
"Lo ada kerjaan ya Neng?"
Marni mengangguk, dan memeriksa kembali kelengkapan peralatan untuk digunakan mengakhiri penyelidikan di rumah Mak Iroh.
"Kalau Lo sibuk banget, gue masuk aja deh. Gak enak banget dikacangin sejak tadi," gerutu Rini yang dianggap tidak terlihat oleh kedua orang ini. Yang satu sibuk dan menyibukkan diri dengan ponsel, yang satu sibuk memeriksa benda-benda di dalam tas. Dikacangin itu rasanya sakit sist...
"Maaf Kak, soalnya kami buru-buru. Jadi pikiranku terfokus pada satu hal. Jadi maaf kayak cuek sama kakak."
"Sedari dulu ngomong kayak gini Napa? Ini seneng banget pura-pura gagu. Apa tidak capek?"
"Hehehe, itu karena suatu hal Kak..." setelah merasa semuanya oke, Marni melotot karena Deval masih belum menggunakan benda-benda yang diberikannya.
"Ya udah, gue masuk ya. Good luck yak... selalu hati-hati!"
Marni mengangguk, "Baik kak, doain kami yak..."
Rini mengacungkan jempolnya, dan segera masuk ke dalam rumah kost yang besar itu.
"Cepat pakai topinya!" titah gadis itu ke Deval yang masih belum bergerak sedari tadi.
"Di sini?" alisnya terangkat keberatan.
"Ayo buruan!" bentak gadis itu... "Tinggal pasang aja kok ribet amat?!"
Deval hanya melirik Marni sambil mendengus memasang benda itu.
"Apa ini tidak terlalu norak?" ucap Deval merasa tidak nyaman dengan penampilannya ini.
Marni menahan tawanya, karena merasa tampilan cowok itu terasa begitu aneh juga di matanya. Lalu Marni berpikir kembali kira-kira bagaimana baiknya, "Kayaknya gak apa seperti itu untuk hari ini."
"Tapi...?" belum selesai dia berbicara, Marni telah menariknya untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Tanpa sepengetahuan dua orang ini, sebuah mobil ternyata tengah memantau situasi di sekolah mereka. Masih mengingat lokasi sekolah si kembar yang sempat didapatkannya hasil retasan jaringan yang dilakukan Oliver.
Namun, beruntung. Mereka tidak memperhatikan Deval dan Via yang baru saja melintasi kendaraan yang mereka tunggangi.
__ADS_1
Deval menggandeng tangan Marni, dan gadis itu segera mengikuti langkah Deval. Dia memperhatikan tangan Deval yang erat menggenggam jemarinya.
"Heii, pegang tangan gue kayak gini nanti malah kena sanksi sama Tosan gue lho?"
Seketika genggaman itu dilepas Deval, dan Marni kembali mengeluarkan cengirannya terus mengikuti langkah Deval. Kali ini mereka memilih naik taksi online menuju lokasi Mak Iroh.
Diam-diam dengan tenang masuk ke dalam rumah Mak Iroh yang dipenuhi dengan aroma yang aneh. Kembali mereka tidak menemukan sosok yang mereka cari. Bagi Marni alias Via ini benar-benar satu hal yang baru.
Ada orang yang tahu akan ada yang mendatanginya. Lalu Marni memeriksa benda-benda yang bisa menjadi bukti tambahan sebagai penguat tuduhan akan tindakan meracuni warga tersebut. Namun, lama kelamaan tercium aroma hangus dan suhu udara di ruang senpit itu makin lama terasa semakin tinggi.
Deval dengan langkah cepat menarik Marni dari tempat itu. Tampak api yang mulai membakar dinding-dinding yang terbuat dari kardus. Api dengan cepat melahap benda yang terbuat dari kertas itu. Dengan cepat pula Deval menarik Marni berlari keluar dari sana.
Mereka berdua telah berada di luar. Deval memastikan bahwa Marni baik-baik saja tanpa lecet sedikit pun. Mengecek setiap inci bagian dari Marni, tanpa berkata apa pun. Ini membuat perasaan Marni alias Via semakin melambung, melupakan bahwa kejadian barusan bisa membuat mereka nyaris kehilangan nyawa.
