DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Promo: Cuplikan paling bawah


__ADS_3

Halo kakak-kakak,


Udah seminggu ni Otor menyelesaikan Detektif Muda ini. Otor ternyata masih merasa kangen menulis banyolan-banyolan di cerita ini.


Terbiasa menulis cerita berat, ada dugh dugh dagh dagh nya, ketika menulis cerita ringan, Otor merasa ada yang kurang.


Nanti kalau ada event YMYB lagi, Otor mau nulis cerita nyeleneh lagi. Ada yang mau baca ngga ya kalau judulnya di bawah ini?



Otor suka aneh-aneh ya nulisnya? Otor juga heran ni kenapa haluan Otor bisa nyeleneh mulu. Padahal udah tau jarang dilirik. Coba aja nulis yang hot-hot pop? Pasti pada rame ... wkwkwkwk ...


Masalahnya Otor seorang guru lho ... Suka ngajak Siswa baca karya Otor 🤣🤣🤣


Jadi Otor gak berani tulis yang nganu-nganu.



Bagaimana cerita ini? Judulnya ada HOT nya juga. Tapi ini Otor jamin bebas aneh-aneh ... 🤣🤣🤣


Waktu nulis ending kemarin, berasa panas dingin Otor nulisnya 🤣🤣🤣


Nah, begini ... Semoga saja Level Otor Naik jadi Silver awal bulan Maret nanti. Karena Otor sudah janji akan membuat Extra part kalau udah naik level, Otor pasti penuhi.


Otor masih ragu mau ikut event lomba Mengubah Takdir nih. Tapi Otor kenalin dulu aja ya. Siapa tau ada yang mau mampir. Ragu karena yang ikut ramai sekali yang pemesh ... hohoho ... Otor baru gabung di sini sekitar 4 bulan, dah kalah sebelum perang rasanya.



Ini Otor buat sebagai jawaban dari kisah Duda Hot Tapi Kere. Kayak maksa-maksain ni ceritanya dibuat pasangan ... wkwkwkwk ....


Oh iya, Otor mau numpang promo karya temen juga. Ceritanya lucu lho... ayo mampir ... mampir di semua nya ya.. tinggalkan tanda favoritnya ... Biar pas lihat yang Fav banyak, Otor semakin semangat nulis.



Satu lagi punya adik kami, mohon dukungan juga. Ini yang bikin masih sekolah lhoo... Siapa tau saat makin rame Adik kita ini jadi makin semangat menulisnya. 😇😇😇


__ADS_1


Ditunggu ya gaes... dukungannya


😘😘😘


😉😉😉


Cuplikan :


"Jika kamu masih memilih dia, jangan harap kamu bisa menikmati apa pun yang kamu terima selama ini. Kamu akan Papa hapus dari Kartu Keluarga ini! Jangan harap kamu mendapatkan warisan saat Papa meninggal nanti!"


Masih terngiang dengan jelas di telingaku, ucapan Papa empat tahun lalu. Saat aku meminta restu untuk menikahi Ratna, ibu dari Hanza. Namun, keluarga tidak mengizinkan untuk menikahi pilihan hatiku.


Keluargaku tidak menyukai Ratna karena pernah berlaku tidak sopan saat bertamu ke rumah kami. Melirik semua benda keramat kesayangan mama dengan tampang mengejek. Saat itu, mama marah-marah padaku. Menyuruhku untuk menjauhinya.


Namun, entah kenapa dulu aku begitu tergila akan kecantikannya yang paripurna. Sehingga menutup mataku atas segala hal buruk yang dia miliki. Sehingga aku baru menyadari kebodohanku, yang salah memilih. Ketika memergoki dia di sebuah klub malam tempatku bekerja paruh waktu.


Hari ini tepat satu bulan kami bercerai. Setelah mendapati dia bermain di belakangku, di saat aku sedang pontang panting mencari nafkah untuknya dan Hanza. Dia bermesraan di sebuah klub malam tempat ku bekerja, bersama pria tua kaya raya. Alangkah terkejutnya dia, mengetahui aku bekerja di sini.


Pertengkaran hebat di antara kami tidak dapat dielakkan. Akhirnya, dia memilih menceraikanku. Benar, dia menceraikanku karena tidak bisa membuatnya bahagia.


"Aku menyesal memilihmu! Percuma saja jadi anak orang kaya, namun tidak dapat memberikanku apa-apa! Lebih baik kita pisah!" begitu lah ucapnya dengan lantang kepadaku. Dugh, mengingat itu kembali membuat hatiku sakit.


Kenapa aku tidak melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar? Hal itu disebabkan karena Papa meminta koneksinya untuk mem-blacklist namaku. Semua perusahaan besar yang ada di kota ini tidak bersedia menerimaku, karena permintaan seorang Raden Mas Basupati Jayaningrat, penguasa ritel tersohor di negeri ini. Dengan sangat malang, membuatku tidak diterima dimana pun aku melamar pekerjaan.


