
Pintu lift kembali terbuka. Ada beberapa orang yang masuk, membuat Via segera menyapunya. Tampak sebuah tangan yang memegang sapu tangan, berada tepat di depan mata Via. Gadis itu melihat siapa yang memberikan sapu tangan itu.
"Kamu? Kak Rafael?"
"Kenapa kamu menangis cantik?" Dia mengedipkan mata mengembangkan senyum dengan dumple di kedua pipinya.
"Maaf Kak, kapan Kakak sampai?" Via kembali berdiri bersender pada dinding.
"Udah sejak tadi siang. Kamu kenapa menangis?"
"Oh, engga. Hanya lagi sedih abis baca novel online." ucapnya sekenanya.
"Diih, sampai segitunya?" ucap pria yang sudah punya dua istri dan satu anak itu. Ssssalaah, terbalik. Punya dua anak satu orang istri maksudnya.
Via mencoba mencari sesuatu di sekitar Rafael. "Mana anggotanya Kak? Gak diboyong sekalian?"
"Susah boyong sana boyong sini. Mereka kan sudah sekolah. Jadi istriku menemani mereka."
"Jadi sekarang membujang dong?" sindirnya.
"Iya, bujang beranak dua, hahaha."
Mereka menyusuri lorong menuju ke rumah Via. Sepertinya, Via langsung memberinya tugas. Rafael mengeluarkan laptop, ditambah dengan laptop milik Via.
Dia langsung meng-handel keduanya sekaligus. Setelah Via lihat, ternyata tangan kiri kanannya tengah melacak keberadaan White House.
"Kak, itu gak usah!" cegah Via.
"Emang kenapa?"
"Aku udah menemukan siapa ketuanya. Sekarang Kakak lacak lokasi penculikan yang di Rumania saja!"
"Baiklah." Rafael kembali mengotak-atik kedua laptop tersebut. Dengan lihai kedua tangannya mengetuk-ngetuk setiap keypad pada keyboard benda itu.
Mata Via hanya melihat layar hitam berisi tulisan hijau kecil-kecil. Di USA pun dia sering dibantu oleh hacker di sana. Bentuknya pun sama bikin mumet. Dia sudah mendeklarasikan diri sebagai makhluk gaptek. Jadi dia tidak mau tahu dengan segala sesuatu berkaitan dengan hacking.
Via memilih mencari sesuatu untuk disuguhkan kepada Rafael. Setelah bertemu, dihidangkan makanan ringan dan secangkir kopi untuk si hacker hebat pentolan BOS. Romi tidak bergeming masih asik dengan dua layar laptop.
Via memperhatikan semua susunan algoritma yang terus diketik dan disusun oleh Rafael. "Bikin mumet," celetuknya.
"Ya udah, kamu ganti baju aja sanah. Mandi sekalian biar gak gerah! Sepertinya pekerjaanku masih panjang."
"Kakak udah makan malam?"
"Belum."
"Oh, ya udah. Nanti abis bersih-bersih aku pesankan makanan lewat aplikasi aja."
"Oke."
Via menuju kamarnya. Diperhatikan waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Irin belum pulang dari pekerjaannya.
Semoga aja Irin tidak kaget melihat Kak Rafael. Mereka belum pernah bertemu.
***
braaaak...
__ADS_1
braaaak...
"Awas Kau!"
dugh...
dugh...
Saat keluar dari kamar mandi, Via yang masih terlilit dengan handuk dikejutkan oleh suara benturan, hentakan, dan tumbukan. Via langsung melangkah melihat asal suara itu. Ternyata tampak Jimmy dan Rafael yang tengah jotos-jotosan.
"KAK!!! APA YANG KAU LAKUKAN?"
Jimmy yang tadinya fokus ingin memukul Rafael melirik sesaat, saat hendak memukul Rafael kembali baru dia menyadari. Ada sebuah pemandangan indah. Menatap Via kembali yang masih dalam handuk, rambut juga terlilit oleh handuk. Memamerkan kemolekan kulit gadis campuran ini.
...gleeek...
Via yang menyadari tatapan lapar itu, menutup bagian di bawah leher yang masih terbuka. Lalu berlari masuk ke kamar dan menguncinya.
Siaal, kenapa tiba-tiba ada dia? Aku lupa mengganti pasword lagi.
Via segera mengenakan pakaiannya. Berjalan dengan langkah cepat lalu ke arah Jimmy. Dilihatnya wajah mereka berdua sama-sama dalam keadaan bonyok.
"Kak, ikut aku!" Menarik Jimmy keluar dari rumahnya. "Apa yang Kau lakukan? Kenapa Kau memukulnya?"
"Siapa dia? Mengapa dia bisa ada di dalam rumahmu, malam-malam begini?"
"Terus hanya Kamu yang boleh ada di dalam rumahku saat malam begini?"
Mendengar jawaban yang tak diinginkan membuat Jimmy menjadi marah. Menarik Via dengan badan yang masih dingin dan rambut yang masih basah ke dalam rangkulannya.
