DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Alam bawah sadar Via 1


__ADS_3

Halooo semua pembaca DETEKTIF MUDA ... APA KABAR SEMUA???


Cuuung doong... !yang kangen sama Marni dan anggotanya. Author mau menulis jelang kelanjutan cerita anak-anak Via dan Jimmy. Jadi, apakah Kakak semua suka jika aku bikin di sini dulu menjelang buku baru muncul?


Kalau Kakak semua suka, cuuung jari di komentar dan jangan lupa like juga yaaa ...


...💖💖💖...


Maaf, banyak typo ... nulisnya malam-malam setengah tertidur ... Nanti, akan diperbaiki lagi kalau sikond udah oke.


Di mana ini?


Suasana terasa putih dan syahdu. Via memeriksa perutnya yang biasanya bulat, kini sudah kembali rata.


Anakku? Kak Jimmy, kalian ada di mana?


Tak terasa air mata Via menetes sendiri dalam sepinya.


Sepertinya aku sudah meninggal dunia ... Ternyata, aku ... aku ...


Apakah aku boleh menangis?

__ADS_1


Via melihat sebuah danau tak jauh berada di sana. Dia merasa terdampar di tempat yang sepi sendirian, sak satu pun ada wajah orang-orang meski pun tak dikenal yang menemaninya.


Anak-anak Mama ... maafkan Mama yang pergi tanpa sempat melihat dan memeluk kalian ...


Kak Jimmy ... apakah aku pernah mengatakan aku sangat cinta sama kakak? Saat ini aku ingin sekali mengatakannya ... Namun, sepertinya percuma ... Terima kasih, Kak ... terima kasih ata segalanya.


Via membenamkan wajahnya di dalam pelukan. Dia seperti telah lupa bagaimana cara menangis. Terakhir kali dia menangis ialah saat Deval pergi meninggalkannya.


pluuuk


pluuuk


Terdengar suara batu yang dilempari ke dalam danau. Via melihat ke arah sumber suara. Tampak, lemparan demi lemparan terus masuk ke dalam danau.


Via tertegun mendengar suara yang sudah begitu lama tak terdengar oleh telinganya. Via menoleh ke arah sumber suara.


Tampak seorang pria berwajah remaja menatapnya dengan gayanya yang selalu khas, dingin.


"Deval?"


Pria itu bangkit bergerak ke arah Via. Kali ini dia duduk tepat di sebelah Via. Dia melipat tubuh menyandarkan kepala pada lutut. Menatap wajah Via langsung tanpa ragu dan malu.

__ADS_1


"Selamat datang ..." ucapnya.


"Jadi aku benar-benar sudah meninggal?" tanya Via memastikan.


Deval mengubah posisi berselonjor. Tangannya bertopang pada tanah dan menengadahkan kepala menatap langit.


"Hanya aku yang meninggal di sini," ucapnya dengan sebuah senyum yang tertahan.


"Sepertinya aku juga." Wajah Via tak bergeser sedikit pun lepas menatap sosok itu. Sosok yang memberikan kehidupannya kepada dirinya. Sosok yang lama bersemayam dalam hati, yang hingga hari ini masih tersisa walau pun hanya sedikit.


"Wajahmu kenapa tidak berubah sedikit pun Val? Kamu tetap sama seperti dulu. Sedangkan aku, sudah menua dimakan oleh usia."


Deval kembali tampak mengulum senyuman. Dia masih tidak berubah, masih tidak bisa mengutarakan ekspresinya dengan nyata. Namun, entah kenapa hal itu lah yang membuat Via muda menyukainya.


"Coba kamu lihat sendiri wajahmu saat ini! Kamu juga tidak berubah, masij sama seperti saat terakhir kita bersama."


Via mencerna apa yang dikatakan oleh Deval. "Apa maksudmu? Aku ini sudah dua puluh lima tahun saat melahirkan bayi kembarku. Meski aku belum sempat melihat, mencium, dan memeluk mereka." Wajah Via berubah menjadi sendu.


"Kamu tak sama sepertiku. Kamu tenang lah. Akan ada masa di mana kamu kembali bertemu dengan mereka. Mungkin kali ini Tuhan mengabulkan doaku, untuk bertemu kembali denganmu."


Via tidak tahu apakah harus senang atau pun sedih saat mendengar ucapan Deval barusan. Seandainya Deval mengatakannya jauh di saat dia masih ada di dunia, mungkin semua akan sangat berbeda.

__ADS_1


"Kenapa kamu berdoa seperti itu? Bahkan, aku jadi terpisah dengan bayi kembar yang selama sembilan bulan berada di dalam diriku. Bahkan aku meninggalkan Kak Jimmy----"


Via mengunci mulutnya. Deval kembali mengulum senyumnya itu. "Kamu menikah dengan Putra dari Buana Putra, kan? Bahkan memiliki anak kembar setelah hidup bersamanya."


__ADS_2