DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
S2-5 Hidup Kembali


__ADS_3

Tiba-tiba hujan yang tadi mulai membasahinya menghilang dengan sekejap. Sebuah payung sudah melindunginya dari hujan yang mulai mengguyur tubuhnya. Menoleh ke belakang, mengira Dedi yang datang mengantarkan payung untuknya.


"Dokter...? Kenapa kamu ada di sini?"


"Sebenarnya aku sengaja mengikutimu hingga ke sini."


Mendengar itu Via bangkit langsung melayangkan kakinya kepada pria itu. Namun, hujan yang membuat pijakannya menjadi licin dan dia tergelincir. Pria itu mengambil posisi, dan sang wanita jatuh pada pelukan si dokter. Tanpa sadar. payung tadi terlepas. Hujan langsung menyerbu mereka berdua. Beberapa waktu tatapan mereka beradu, masuk pada netra lawan masing-masing.


"Non, apa kamu lupa baru saja terkilir? Apa tidak bisa menahan diri untuk tidak jingkrak-jingkrakan seperti barusan?"


Via mengerjap-ngerjapkan matanya. Masih dalam pose yang sama, sedang loading memikirkan apa yang tengah terjadi di antara mereka. Ketika sadar, dia langsung memperbaiki posisi, matanya sudah perih diserang pasukan air hujan.


"Iiisshh, kamu mencurigakan? Kenapa mengikuti saya sampai ke sini?"


"Aku hanya tidak sabar memberitahu kamu tentang suatu hal. Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa aku adalah--"


"Sssttoop..., aku gak mau dengar! Siapa pun kamu, aku tidak peduli." melihat payung yang terbalik telah berisi air.


"Bawa payung buat nampung ujan, dasar aneh!" sungutnya, lalu dia berlalu.


"Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku...-" masih berusaha berteriak, namun suaranya dikalah kan oleh deruan hujan yang syahdu.


"Aaahh, berisik!" selanya. Wanita keras kepala itu terus berjalan meski kakinya kembali terasa nyeri setelah terpeleset tadi.


"Aneh banget tuh orang," gerutunya masuk ke dalam mobil.


"Waduuh, Nona basah kuyup?" ucap Dedi heran. "Bukan kah tadi Jimmy membawakan payung untuk Nona?"


"Jimmy?" tanyanya membesarkan mata. Nama itu sudah sangat lama tidak terdengar olehnya.


"Iya, katanya namanya Jimmy. Dia bilang teman sekolah masa SMA, Nona Via dulu."


"Jimmy? Seingatku Jimmy tidak seperti itu deh?"


"Ooh, Nona tidak tahu?" mengelus dagu dan mengangguk pelan.


"Coba ceritakan!" sambil mencari sesuatu di kantong jok belakang Dedi. "Apa nggak ada handuk di sini Om? Iiihh, sempit amat ni mobil. Nanti kita ganti kayak yang biasa aja!"


"Saya pikir makin dewasa Nona akan suka yang mewah-mewah gitu. Makanya saya pilih yang ini." celetuk Dedi.


"Ogah, aku suka yang memiliki fungsi maksimal. Untuk apa aku pilih mobil yang dulu, coba Om? Itu karena bisa menampung semua peralatanku, dan bisa jadi rumah kedua kalau aku lelah. Iiihh, Ini sempit amat..." sungutnya.

__ADS_1


"Iya, iya... nanti kita balikin lagi ni mobil ke showroom-nya, kalau mereka tidak mau, nanti kita jual lagi aja."


"Iya, mending gitu." mengelap tubuhnya yang sudah mulai kedinginan.


"Lalu tadi kenapa Jimmy Om?"


"Delapan tahun lalu kami mendapati dia dalam keadaan mengenaskan. Wajahnya rusak."


"Rusak?"


"Disiram cairan amoniak oleh mafia Italia itu lo Non?"


Seketika Via mengernyitkan wajahnya, "Serius Om?" membayangkan seberapa sakitnya itu.


"Iya, dulu waktu dia kabur usai menembak emmm...," berfikir sejenak karena merasa tidak enak.


"Mafia itu langsung kabur kan? Jimmy mengejarnya, dan kami menyusul. Namun, saat kami sampai di lokasi, kami dapati Jimmy sudah dalam keadaan mengenaskan. Wajahnya rusak parah."


Via kembali mencoba mengingat-ingat wajah Jimmy. Ketika banyak sekali anak-anak perempuan di sekolahnya menyukai dia. Berarti Jimmy itu anak yang populer bukan? Bisa jadi karena tampangnya juga. Via mengepalkan tinjunya, merasa geram atas tindakan Oliver.


"Psikopat sialan! Awas dia! Aku akan menangkapnya!"


