos dari sekolah."
"Ada apa?"
"Udah dua hari bolos sekolah, berarti udah dua hari juga dia absen dari tugas kacungnya."
Irin menautkan kedua alisnya. "Masih ya membahas hal itu di saat seperti ini?"
"Marni pasti sedang sedih ya? Pacarnya meninggal dengan sangat mengenaskan seperti itu?" celetuk Romi.
"Maksudnya?" tanya Dino tidak paham akan berita yang tengah viral di sekolahan.
"Gue gak nyangka aja Marni itu punya banyak pacar. Kalau satu pacarnya udah gak ada, gue bersedia kok menjadi pacar pengganti Marni." tambah Romi dengan ekspresi yang tidak dapat dipahami.
__ADS_1
"Jadi selama ini lo suka sama si jelek Marni?" tanya Dino dengan polosnya.
"Eeeh.. eng..emm..." Romi menjadi gelagapan. Apalagi kejadian beberapa waktu lalu melihat Marni yang cantik. Sebenarnya dia sudah mulai menyukai Marni, namun gengsi untuk mengakuinya karena Marni itu sangat jelek. Apalagi dia sudah dekat dengan sosok culun anak sosial. Dia memilih untuk diam.
Tetapi mengetahui Marni itu aslinya sangat cantik, ditambah saingannya si culun sudah ke alam baka, membuat kepercayaan dirinya muncul untuk bisa mendapatkan gadis itu.
"Lo menunjukkan tanda-tanda mencurigakan!" ucap Dino dengan nada menyelidik
"Gue? Kenapa gue?" dia masih salah tingkah.
Irin merasa tidak tertarik dengan percakapan duo kawanan itu memilih bangkit dan duduk di bangku depan koridor. Matanya menangkap dua kawan Jimmy, satu menggunakan tongkat, yang satu tangannya disangga oleh arm sling.
Mereka kenapa ya? Apa mereka terlibat dengan kejadian kemarin? Jimmy kemana?
Irin kembali bangkit, mendekati tiga sekawan yang kurang satu orang itu. "Kakak-kakak kenapa?" tanya Irin.
Kevin mencari satu sosok yang baru diketahui sosok sebenarnya oleh mereka. Ternyata Marni adalah Detektif Via yang dulu sempat booming sesaat di Utub, namun tak beberapa lama berita itu kembali menghilang. Sekarang mereka baru megerti mengapa hal itu terjadi. Karena Detektif itu masih sangat muda, dan rapuh.
"Marni kemana ya? Tumben tidak barengan?"
"Ehmmm, dia sedang tidak enak badan."
Kembali Kevin dan Gilang teringat kejadian yang mereka saksikan oleh mata kepala mereka sendiri. Akhirnya memilih memahami mengapa gadis cantik yang mebuat Jimmy tergila-gila itu tidak hadir ke sekolah saat ini.
"Kalian tidak apa-apa Kak?"
"Oooh, ini doang. Kami baik-baik saja kok."
"Teman kalian satu lagi dimana? Tumben sekali tidak kelihatan?" Irin mencoba mengedarkan penglihatannya ke segala sisi. Siapa tahu bisa melihat Jimmy.
"Oh.., eehh, tumben nanyain dia?" celetuk Gilang.
__ADS_1
"Iya, biasanya mukanya selalu disetor kemana-mana kan. Jadi berasa aneh aja sekarang tidak kelihatan."
"Jimmy sedang dalam pengobatan. Jadi hingga beberapa waktu kemudian mungkin belum bisa ke sekolah."
'"Memang apa yang terjadi padanya?"
"Apa Marni tidak menceritakan kejadian kemarin kepadamu?" tanya Kevin merasa heran seolah Irin tidak tahu.
Irin menggeleng pelan, "Marni hanya diam, menangis, dan mengunci diri. Aku belum berhasil berbicara dengannya hingga saat ini." Irin tertunduk lesu, bahkan sejak kemarin sama sekali belum memakan apa-apa.
"Menurutku wajar dia begitu. Sepertinya dia sangat menyukai almarhum ya?" Irin mengangguk pelan.
"Doakan Jimmy baik-baik saja ya. Semoga operasinya berhasil."
"Ada yang bersedia menceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi?"
"Mungkin sebaiknya kamu tidak usah tahu. Cukup lah semua menjadi kenangan dan pelajaran," ujar Gilang yang membuat Kevin terpana.
Tumben ni bujang mengeluarkan falsafah Mbah-nya...
Gilang yang memahami arti tatapan dari Kevin, menghentakkan tongkat pembantunya berjalan ke jempol kaki temannya itu.
"Aaawww..." pekiknya.
"Semoga semuanya baik-baik saja ya Kak... Begitu juga dengan Kak Jimmy."
Lalu duo kawan itu mengangguk.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
__ADS_1
...terima kasih...