Aku pandangi Ijazah yang sengaja aku masukkan ke sebuah bingkai poto. Nilai berpredikat coumload yang tidak berguna sama sekali. Bagaikan sebuah kenangan yang yang hanya bisa dilihat, namun tidak bisa digunakan.


Ratna dengan suka rela menyerahkan anak kami yang masih berusia dua tahun, untuk aku rawat. Terdengar dari mulutnya mengatakan bahwa akan segera menikah dengan pria itu setelah masa idahnya selesai.


Hmmm, enak sekali hidupnya. Setelah aku dipecat menjadi anak orang kaya, dia pun pergi meninggalkanku dengan sejuta sengsara yang tersisa. Tersadar dari lamunan panjang, saat menidurkan Hanza dalam ayunan. Aku lihat waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang.


Sebentar lagi adalah waktunya makan siang. Akan datang pelanggan yang berbondong-bondong untuk makan di warung kecil murah meriah ini. Pelanggan yang biasa datang adalah orang-orang yang bekerja sebagai supir angkot, kenek, atau orang-orang yang bekerja di sekitar terminal. Warung ini berlokasi di terminal angkutan kota.


Semenjak berpisah dengan Ratna, Hanza terpaksa aku bawa kemana-mana. Termasuk untuk bekerja. Setiap menjelang siang, aku masukkan Hanza ke dalam ayunan hingga dia tertidur. Saat dia tidur, adalah waktu bagiku untuk mengais rezeki. Satu per satu pelanggan pun mulai berdatangan.


"Bang, nasi ayam sayur satu!" ucap pelanggan pertama yang hadir.


"Siap Om!" langsung aku sampaikan kepada pemilik warung yang bertugas mengambilkan makanan. Aku siapkan segelas air putih gratis padanya.

__ADS_1


Selanjutnya tiga pelanggan sekaligus masuk ke warung kami. Aku berjalan cepat ke meja yang mereka pilih.


"Bang, gue nasi ayam kecap sama sayurnya satu porsi." Langsung aku catat biar tidak salah.


"Gue nasi sama telor aja, biar murah dikit." Aku catat kembali.


"Gue nasi sama rendang, plus sayur tentunya." Aku catat kembali.


Dengan sorak yang keras, aku sampaikan menu-menu yang diminta pelanggan kepada pemilik warung. Aku siapkan air kepada mereka masing-masing satu gelas. Dengan langkah cepat aku ambilkan pesanan pelanggan pertama tadi. Langsung aku antar, agar tidak menunggu terlalu lama.


Selanjutnya aku ambil pesanan tiga orang yang kedua, langsung aku serahkan kepada mereka. Tak lama, bagai gelombang pasang, pelanggan datang dengan jumlah banyak sekaligus. Aku catat menu mereka satu persatu.


Dari antara pria yang banyak itu, terselip satu gadis berkerudung terlihat sangat cantik. Dia duduk bersama mereka. Ini adalah untuk pertama kali aku melihatnya, setelah sekian waktu bekerja di warung ini. Aku catat pesanan semuanya, langsung aku sampaikan agar disiapkan dengan segera.


Tak lama-lama, makanan pesanan mereka sudah aku bawa dengan baki. Lalu ku serahkan kepada mereka satu per satu. Aku lihat gadis itu sempat menatapku dan tersenyum dengan manis kepadaku. Aku pun bersiap membalas senyumannya.


"Mara!" terdengar panggilan dari ibu pemilik warung. Ibu warung ini mengganggu saja. Apa tidak lihat anak muda beranak ini sedang menebarkan pesona?


Dengan tergopoh aku kembali untuk mengambil es teh pesanan meja yang sama.


"Jangan lirik-lirik dulu! Sekarang kerja dulu!" ucapnya menyerahkan beberapa galas es teh yang telah disiapkannya. Kembali aku meletakkan pesanan ke meja gadis cantik berkerudung pink itu.


Pelanggan yang datang pada waktu makan siang ini sangat lah ramai. Sayang sekali rasanya aku melewati pemandangan berkenalan dengan gadis manis itu.


Namun, dia pasti akan mundur, saat mengetahui bahwa aku ini adalah seorang duda. Apalagi hanya duda kere, yang tidak memiliki penghasilan tetap. Aah, sudah lah. Hanya bisa melihatnya sekali. Sekali-kali mencuci mata, tak apa lah.


Pada pukul dua siang, pelanggan yang datang sudah tidak seramai tadi. Saat itu pula lah, aku bisa kembali pulang, atau berganti beralih ke pekerjaan lain.


"Asmara!" panggil ibu pemilik warung.


"Iya Bu? Ada apa?"


"Bagaimana kalau kamu coba mendaftar bekerja kantoran saja? Kamu kan sarjana, kamu tinggi, kamu tampan, rasanya sayang sekali tampang mu itu jika hanya bekerja di warung ini."


"Ibu mau memecat saya?"


__ADS_1


DUDA HOT TAPI KERE


__ADS_2