DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Jalan tol 2


__ADS_3

Yuuuhuuuuuii ... Naah, kegiatan Otor selanjutnya ikutan event baru Rumah Tangga ni Readers.. Jadi Author mau kebut beresin ini sampai bagian penting selesai dulu. Keburu disuruh up bab baru sama Editor.


Author sebenarnya mager banget lanjutinnya, soalnya semakin tidak ada yang baca. Namun, karena sudah terlanjur ditulis, harus diselesaikan dengan se apik mungkin.


Oh iya, bagian ini memang sudah ada di Nona Hacker, tapi tentu adegannya berbeda. Kemarin dari sudut pandang si Nona Hacker, kali ini dari sudut pandang Via doong.


...***...


"Romi? Hacker?" tanya Aura.


Via menperhatikan ekspresi Aura yang terlihat cukup senang bertemu dengan Romi.


Apakah dia mengenal Romi?


Lalu gadis yang ada di sebelah Romi terlihat terus saja memperhatikan Romi. Via


"Ekheeemm, aku laporin pada Sabrina, ya?"


"Ekhem, ini bukan salahku," ucap Romi mendelit. Romi mencari kursi untuk dia bisa duduk dengan tenang.


"Kamu itu Romi yang nulis buku tentang dunia peretasan, bukan?" tanya Aura dengan mata berbinar juga.


"Iya, kok kamu tahu?"


"Waaah, aku punya buku yang kamu tulis lho, Kak? Satu lagi buku yang ditulis oleh seseorang bernama Stevan Rusdi."


"Ekheeemmm," sela Via. Semua itu nama-nama orang yang ada di dekatnya.


Romi mengulum senyumnya di wajah yang dibuat sedemikian cool. "Jadi ada apa?"


"Begini, apa kamu mengenal permainan Sistem Kekayaan Hacker?" tanya Via.


Romi langsung teringat pada permainan itu. Tak jauh berbeda seperti game online yang dibuatnya untuk meraup kekayaan. Namun sistemnya berbeda. Sistem tersebut dibuat untuk mengeksploitasi tenaga yang dianggap bisa dimanfaatkan. Rata-rata, tenaga yang direkrut adalah para anak muda yang ahli di bidang IT.


"Ya, kenapa?"


"Nona yang bernama Aura ini tersandung masalah gara-gara sistem tersebut. Apa kamu mengenal seseorang yang bernama Marcell?"


Romi mengangguk. "Aku sangat mengenalnya. Seorang yang bodoh karena kecerdasan inteligensinya. Dia itu adik angkatku dulu saat kuliah," terangnya lagi.

__ADS_1


"Apa kamu bisa membantuku untuk melacak keberadaannya?" tanya Via.


Ponsel Stella terdengar berdering. Dia meminta diri untuk keluar berbicara dengan seseorang yang meneleponnya itu. Aura masih mendengar penjelasan Romi tentang Marcell. Tak lama Stella kembali masuk dan membisikan sesuatu kepada Aura. Via melihat perubahan raut wajah Aura setelah mendengar itu.


Via menjelaskan rencana untuk penyelidikan demi membuktikan bahwa suami Aura, kakak dari kakak iparnya, bukan lah orang yang bersalah. Namun, mereka harus menyusun rencana yang matang agar musuh tak bisa kabur. Via menyimpulkan bahwa Marcell adalah orang yang sangat licin bagai belut.


"Kapten I Bagus Suska ya? Dia masih saja sama. Sembarangan menangkap orang seperti sepuluh tahun yang lalu," gumam Via menggelengkan kepala. Dia teringat kejadian saat dia masih sekolah.


"Sekarang dia pasti sudah cukup tua," tambahnya lagi.


💖


💖


Romi menggelengkan kepalanya. Dia merasa tak ingin ikut campur urusan dengan hal di luar pekerjaannya. Namun, Via terus membujuk Romi untuk ikut dengan misi kali ini.


"Ayo lah, Rom? Kamu pasti memahami apa yang terjadi dalam kasus ini."


Romi masih kukuh dengan posisinya bersidekap dada sambil menggelengkan kepala. "Percuma kamu memohon seperti apa pun. Aku tidak tertarik dengan urusan orang lain." Romi bangkit dari posisinya bergerak meninggalkan ruangan Via.


