
Dia membuka dan membaca isi pada lembaran surat itu dengan teliti. Tangannya bergetar hebat. Dengan segera menuju ke ruang kerja dokter Vano. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Jimmy menyerobot masuk dan menemukan Vano tengah merenung.
"Vano, ini maksudnya apa? Apa yang terjadi pada istri saya? Kenapa Kau tak pernah membicarakan hal seserius ini kepada saya?"
Vano masih diam, perasaannya saat ini sedang kacau. "Coba tanyakan sendiri pada istrimu. Dia yang memintaku untuk tidak membahas masalah ini kepadamu."
"Tapi ini masalah serius! Masalah hidup dan mati istriku!"
"Maaf ... coba tanyakan sendiri alasan istrimu. Kenapa dia lebih memilih anaknya dari pada dirinya sendiri?"
Rahang Jimmy mengeras menahan amarah. Keluar dari ruangan Vano, kembali ke ruang kerja Via. Mendapati Via tengah merenung kembali menatap keluar jendela.
"Sekarang aku mengerti kenapa akhir-akhir ini Kamu selalu termenung. Kenapa Kamu tidak pernah mengatakan semuanya padaku? Kenapa merahasiakan ini semua?" Mengibas-ngibaskan lembaran informasi kesehatan Via.
Via hanya membisu, kembali melihat keluar jendela. Jimmy menarik bahu istrinya itu. Wajah mereka tepat beradu pandang saat ini.
"Katakan lah! Apa alasanmu menyembunyikan ini semua?"
Via menangkupakan wajah Jimmy di kedua tangannya. "Karena kamu sangat menginginkan mereka bukan? Satu pergi, diganti dengan dua nyawa baru tentu tak masalah bukan?"
Jimmy menarik kedua tangan Via. "Tapi, jika ini merupakan suatu pilihan yang berat, aku akan lebih memilih kamu. Kamu tahu, kehilanganmu delapan tahun saja membuatku menggila. Sekarang kau membuatku akan kehilangan dirimu untuk selamanya."
"Kenapa kamu begitu kejam? Tak memedulikan perasaanku yang sangat mencintaimu?"
Via menarik kembali tangannya, membalikan tubuh menghapus air mata yang mulai menetes. Via kembali menatap Jimmy, pura-pura mengembangkan sebuah senyuman.
"Kak, jika Kamu benar mencintaiku, dan seandainya aku harus pergi, sayangi lah mereka. Cintai mereka sebagaimana Kamu mencurahkan segala perasaanmu kepadaku." Via memeluk Jimmy mencoba menenangkan Jimmy.
"Tapi aku mau membesarkan mereka bersama Kamu!" Via diam tidak bergeming.
"Jika seandainya sedari awal aku mengetahuinya, aku akan lebih
memilih kamu. Jika memang Kamu tidak bisa memiliki keturunan lagi, kita akan mengangkat anak-anak panti untuk kita rawat. Jika kamu merasa tidak cukup satu, kita angkat semuanya menjadi anak kita. Asalkan kamu tetap hidup bersamaku ... bersamaku!"
__ADS_1
"Kita berdoa saja. Semoga alat ajaib yang sedang dirakit oleh Romi berhasil." ucap Via dalam pelukan Jimmy.
Jimmy tertegun, lalu mendorong istrinya dan menarik dagunya. "Bahkan, Romi sudah tahu semua? Kamu anggap aku ini apa? Apa aku hanya bagai patung bagimu?"
Via, kembali memeluk Jimmy. Dia tahu Jimmy mencoba menahan amarahnya yang siap meledak kapan saja. "Kamu adalah suamiku. Laki-laki yang aku cintai."
"Jika kamu memang mencintaiku, kamu tak akan merahasiakan semua ini padaku. Bahkan, Romi lebih dulu mengetahui semuanya dari pada aku. Apa aku tak lebih berharga dibanding dia?" ucapnya dengan dingin.
"Bukan, aku tak pernah mengatakan apa-apa kepada siapa pun. Dia mengetahuinya sendiri. Tiba-tiba dia datang menawarkan bantuannya kepadaku."
"Oh, begitu. Bantuan dia lebih kamu butuhkan dari pada memikirkan aku?" Jimmy melepaskan pelukan Via. Segera keluar meninggalkan istrinya, dengan segera menuju labor digital yang sengaja dibuatkannya untuk Romi.