Tercium aroma wangi yang masih menyeruak dari sekujur tubuh kekasihnya. Jimmy seakan lupa diri, memaksa mencium Via hingga menyibak rambut yang basah itu dengan memaksa menciumnya.
Sebuah tamparan melayang di pipi Jimmy, "SADAR!!! APA YANG KAU LAKUKAN?"
Jimmy diam beberapa waktu, menyadari kesalahan yang dia lakukan tanpa ia sadari. "Kamu sudah membuatku marah." ucapnya melirik gadis itu yang masih nyalang memegang tengkuknya.
"LALU KAU SEPERTI INI, MEMBUATKU TAK MARAH?" teriaknya gadis itu lebih lantang lagi.
Terdengar suara pintu dibuka oleh tetangga sekitar tempatnya. "Ada apa ini?" Tetangga dengan tubuh bongsor bredekap dada berdiri di pintu rumahnya.
"Bukan kah Kau penjahat kemarin yang saya siram?"
"Saya bukan penjahat!" jawab Jimmy dengan dingin.
"Terserah! Jangan ribut di sini!" Braaak.. Pintu ditutupnya dengan sedikit bantingan.
Jimmy dengan tatapan menghunus, tak henti terus mengikuti gerak-gerik gadis itu. Via masih marah atas apa yang baru saja dilakukan oleh Jimmy. Jimmy masih berusaha menurunkan emosinya yang tiba-tiba meluap melihat laki-laki lain berada di dalam rumah perempuannya.
Ditambah lagi, Via keluar dengan kemben handukan, yang mengekspos dirinya kepada mereka berdua. Membuat emosinya semakin memuncak, di saat hubungan mereka dipaksa untuk merenggang. Saat ini Jimmy menatap koridor kosong yang panjang, dimana Via dalam diam duduk di sebuah bangku yang tersedia.
"Siapa dia?" Sekian lama mereka tanpa suara, akhirnya Jimmy mampu meredam emosinya.
"Apa urusanmu?"
"Ini urusanku! Kamu calon istriku!"
"Calon istri? Jadi begitu cara melakukan calon istri?"
__ADS_1
Lalu, mereka kembali dalam diam yang panjang. Jimmy tak henti melihat Via yang tak mau melihat ke arahnya. Perlahan mendekat, berjongkok di hadapan kekasihnya yang dalam amarah.
"Maaf, aku terbawa emosi." Menangkupkan wajah Via yang masih menegang menahan emosi. Via kembali memalingkan wajahnya.
"Ayo lihat aku!"
"Apalagi?" bentaknya.
"Maaf kan aku. Itu tak akan terulang lagi."
"Aku merasa terhina tau nggak?"
"Maaf." ucapnya benar-benar menyesali tindakannya tadi. "Pukul aku semaumu. Tapi jangan diam begini!"
"Lalu?" mata Via melirik dengan tajam.
"Jika itu buatmu merasa lega dan bisa memaafkan aku, ayo pukul aku!" ucap laki-laki itu terus mengikuti gerakan mata Via.
"Lalu pukul-pukulan itu bisa membuat segalanya selesai? Terus aku yang kau perlakukan semaumu ini apa?"
"Kamu adalah orang yang sangat berharga bagiku."
"Bullshits!" umpat gadis itu.
Jimmy berlutut di hadapan Via, mendekat padanya, semakin dekat, dan menyandarkan keningnya di bahu Via. "Maaf kan aku." Via tertegun tak bergeming.
"Aku tak sanggup bila harus kehilanganmu lagi. Aku tak rela, kamu begitu cepat berpaling di saat hubungan ini masih terombang ambing. Apa kau tak merasakan betapa aku sangat mencintaimu?"
Via mendorong kepala Jimmy dan menangkup dagu pria itu dengan kedua tangannya. "Kamu mau mendengarnya langsung?" tanya Via menangkap netra legam milik Jimmy.
"Itu yang selalu kutunggu, agar aku bisa memikirkan tindakan yang harus aku lakukan." Menarik kedua tangan Via ke belakang yang tadi menempel di pipinya. Saat ini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja tanpa penghalang.
"Aku mencintaimu Kak." ucapnya.
"Apa? Aku tidak mendengarnya. Coba katakan lagi!"
"Aku mencintaimu..."
"Sekali lagi!"
"Aku mencintaimu! Harus berapa kali lagi? Bukan kah tadi cuma bilang cukup satu ka--"
Jimmy mengecup bibir itu. Lalu mengusap kembali dengan telunjuknya. Melepaskan diri dari dekapan Via, lalu menarik Via untuk berdiri.
"Terima kasih sudah berhasil meyakinkanku. Sekarang aku tahu, apa yang harus aku lakukan untuk mengejar restu orang tuamu."
"Ekheeemmm...!!!" Irin berdiri melipat tangan di dada, di sebelahnya Devan tengah menutup mata dengan kedua telapak tangan.
Perkenalkan, karya baru lagi, yang baru menetas kemarin.
Satu lagi bergenre fantasi timur
...*bersambung*...
__ADS_1
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...