
*Notes: sebelum membaca bab ini, otor harapkan reader tidak terlalu masukkan ke dalam hati. Ini hanya hasil reka dunia pernovelan dari otor, dan hanya sekedar pandangan semata dari otor. Jadi jangan BaPer yaaa
Marni yang melihat sosok Stevan, langsung mengejarnya dengan wajah sumringah. Namun, dia bingung, harus berbuat apa di tengah orang yang ramai memperhatikan orang yang dibilang bule ini. Marni paham, mengapa dia dikelilingi oleh warga kostan. Karena mungkin penilaian mereka tak jauh berbeda dari penilaian Rini. Pasti bagi mereka, Aa ini bule yang ganteng. Pasti pada pengen kenalan, pikirnya.
"Hallo Neng…" sapaan Stevan dengan dialek Sunda yang memang kentara di lidah bule nyasar itu.
"Wuuoohh..lihat tu.. ternyata bisa dialek Sunda juga," histeris para fans diantara kerumunan itu.
"Iyeh, padahal gue dari tadi udah nyoba nyari translator mau nanyain kontaknya dia.." timpal yang lain.
"Waduhh… Marni Gagu, Lo kok bisa beruntung amat yaaa, bisa kenal sama bule cakep macam ini?" tanya yang lain.
"Saya ini asli Indonesia kok.. hanya dulu nenek moyang pernah nikah sama orang bule. Tapi darah saya hampir seratus persen produk lokal…" jelas cowok dalam kerumuman itu.
"Jadi Marni ini siapa kamu ganteng?" kembali serobotan pertanyaan dari para fans clubnya.
"Saya.. saya…" pengen jawab pacarnya aja. Tapi takut kena tendangan seribu bayangan gadis ini. Melirik Via dalam mode jelek.
"Didia kakak sasaya…" jawab Marni asal.
"Kakak??"
"Kakak?"
"Kakak?" kicauan pertanyaan heran tengah membandingkan wajah mereka berdua.
"Nggak mirip…" celetuk yang lain.
"Kami itu saudara sepupu…" jelas Stevan tak kalah asal kena.
"Iiya.. sesepupu.. jajauh," tambah Marni. Sementara Stevan tengah berupaya menahan tawanya melihat akting Aziz g*g*p versi cewek.
__ADS_1
"Ooohh…Nanti gue minta kontak bang bule ini ke Marni aja deh.." timpal yang lain mulai keluar dari kerumunan.
"Gue juga.. Nanti bagi kontak Kang Bule ya… Gue masih ada kerjaan nih…" lalu kerumunan mulai terurai hingga meninggalkan mereka.
"Aa… Tumben kali muncul di siang bolong? Udah beres tugas akhirnya? Padahal biasanya ngalong kayak sundel bolong…" ceracau Marni.
"Ya, tinggal dikit lagi gue bisa dapat ACC sidang nih.. doain yak.. oiya...…"
Belum selesai Stevan bicara, sudah disela oleh Marni, "Aaamiin.. gue doakan sukses, kalau dah tamat jadi agen tetap aja di BOS..
"Ogah aahh.. gue mau ke Jepang aja buat ngurus nuklir yang ada di sana.."
"Di Jepang juga ada BOS kok.." timpal Marni memasang wajah cemberut.
"Oiya..sumpah tadi tu gue susah banget nahan tawa lihat Lo sok gagu kayak gitu."
"Yaah, gimana lagi Aa.. takut terulang lagi masa lalu yang kelam…"
"Tapi begini malah akan makin kelamm…" nyoel muka Marni yang belang, akibat air mata tadi.
Dalam hati Joko berkata, jangan sentuh dia!! Sambil menatap tajam ke arah Stevan, bergantian dengan Marni.
"Oohh.. iya A… Ini kenalkan.. Joko.. teman sekolah gue…"
Lalu Stevan mendekatkan mulutnya pada telinga Marni, dan membuat Joko makin panas karena sepertinya Stevan terlalu dekat dengan Marni.
"Bukankah dia yang di rumah sakit itu?" bisik cowok bule untuk memastikannya.
Marni terperangah, "Lhooohh… Kok Aa tahu? Bukankah dia sudah menyamar?"
"Tak ada yang bisa nipu mata gue…hihihi…"
Joko seperti mengeluarkan asap dari kepalanya melihat kedekatan dua insan ini yang tampak tak wajar lagi.
__ADS_1
"Bisik-bisik di depan orang, nanti dikenakan tindak pidana pencemaran nama baik…" ujar Joko dingin.
"Tuh, orangnya marah…" Marni mencubit pinggang Stevan.
"Sengaja…" celetuknya sambil mengelus bekas cubitan.
"Hmmm… Kayaknya gue hanya mengganggu datang ke sini. Lebih baik gue cabut dulu," Joko menatap mata Marni, tak dapat menyembunyikan rasa cemburu melihat gadis pujaan hatinya didekati cowok lain.
"Idiiihh….dia pemarah bener…" bisik Stevan.
Marni menyikut Stevan. "Loh? Kok cepet amat pulangnya?"
"Kayaknya gue mesti melalukan sesuatu…" ujarnya dingin melihat Stevan.
Stevan yang merasa dilihat dengan tajam, tergidik menengadahkan kedua tangannya, "Why…???" ucapnya kepada Joko.
"Ya udah, gue cabut dulu ya. Lo hati-hati aja ya dalam bertugas…" Joko menatap Marni sekejap, dan menganggukkan kepala kepada Irin setelah itu langsung cabut dari tempat mereka berdiri saat ini.
Irin mendekat sembari berlari kecil ke arah Stevan, setelah itu mengacungkan kedua jempolnya.. "hihihi.. Hebat A.. hebat.. ini namanya serangan awal melawan musuh.."
Belum sempat Stevan membalas, Marni telah menyela, "Apaan sih…" celetuk Marni yang terus melihat langkah Joko yang semakin jauh.
Joko segera menuju ke rumah nya, mengganti seragam, menuju ke tempat latihannya, dia bertekad untuk menjadi kuat… Lebih kuat dari hari ini. Lebih kuat dari bule itu, batinnya. Dia seperti melupakan bahwa tubuhnya masih belum kuat untuk mendapatkan latihan berat.
...klik gambar-gambar di bawah ini...
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE & KOMENTAR...
__ADS_1
...terima kasih...