"Nah, gitu dong Non. Nona Via yang sarkas dan penuh ambisi ini lah yang saya kenal. Bukan orang yang selalu diam dan berputus asa. Saya siap membantu Non."


"Baik Non! Siap dilaksanakan."


Sepanjang perjalanan, dia tidak habis pikir dengan perubahan Jimmy. Pantas saja, apa yang dirasakan saat merawatnya tadi malam, tak ada bedanya saat ia rasakan bersama Jimmy. Betapa baiknya Jimmy, namun selalu dijauhinya karena Jimmy merupakan anak musuh besarnya Buana Putra.


Pantas saja dia selalu berkata ingin mengatakan sesuatu. Ternyata dia ingin memberitahukan bahwa sebenarnya dia itu Jimmy? Lalu apa hubungannya denganku? Mau dia Jimmy kek, Dokter hebat kek, atau siapa pun kek, dia itu tetap lah anak dari musuhku.


Kembali dia teringat saat terpeleset, disambut oleh Jimmy, "Siaaalll, tadi malah jatuh ke dalam pelukannya pula," sungutnya.


"Apa Non? Peluk?" sela Dedi ikut gabung dengan racauan tak jelas dari Via.


"Ooohh, bukan Om."


***


Via telah usai dengan persiapannya, kembali melangkahkan kakinya keluar dari apartement. Saat pintu terbuka, dia memilih masuk dan menuju lantai dasar. Dimana kali ini targetnya adalah untuk segera mengganti kendaraannya.


Dedi sedang duduk membaca majalah menunggu Via turun, di koridor. Melihat Via sudah kembali rapi, dia langsung bangkit menunggu Via berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Ayo kita ganti rumah berjalan kita."


"Baik Non!"


Lalu mereka menuju lokasi yang ingin mereka tuju, sebuah showroom kendaraan roda empat. Via langsung memilih yang fiturnya paling lengkap, sesuai dengan kebutuhan. Maka pilihannya jatuh kepada jenis suv yang harganya cukup fantastis.


"Dah, mobil tadi jual aja. Aku gak butuh."


"Sayang sekali Non, belum sehari umurnya."


"Ya salah sendiri nggak nanya-nanya."


"Saya pikir Nona udah berubah selera. Ternyata malah milih yang makin gede body-nya."


Via berjalan mengintari mobil ini, lebih mewah dibanding kendaraanya dulu. Semoga nyaman dan bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.


Tak lama, kendaraan besar itu telah melanglang jalanan ibu kota sekedar mengajak Via jalan-jalan. Ini hari keduanya berada di negara ini setelah delapan tahun ditinggalkannya.


Kemarin ketika baru sampai di kota ini, dia langsung bekerja melacak keberadaan mafia judi online. Nahasnya, membuat kakinya cidera seperti saat ini. Namun, dia tidak memedulikan keadaan kakinya. Ini hanya masalah kecil baginya.


Kendaraan berbelok memasuki area pengisian bahan bakar. Via memilih untuk turun dan berkeliling sembari menunggu Dedi yang nagntri menunggu giliran. Dia melihat banyak sekali anak kecil yang menyodorkan ember kecil ke hadapan pengunjung area itu.


Meskipun dia tahu, ada gembong besar di balik maraknya pengemis cilik ini, namun masih terketuk di hatinya menyerahkan uang ala kadar yang langsung diseliplannya ke dalam kantong anak itu.


"Rahasiakan yang ini ya?" bisiknya sambil berlalu. Sang anak yang menerima langsung merasa terharu.


Lalu Via kembali berjalan ke arah pinggiran badan jalan. Menonton antrean pengisian BBM yang cukup panjang. Ini pemandangan yang sudah lama tidak disaksikannya.


Saat di Jepang, masyarakat lebih suka berjalan kaki dan mengendarai kendaraan ramah lingkungan ssperti sepeda. Karena, harga bahan bakar di sana tergolong tinggi. Selain itu masyarakat juga memilih naik kendaraan umum seperti bis.


Di Amerika pun antrian kendaraan tidak sebanyak ini. Masyarakat mengisi sendiri, dan melakulan pembayaran non-tunai. Berbeda dengan di sini, yang masih serba manual.


Tiba-tiba matanya menangkap satu sosok yang tengah berlari mengejar seseorang di seberang jalan. Sosok itu seperti seorang yang baru tadi pagi membuatnya menangis sejadinya di sebuah pusara. Sosok yang benar-benar dirindukan, tiada obatnya.


Val? Val? Kamu hidup lagi Val?


Via ikut berlari mengejar orang yang seperti bangkit dari alam lain itu...


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...

__ADS_1


...terima kasih...


__ADS_2