DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Tak boleh sedih


__ADS_3

Kecupan turun menuju kedua kelopak mata, hidung, kedua pipi, makin turun ke dagu. Mata Via terbuka, merasa ada yang kurang. Dia melihat Jimmy tersenyum jahil.


"Hmmm ..." sungutnya.


Jimmy menikmati wajah kesal sang istri. "Aku pikir kamu sudah tidak menyukai ciumanku?"


Via menyipitkan mata dan memegang kedua pipi Jimmy. Jimmy melirik kedua tangan Via yang menggenggam wajahnya dengan erat.


"Kamu itu sengaja kan?" Via mendekat dan mulai mengecup bibir suaminya.


"Kurang!" ucap Jimmy dan Via mengecupnya sekali lagi.


"Kamu bilang itu sebuah ciuman? Jimmy menarik tangan Via yang sedari tadi menahan wajahnya dan tangan itu mengambang ke atas bahu. Jimmy memulai pemanasan berbuka dengan istrinya.


(Skip aja anu nya 🤣🤣🤣)


Setelah semua selesai, Via dan Jimmy berpelukan di dalam selimut. Ciuman bertubi-tubi diberikan Jimmy pada bibir Via.


"Kamu tahu, aku hampir mati menunggumu bangun dari tidur panjangmu." Jimmy menyugar rambut Via yang sudah tidak berbentuk.


"Lebay ...." Via membulatkan bibir dan langsung disambut Jimmy. Via membenamkan dirinya dalam pelukan Jimmy.


"Aku juga sangat merindukanmu. Entah kenapa aku merasa hampa dalam waktu yang sangat lama," lirihnya dalam pelukan Jimmy.


"Emang, orang tidur bisa merasa?"


Via menengadahkan wajahnya menatap lurus pada netra Jimmy. Dia menggeleng dan kembali membenamkan diri pada aroma wangi Jimmy.


"Kamu jangan pernah tinggalkan aku seperti kemarin lagi." Via mengangguk dalam pelukan tanpa berkata apa-apa.


"Apa kamu sudah mengantuk?" tanya Jimmy.


Via menggelengkan kepala. "Sepertinya aku terlalu banyak tidur. Bahkan aku belum mengantuk sama sekali. Kakak bagaimana? Apa sudah ngantuk?"


Jimmy tidak memberi jawaban. Dia mencoba membelai lembut kepala Via. Siapa tau istrinya bisa tertidur dengan cara ampuh mengeloni Hyuna ini. Namun, lama kelamaan belaian tangan itu terasa makin lemah dan berhenti.


Via tersenyum, mencium pipi Jimmy dan melepaskan diri dari pelukan suaminya itu. Sedikit meringis merasakan sakit pada bagian inti tubuhnya.

__ADS_1


Aaah, padahal bukan perawan lagi. Kenapa berasa sama sakitnya saar malam pertama dulu ya?


Via memasang pakaiannya. Secara mengendap dia membawa ponsel milik Jimmy dan menuju ruang kerja kosong miliknya dulu. Ada rasa tak menentu di hatinya. Entah kenapa dia teringat pada seseorang yang telah lama pergi meninggalkannya.


Via mencari-cari kontak Devan. Namun, ternyata Jimmy tidak menyimpan kontak milik Devan. Lalu dia mencari kontak Romi, dan melakukan panggilan pada saat itu juga.


Namun, yang terdengar menjawab panggilan adalah suara perempuan. Suara yang sangat dikenalnya. "Irin?"


"Kak-- eeh-- Vi???" tanya yang di seberang tak kalah semangat.


"Irin, kenapa malam-malam begini lo malah sama Romi?"


"Kamu belum tahu ya? Sebenarnya gue--"


"Lo udah nikah sama Romi?" Via memotong dengan cepat.


"Iya, sorry ... gue belum bilang pada lo secara langsung. Tapi, tadi saat ingin menemui lo, Romi larang gue. Katanya, tunggu hingga Kak Jimmy puas melepas rindunya dulu. Eehh, ternyata elo yang malah duluan menghubungi."


Via mulai merasa bingung untuk mengutarakan tujuannya menelepon malam-malam begini. Akan tetapi, akhirnya Via memilih memendam rasa penasaran itu dan berbicara dengan Irin. Saat ini Irin sedang hamil anak pertamanya.


"Semoga ibu dan bayi sehat dan selamat yaa."


Aku kenapa? Kenapa merasa kehilangan dia? Bukan kah aku sudah terbiasa tanpa dia?


