
*Notes: sebelum membaca bab ini, otor harapkan reader tidak terlalu masukkan ke dalam hati. Ini hanya hasil reka dunia pernovelan dari otor, dan hanya sekedar pandangan semata dari otor. Jadi jangan BaPer yaaa
Kembali ke Marni,
Kost-kostan Marni memiliki peraturan yang keras, membuat mereka tidak bisa mengajak Stevan masuk ke dalam kamarnya. Stevan yang sudah menolak untuk tampil girly, memilih muncul di siang hari agar dia bisa menunjukkan jati dirinya kepada orang-orang di sekitar Via. Kali ini mereka memilih tempat lain untuk melanjutkan pembicaraan mengenai kasus mutilasi alm.Dika, pacar Rini.
Stevan dan Marni, telah duduk saling berhadapan. Masih belum terbiasa melihat wajah Via yang tampil sangat jelek seperti itu.
"Neng, bisa nggak sih Lo bersihin muka Lo yang seperti itu? Masa sama gue begini, Lo tetap tampil jelek? Mata gue jadi gatel gara-gara sakit liatnya."
"Habis, tadi gue kan cabutnya dari kostan, nanti kalau keluar dengan tampilan berbeda, malah bisa kena tabok warga satu kostan kan berabe.." Marni membangkitkan diri dari posisi duduknya.
"Gue bersihkan diri di kamar mandi dulu ya.."
"Oke jelek, gue mau buka-buka hasil temuan gue dulu.." sibuk dengan tab yang sudah difasilitasi dengan stand keyboardnya. Itu merupakan benda kesayangan yang selalu dibawa kemana-mana, karena ringan. Sudah nggak zaman nya membawa laptop kemana-mana, katanya.
Marni menuju kamar mandi kafe tersebut. Masuk dan mengunci diri di kamar kecil. Membersihkan muka dan bekas cairan hitam dengan tissue basah yang dia miliki.
"Sumpah tadi yang duduk sama bule itu nggak banget…" terdengar percakapan cewek-cewek yang tengah bercermin memperbaiki make up.
"Eeeh.. ternyata Lo memperhatikannya juga…"
"Ya iya lah, secara mata gue tu udah kayak auto focus kalau ada cowok keren kayak gitu…"
"Apa mereka pacaran ya? Secara bule-bule seleranya banyak yang aneh lhoh?"
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Itu gue banyak nonton vlog kehidupan warga Indonesia di luar negeri. Suami bule ganteng, istrinya bisa dibilang eksotis. Kayak yang tadi kita lihat .."
"Aaahh.. sumpah gue nggak rela jodoh gue diambil cewek jelek tadi," ucap yang dari tadi sarkas.
"Yeee.. jodoh Lo.. kenal aja kagak.." timpal cewek satu lagi.
"Nanti akan berbeda…" jawab yang sarkas, menambah gincu di bibirnya. Lalu mereka pergi keluar.
Senyuman smirk tersungging di bibir Marni yang sudah bertransformasi menjadi Via. Tidak tanggung-tanggung Via mengganti pakaian yang dia kenakan, membuatnya tampak lebih cantik.
Pakaian yang dia kenakan dengan atasan yang sedikit feminim, tetapi bawahannya mengenakan jins yang nyaman saat digunakan olehnya. Dia memerlulan pakaian yang nyaman. Kali ini dia merasa akan melakukan aksi besar bersama Stevan.
Setelah ponselnya diaktifkan kembali, tak lama masuk notif bahwa ada pesan yang masuk. Belum sempat dibaca, kontak yang sedari tadi menghubunginya kembali menelepon. Kali ini panggilan tersebut diangkatnya, merasa ini sebuah panggilan yang penting.
Saat diangkat, tanpa babibu yang dari seberang jaringan langsung terdengar suara arogan milik seseorang, "Via, kamu sengaja menghindari panggilan dari saya?" suara garang dari balik telepon, langsung bisa ditebak oleh Via adalah milik Kapten I Bagus Suska.
"Tadi malam yang menyusup ke ruang barang bukti itu kamu kan!" dengan dingin dan lantang.
"Siapa?"
"Jangan pura-pura berlaga bodoh. Saya tahu itu pasti kamu…"
"Enggak aah.. Kap.. emang ada barang yang hilang? Kenapa marah-marah menuduh saya seenaknya?" Via masih berusaha untuk menahan emosinya.
"Memang tidak ada yang hilang, hanya saja saya tidak suka kalau ada orang yang mau ikut campur dengan urusan dan bagian pekerjaan saya… Kalau kamu macam-macam, saya bisa jebloskan kamu ke penjara!?"
"Lha, apa tuduhan yang bisa memberatkan saya mendekam di penjara?" suara Via mulai meninggi.
__ADS_1
"Kamu melakukan tindakan kriminal penyusupan dan penyadapan pada kantor pemerintah…!!"
"Apalagi dengan berani menyusup ke kantor milik kepolisian! Berani sekali kau mengajak kami perang?"
"Perang? Saya rasa Anda terlalu berlebihan! Kita lihat sendiri nanti Kap! Jangan sampai Anda diturunkan dari jabatan karena salah menangkap orang…!!"
Kapten I Bagus Suska semakin naik pitam, "Berani kamu mengancam saya?" dengan lengkingan tinggi sehingga Via menjauhkan telepon genggamnya dari telinga.
"Kapten juga berani mengancam saya kan? Apa bedanya pekerjaan kita? Sama-sama mencari kebenaran. Namun, Anda jangan asal tangkap aja sebelum bukti yang konkret terpampang secara nyata!" ucapnya dengan keras.
Belum sempat kapten itu menjawab, telepon ditutup dengan segera oleh Via.
"Tenang Kak.. gue akan menemukan siapa penjahat sebenarnya.. dan membuat orang sombong itu malu karena salah menangkap orang!!!" menggenggam tangannya dengan geram.
Lalu Via kembali melangkah menuju tempat Stevan. Tampak dua cewek yang tengah nimbrung di meja Stevan. Mengganggu Stevan yang tengah konsentrasi dengan pekerjaan yang diberikan Via.
Stevan mendapatkan sosok Via yang sudah kembali menjadi cantik. Dia masih meladeni pertanyaan dua cewek cakep yang tiba-tiba duduk di dekatnya. Namun alisnya naik melihat wajah Via yang tengah marah dan kesal.
Apa dia cemburu, karena aku dikelilingi cewek ini? batinnya sedikit ge er an.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE & KOMENTAR...
...terima kasih...
__ADS_1
hari ini sudah ada vote..boleh bagi vote untuk cerita ini???