Warga yang melihat kebakaran di rumah Mak Iroh langsung panik. Mereka khawatir, kebakaran ini bisa merembet ke rumah-rumah kardus yang mereka huni. Mengajak penghuni lain menyelamatkan diri dan benda-benda sekiranya berharga bagi mereka.
"Ini pasti perbuatan Mak Iroh. Orangnya tentu belum terlalu jauh. Mari kita kejar sebelum orangnya semakin jauh," ucap Deval memecahkan lamunan berbunga Marni. Tak menyangka wanita tua itu bisa senekat ini.
Posisi Mak Iroh tidak terdeteksi saat ini, jika terus berdua seperti ini, orang itu pasti bisa lolos lagi. "Val, sepertinya kita harus berpencar. Lo arah ke sana!" Marni menunjuk sisi timur. "Sementara gue arah ke sana," menunjuk sisi barat. Usai kesepakatan, mereka berpisah dengan satu anggukan.
Marni menyusuri bagian bawah jembatan semakin dalam. Area yang disusurinya ini jauh dari rumah Mak Iroh yang terbakar tadi. Tiba-tiba netranya menangkap sosok anak kecil. Anak yang membawa kabur sepedanya kemarin. Tanpa berpikir panjang, Marni segera mengejar Udin.
Udin yang kaget tiba-tiba ada yang mengejarnya, langsung kabur meski dia tidak tahu mengapa. Seorang cewek pakai topi dan masker, yang tidak dikenalnya tiba-tiba mengejarnya. Berlari kabur sambil menangis memanggil ibunya yang tak tahu dimana. "Mak.. Mak.. Mak.."
Sementara itu, Deval berada di sisi rumah-rumah yang banyak ikut terbakar. Di sana sini para tuna wisma termenung, melihat tempat mereka berteduh dan berlindung dilalap oleh api yang semakin ganas membara akibat tiupan angin yang lumayan kencang. Deval masih menyusuri bagian demi bagian di antara orang-orang yang tengah bersedih itu.
Tiba-tiba matanya menangkap sosok yang terus bergerak menjauh. Sosok wanita tampak tua rambut diikat sanggulan kecil. Berjalan menyusuri orang-orang tengah luluh sedan melihat tempat mereka berteduh dilalap si jago merah.
Deval mengikuti wanita berperawakan seperti Mak Iroh itu. Mengikuti, wanita itu terus berjalan menuju tempat yang semakin sepi. Di suatu tempat yang buntu dibatasi oleh bantaran sungai, wanita itu membalikkan badannya.
Alangkah terkejutnya Deval, orang yang diikutinya itu bukanlah Mak Iroh seperti yang diduganya.
__ADS_1
"Ibu sengaja menggiring saya ke sini agar terpisah dengan teman saya?" tanya cowok itu kepada ibu tua tadi.
Ibu itu ketakutan menangkupkan kedua telapak tangannya lalu memohon, "Maafkan saya, Nak! Saya dipaksa Mak Iroh untuk melakukan ini kepada kalian!" lalu mata ibu tua itu terpana melihat sesuatu, tepatnya seseorang yang ada di belakang Deval.
"Kamu lari lah!" ucap wanita tua itu lalu pergi dengan langkah yang cepat.
...*****...
Hari ini segini dulu ya guys, soalnya otor mau perjalanan jauh lintas provinsi. Jadi mesti packing-packing dulu. Otor bukan naik pesawat, cuma naik travel. Insya Allah besok sampainya, karena harus melewati beberapa provinsi untuk sampai ke sana 😂😂 jauh yaa..
Semoga besok bisa up juga.
kalau berkenan, mampir juga di tulisan othor lainnya
ini cast yang othor ambil untuk cerita itu.. Hanya yang jadi Harry aja yang produk enternesienelnya, yang lainnya asli orang-orang Indonesia.
Di sini Otor jadikan pemerannya Cool abis menjadi pangeran misterius berkacamata, yang kenal babang Bubu, mari merapat.. 🤣🤣
Lokasi perkuliahannya pun di Universitas Andalas, letaknya di Kota Padang 😂 adakah reader mendengar Kota Padang?
Mari mampir yaaa...hihihi
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...
__ADS_1