Via mencoba mencari sosial media milik Devan. Dia mengharapkan menemukan sesuatu. Di sana ada foto Devan dan seseorang yang sangat mirip dengannya sedang mengenakan seragam SMP.


Mereka berdua sama-sama berpenampilan sangat culun. Via, langsung teringat penampilan itu ketika mereka sedang menggunakan seragam sekolah. Air mata Via terjatuh membasahi pipinya.


"Ooh, sekarang aku mengerti. Aku sudah terlalu lama tidak berkunjung ke sana ya?"


Via membenamkan wajahnya bertopang di atas meja. Dia kembali sesegukan menikmati sepi di hatinya. Terdengar suara pintu ruangan itu dibuka dari luar. Via sangat terkejut mengusap air mata.


"Mama nanis?" Hyuta datang dan mendekat pada ibunya yang duduk di meja kerja. Hyuta mengintari pandangan sekeliling ruangan itu. Dia menunjuk satu titik, Via sendiri tidak paham apa yang dilakukan Hyuta.


"Ooom? Pulang lah. Mama cama Uta. Oom nanan buat Mama nanis agi?"


Via membesarkan mata mencoba untuk fokus melihat ke titik yang sama. Via menarik anaknya itu dan memangkunya.

__ADS_1


"Uta bicara sama siapa?"


Dia menunjuk satu titik yang sama. "Oke, Om. Uta biyang Mama. Om nanan ke cini agi. Nanti Mama nanis agi." Hyuta tampak melambaikan tangan, dan melihat Via kembali.


"Tadi ada Om, yang cama Mama duyu. Om itu biyang, Mama ga boyeh cedih-cedih. Mama cayang-cayang Papa aja. Nanan ingat-ingat dia."


Via kembali melirik ke arah yang sama. Tak satu pun sesuatu tertangkap di matanya. Hanya satu dinding kosong tanpa satu apa pun.


"Om yang mana Uta maksud?"


"Tadi, di cana itu ada Om pakai baju putih. Dia cedih kalo lihat Mama nanis. Kata Om itu, Mama ga bole nanis."


Via semakin memeluk Hyuta dengan air mata yang semakin mengucur deras. Dia menganggukan kepala menangis sepuasnya beberapa saat. Setelah perasaannya menjadi lega, Via mengajak Hyuta tidur kembali. Via benar-benar tidur sambil memeluk Hyuta.


Saat pagi menjelang, Jimmy menyadari tak ada lagi orang yang dipeluknya tadi malam. Dia segera mengenakan piyama yang tergeletak di lantai. Mencari istrinya yang menghilang dari pelukannya.


Jimmy menemukan ponselnya berada di atas nakas dekat ranjang Hyuta. Menemukan istrinya sedang lelap memeluk putra mereka. Dia mengakses ponsel dan langsung terbuka sosial media milik Devan. Melihat foto Devan dan kembarannya yang telah telah tiada.


Jimmy menatap panjang pada istrinya. Pergi dalam diam kembali ke kamar dan membersihkan diri. Hyuna terbangun melihat sosok Via yang ada di ranjang milik Hyuta. Tiba-tiba dia menangis memanggil Jimmy yang menghilang darinya.


"Papa ... Papa ..." Hyuna beringsut turun dan berjalan menuju keluar kamar. Dia segera mencari Jimmy yang sudah bersiap-siap.


Hyuna langsung memeluk kaki Papanya merajuk. "Papa ... Papa ..."


Jimmy menggendong Hyuna, dan memeluk gadis kecil itu. "Iya, Papa mau berangkat kerja lagi ya?"


Hyuna memeluk Jimmy semakin erat. "Ituuuut," pintanya.


"Nah, kali ini sudah ada Mama. Una sama Uta duduk manis di rumah dulu sama Mama ya?"


Hyuna menggeleng, memeluk Jimmy semakin erat. "Ituuut," tangisnya.


Via yang mendengar suara tangis Hyuna terbangun dan bergerak menuju asal suara. Dia menemukan Jimmy yang kesusahan karena dipeluk putri mereka dengan sangat kuat.


"Una kenapa, Kak?" tanya Via.


Namun Jimmy tidak memberi jawaban dan mencoba meminta Hyuna untuk turun dari gendongan tersebut. Namun, Hyuna menggeleng dan memeluk semakin erat.

__ADS_1


"Sini, sama Mama dulu, Sayang." Via menarik Hyuna dan berhasil melepaskannya.


"Aku berangkat dulu," ucapnya berlalu.


__ADS_2