
Kelas dimulai seperti biasa, beruntung sekali tadi dapat asupan roti sobek pemberian Jimmy. Kalau tidak, entah dari mana dia dapat energi untuk menghadapi mata pelajaran yang berkaitan dengan angka semua.
Tatapan tajam kawan-kawannya membuat dia merasa dicekek oleh sesuatu yang tidak terlihat. Kenapa kawan kelasnya serasa semakin memusuhi nya? Namun perasaan ini ditahannya di dalam hati.
Waktu istirahat, Marni memilih untuk segera cabut dari kelas. Tekanan aura kebencian dari kawan-kawannya membuat dia merasa sesak. Sementara ada sebuah sosok memungut salah satu benda yang tadi keluar dari dalam tas Marni, yang luput dari pantauan Irin. Sebuah benda elektronik kecil bewarna hitam, yang tidak dia ketahui itu apa. Orang yang memungut benda itu adalah Romi, temannya Dino. Lalu memasukkan benda kecil itu ke dalam kantong bajunya.
Marni dan Irin membeli cilok, duduk di bangku yang disediakan di halaman sekolah, sembari memandang orang-orang yang sedang bermain basket. Kali ini yang bermain basket adalah rombongan Jimmy dan kawan-kawannya. Sambil menusuk cilok, Irin dan Marni memperhatikan permainan putranya si Buana Putra. Dia terlihat gesit dan cukup luwes dalam menggiring bola serta memasukkan nya ke dalam ring.
Joko yang sedari tadi pagi merasa panas tak jelas, ditambah melihat adegan yang membuatnya kebakaran karena melihat Marni jatuh menimpa Jimmy, sekarang Marni tengah asyik menonton permainan Jimmy yang sangat apik. Berbeda sekali dengannya yang saat bermain basket dulu, malah tidak bisa memasukkan bola sedikit pun ke dalam ring.
Rasa marah membuatnya kembali enggan untuk menghampiri Marni, memilih kembali masuk kelas dalam diam dan sepi.
Sementara Jimmy yang sadar tengah ditonton oleh Marni, menampilkan permainan yang terbaik dalam basket ini. Dia merasa Marni sangat menyukai basket, karena sering mendapatinya tengah asyik menonton orang bermain basket di lapangan. Dulu juga melihat permainan basket Marni saat duel Dino cs.
"Jelek, kayaknya dia sengaja pamer tuh," celetuk Irin yang juga menonton permainan itu. "Sebenarnya dia itu enak dilihat, tapi sayang dia anak dari mafia kurang ajar," tambahnya.
Marni tidak memberikan jawaban apa-apa. Selama beberapa waktu mengenal Jimmy, dia menilai sebenarnya Jimmy punya watak yang baik. Mungkin turun dari Ibunya, dokter cantik yang pernah merawatnya beberapa waktu lalu.
Sedang asyik berbincang, ponsel Irin bergetar, menandakan ada Videocall masuk. "Jelek, ini Aa' lho," katanya histeris. Lalu panggilan itu diangkat, tampak Stevan tampak gagah mengenakan Hem putih, bawahan hitam, dan mengenakan dasi.
"Waaah, Aa' terlihat tampan sekaleeee..., bagaimana sidangnya?" tanya Irin yang tampak sumringah melihat sosok bule yang cukup lama tidak mereka lihat itu.
"Sidangnya udah selesai, dan syukurnya aku bisa menyajikan penampilan terbaikku dalam membahas tugas akhir tadi. Mana anak itu?"
__ADS_1
Marni langsung ikut nimbrung dalam obrolan tersebut, "Jadi gue nggak dikabari nih? Cuma Irin aja yang dikabari?"
"Ini gara-gara Aa tau gue lagi sama Lo sedang istirahat nih, makanya dia nelpon. Dia mau ngasih tau Lo malah?"
"Masa?" ucap Marni memanyunkan bibirnya.
"Jadi Aa udah beres sidang ya? Selamat ya Aa; kata orang welcome jadi pengangguran!" ledek Marni sambil mencibir.
"Wahahaha, gak apa gue nganggur, yang penting tetap punya penghasilan," ucap yang di dalam video tertawa lepas.
"Naah, mulai hari ini gue free banyak nih. Lo bisa ganggu gue dua puluh empat jam nonstop..." canda bule itu.
"Ha-ha-ha, akal-akalan Aa aja ni, biar duitnya banyak tuuu," celetuknya lagi. Dia kembali lupa pada akting gagap nya, keasyikan ngobrol dengan si bule. Ternyata ada sepasang mata yang tengah mengawasinya dari jauh.
"MARNI GAGUUUUUU," kembali terdengar pekikan cempreng dari Dino.
"Siapa tuh yang teriak?" tanya Stevan di dalam layar ponsel.
Dino semakin mendekat kepada duo sahabat yang masih asik nyomot cilok tadi yang belum habis juga.
"Awas Lo ya? Jangan kabur lagi!"
"Ma-mau, a-apa se-seka-karang?"
"Tugas Lo hari ini adalah, membelikan gue jajanan di kantin. Gue lagi malas ke kantin, tapi perut gue laper."
Marni langsung bangkit, "Lo ma-mau ma-makan a-apa?"
__ADS_1
Dino tengah fokus sambil ileran melihat cilok di tangan Marni. "Gue mau somay aja, yang pakai kuah kacang, yang pedes yaa?!"
"O-ooke-ke," Marni langsung menuju kantin ditemani oleh Irin. Membeli somay sesuai kemauan Dino, yang pedes. Marni meminta sambel rawitnya sampai lima belas sendok sama kang warung. Lalu mereka berdua cekikikan dengan senyuman licik membawa makanan bersaus kacang tersebut kepada Dino.
"U-udah du-dulu ya? Gu-gue ma-masuk du-dulu."
"Ya terserah, gue makan dulu."
Marni dan Irin pergi menjauh secepatnya, meninggalkan Dino dengan kejutan yang akan diterimanya. Saking kelaparan, Dino langsung memakan bola-bola kenyal berkuah kacang itu dalam jumlah banyak. Awalnya dia menikmati, saat telah beberapa kali kunyah, dia merasakan panas yang luar biasa. Merasa kebakaran di dalam mulutnya.
"GAGUUUUUU..." teriaknya sambil ternganga dengan keringat mulai membanjiri tubuhnya.
Jimmy yang diam-diam menyaksikan kelakuan cewek yang disukainya, tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan si jelek berkacamata.
Mengerjai anak itu dengan cara yang sangat elit.
Sementara Joko yang diam-diam juga mengintip, semakin kesal karena Marni sama sekali tidak mencarinya.
Marni dan Irin terkekeh menuju kelas, melupakan alasan mengapa tadi memilih keluar dari kelas secepatnya. Saat kembali memasuki ruang kelas baru dia tersadar dan ingat kembali akan hal itu.
Tatapan tajam, terus menusuk perasaan Marni. Wajahnya yang tadi ceria setelah mengerjai Dino, seketika berubah menjadi suram. Ada hal yang menekan batinnya karena tatapan tajam dari kawan-kawannya itu.
"A-ada a-apa?" tanyanya memberanikan diri.
"Hei, katakan sebenarnya Lo ini siapa? Lo ini samaran penjahat ya?" ucapan tajam dari salah satu temannya di dalam kelas itu.
...*bersambung*...
__ADS_1
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...