Via menatap punggung Jimmy yang menghilang diiringi tetesan air mata. "Aah, mungkin ini bawaan hamil. Aku merasa menjadi lebih sensitif." Mengusap air matanya memulai mengecek dokumen yang harus dia periksa.
Suasana ruangan khusus milik Romi terlihat sangat sepi. Hanya terdengar gesekan benda-benda yang tengah dikerjakan oleh Romi. Wajah Romi terlihat begitu serius merakit dan menyolder timah panas merekatkan pada wadah hardward yang telah disiapkannya.
"Ekhemm ...," Jimmy berdehem membuat Romi menoleh.
"Sedang apa?"
"Saya sedang mencoba membuat alat untuk kesehatan." jelas Romi masih sibuk meleburkan timah panas dengan alat yang dipegangnya.
"Untuk istri saya?" tanyanya dengan nada dingin
Romi menoleh heran. Yang dia tahu, Jimmy tidak mengetahui keadaan Via. "Dia sudah menceritakannya padamu?"
"Jadi kamu bangga lebih dahulu mengetahui semuanya dari pada aku?"
Romi menatap Jimmy dengan heran. Romi merasa lega jika Jimmy mengetahui keadaan Via yang sengaja disembunyikan. "Kamu jangan berpikir macam-macam. Sekarang, yang harus kita pikirkan bagaimana cara menyembuhkan Marni."
"Lakukan yang terbaik! Untuk menyelamatkan mereka!" Romi mengangguk. "Jika Kamu tidak berhasil, Kamu boleh pergi dari tempat ini!" Jimmy berusaha meredam amarahnya. Padahal dalam hatinya tengah terbakar rasa cemburu.
Romi menatap kepergian Jimmy dengan heran. Mencoba menebak-nebak apa yang baru saja terjadi dengan dia dan Marni. Tak lama-lama berlarut, dia segera melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
...***...
Malam harinya, Irin berkunjung sambil menangis di pelukan Via. Dia datang bersama Romi. Setelah Romi tahu bahwa Jimmy sudah mengetahui keadaan Marni, akhirnya dia memutuskan untuk memberitahukan kepada Irin juga.
"Vi, kenapa lo hanya diam aja selama ini? Seolah semuanya baik-baik saja."
Via menatap Romi dengan tajam. Romi hanya pura-pura sibuk dengan gadget di tangannya. "Ya, gue merasa semuanya baik-baik saja. Lo nggak usah terlalu khawatir begitu!"
"Gak khawatir bagaimana? Lo ini lagi sakit Vi. Makanya dari dulu gue suka larang lo makan makanan cepat saji. Ayo ... Kita harus segera membawa lo berobat!" ucap Irin menarik tangan Via.
"I--iih ... jangan tarik-tarik!" Via memegang pinggangnya yang menjadi sakit.
"Maaf ... maaf ... jadi sakit?" Irin melirik Jimmy yang sedari tadi hanya diam duduk di pojokan. "Eh, Kak Jimmy kenapa? Kalian habis bertengkar?" bisik Irin di telinga Jimmy.
"Dia ngambek." celetuk Via sambil melirik suaminya itu.
"Kenapa?"
"Dia marah, baru tau masalah ini, tadi."
"Aduuuh, lo sih? Ini masalah penting tau nggak? Kenapa lo rahasiakan? Jika lo bicarakan masalah ini dari awal, kita semua bisa kasih solusi terbaik buat lo!"
Via hanya menggeleng. "Gue sudah memutuskan semuanya matang-matang. Sekarang kita berdoa saja, semoga alat yang diciptakan Romi sukses."
Akhirnya Jimmy bangkit dan duduk di sisi Via yang masih kosong. "Aku tu marah! Bukan ngambek. Benar apa yang dikatakan Sabrina! Jika kamu mengonsultasikan semuanya sedari awal, kita semua akan mencarikan solusi terbaik. Ini ketika semua sudah genting, aku baru mengetahuinya."
"Jika tidak menemukan surat keterangan tadi, mungkin hingga saat ini aku tidak akan mengetahuinya."
"Kamu tau, bagaimana rasanya sebagai suami namun tidak mengetahui keadaan istri yang setiap hari ditemuinya?"
Irin merasa Via dan Jimmy membutuhkan waktu untuk bicara berdua. "Kalau begitu, kami pulang saja. Kalau masalah kalian sudah selesai, gue akan menemui lo kembali." Irin bangkit menarik Romi.
"Rom, berusahalah sebaik mungkin. Jika tidak, kamu tahu sendiri akibatnya!" ucap Jimmy masih panas.
__ADS_1