"Ini bukan orang lain. Ini saudara kandungnya dari istri Kak Yudhit." Via terus mengikuti langkah Romi.


"Ayo lah Rom, jangan sok jual mahal begitu?" Via masih terus mengikuti langkah Romi.


Jimmy memperhatikan tingkah istrinya sedari jauh. Keningnya berkerut melihat Via terus berusaha mengejar Romi. Jimmy pun mendekat, penasaran dengan apa yang terjadi. Jimmy mengejar menarik tangan Via.


Langkah Via langsung terhenti, menatap Romi yang semakin menjauh. Via memandang Jimmy, diam membisu di sampingnya.


"Kak?"


"Apa ada sesuatu yang kalian rahasiakan dariku?"


"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan---"


Belum usai Via berbicara, Jimmy menarik Via menuju arah Romi melangkah. Sampai di ruan markas, Romi tampak kembali sibuk dengan pekerjaannya yang belum juga usai. Kali ini mulut Via terkunci melihat gelagat dingin suaminya.


"Apa yang sedang kalian berdua rencanakan?"


Romi melirik Via dan Jimmy bergantian. "Ooh, jadi kali ini kamu gunakan suamimu untuk membujukku? Ooh, tidak bisa." Romi kembali fokus pada PC melanjutkan pekerjaan yang kembali terhenti.

__ADS_1


"Jadi apa yang terjadi. Apa berkaitan dengan dua orang yang dibawa Devan tadi?"


Romi kembali melirik ke arah Via dan Jimmy. "Ternyata mereka dibawa oleh Devan? ck ... Anak itu selalu saya merepotkanku."


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Kali ini nada suara Jimmy tidak sedingin yang tadi.


Via menjelaskan kronologis yang dia tahu. Berharap Romi bisa membantunya menyelesaikan masalah mereka. Akhirnya membuat Jimmy angkat bicara.


"Bantu lah mereka!"


Satu kalimat pendek itu membuat Romi tak bisa berkutik. Menurutnya tak ada sesuatu yang bisa dilakukannya. Lagian permainan itu telah terhapus.


"Haalaah, kalian benar-benar tidak mempercayaiku ternyata. Aku tidak akan berguna di sini!"


Jimmy mendekat memegang bahu Romi. "Baik berguna, maupun tak berguna, temani lah mereka! Ajak beberapa orang yang kau anggap bisa lebih berguna!"


*


*


*


Via melangkahkah kaki memasuki kantor kepolisian. Sudah lama sekali semenjak dia menikah, tak pernah lagi memasuki gedung ini. Dari arah ruang kerja yang sering dia gunakan berdebat dengan seseorang, terdengar perdebatan antara beberapa orang.


Dia mendengar seseorang yang berbicara tentang dirinya. "Kau menantang saya ya? Kau membuatku teringat pada bocah tengil yang dulu mengatakan hal yang sama pada saya."


"Apa maksud Anda itu saya, Kapten?" Via melangkah dengan percaya diri datang membuka kaca mata. Diiringi anggotanya di belakang mengenakan pakaian serba hitam. Pakaian itu sengaja mereka desain untuk beberapa aksi tertentu. Termasuk aksi begini.


"Via? Kamu udah sembuh?" Mata Kapten I Bagus Suska terbuka lebar.


"Saya akan turun tangan mengatasi masalah ini. Saya tadi mendengar ada taruhan di dalam ruangan ini. Jadi keputusannya gimana Kapten? Jika tersangka yang Anda tangkap, salah kembali seperti kasus waktu itu?"


"Ekheeemm, hhmmm, apa maksudmu?" Kapten I Bagus Suska memasang wajah pura-pura lupa.


Via melangkah semakin mendekat. "Apa boleh kami ditinggalkan untuk berbicara berdua saja?" ucap Via pada semua yang ada di dalam ruang kerja Kapten tersebut. Lalu yang lain keluar meninggalkan Via dan Kapten I Bagus Suska.


"Ayo lah Kap, jangan keras kepala seperti dulu lagi?" Via duduk menyilangkan kaki bersidekap dada di bangku tepat berada di hadapan pemilik ruangan tersebut.


"Kau, bangun-bangun sudah langsung ikut campur dengan urusanku."

__ADS_1


"Oh, tentu. Aku hanya menuntut janjimu yang mengatakan akan memberikanku jalan tol untuk mengurus segala urusanku."


__ADS_2