
"Ja--" Via belum selesai mengucapkan kata 'jangan'. Namun, panggilan telah dijawab oleh Jimmy. Terlihat Jimmy menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Jimmy langsung menyerahkan kepada Via.
"PULAAAAANG!!! KAMU PULANG!!!" teriak sang ayah di balik panggilan itu.
Membuat Via yang tengah makan langsung tersedak. "Aku lagi makan Tosan." Jimmy menyodorkan air putih kepada Via.
"Kamu tidak jujur dari awal dia anak dari orang yang dulu menghajar kamu dan Irin. Sekarang dengan mudahnya melanjutkan hubungan ke pernikahan dengan anaknya. Tidak! Tosan tidak setuju."
Via tertegun mendengar ucapan sang ayah. Meski sudah menebak-nebak, tetapi dia tidak menyangka bisa sampai seperti itu.
"Via! Kenapa Kamu diam saja? Cepat pergi dari sana!"
"Cepat!!!" masih dengan teriakan.
"Apa yang terjadi Sayang?" Jimmy terheran melihat ekspresi Via berubah menjadi sendu.
"Kau Jimmy! Menjauh lah dari putriku! Jangan berani-berani Kau dekati anakku!" ucap sang ayah, tetapi tidak terdengar oleh orang yang disebut-sebut.
"Via! Kenapa hanya diam? Cepat pergi dari sana!"
"Baik lah." Via langsung berdiri menutup panggilan itu. "Papa, Mama, saya pulang dulu. Terima kasih atas makanannya."
Kedua orang tua Jimmy terheran, begitu juga keluarga Om Broto.
"Kok Kakak cantik buru-buru? Kita kan belum main?" ucap Leoni terheran.
"Lain kali yah," Via beranjak tanpa menunggu Jimmy.
"Sayang, ada apa? Ceritakanlah padaku! Apa yang terjadi?"
"Tosan tiba-tiba berubah pikiran. Aku pulang dulu Kak. Aku ingin bicara panjang lebar di rumah bersama Tosan."
"Aku antar!"
Via menatap jalanan dengan diam yang panjang. Hal yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Jimmy yang sedari tadi mengajak bicara hanya didiamkan saja. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
Jimmy tidak benar-benar mengantar Via langsung ke rumah. Jimmy menghentikan mobilnya di dekat pantai yang sepi. Via hanya diam melihat deburan ombak di pantai itu.
Jimmy meraih tangan Via. "Sayang, coba katakan pelan-pelan kepadaku! Apa yang dikatakan Tosan tentang kita? Apa yang kamu maksud dengan berubah pikiran?"
"Huufffttt...," Via menghela nafas panjang. "Apa yang aku takutkan benar-benar terjadi Kak."
"Ceritakanlah!"
__ADS_1
"Apa Papamu menceritakan secara ditel tentang masa lalu kami?" tanya Via menatap mata Jimmy.
"Secara ditel sih enggak. Tapi aku tahu pasti ada sebuah hubungan rumit di antara kalian berdua. Hal itu membuatku mengerti kenapa kamu selalu menjauh kala itu." Jimmy pun menjelaskan apa yang dia pikirkan.
"Sebenarnya hubungan kami dahulu benar-benar buruk, Kak. Kau tahu? Bahkan tidak ada bahasa yang baik aku sampaikan kepada papamu itu. Bahkan aku mengatakan, Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya."
"Aku dan Irin hampir mati karena ulah papamu. Hal itu terjadi karena aku menghancurkan bisnis obat-obatan palsu milik papamu."
"Tosan telah mengetahui siapa papamu. Papamu adalah orang yang membuat kami masuk ke rumah sakit. Tosan menyuruhku mengakhiri hubungan di antara kita."
Jimmy tertegun, Via kembali menatap ke arah luar. Melihat deburan ombak yang seolah tak pernah berhenti mengejar daratan. "Lalu kamu mau membuangku?"
Via terdiam sejenak. "Aku tak tahu harus bagaimana lagi."
"Coba Kamu katakan satu kali saja padaku!" ucap Jimmy menarik dagu Via yang sedari tadi menatap ombak.
"Katakan apa?"
"Coba Kamu katakan, sesuatu yang membuat aku yakin bahwa kamu memang mencintaiku."
"Bukan kah aku sudah pernah mengatakan?"
"Belum, Kamu belum pernah mengatakannya satu kali pun. Aku ingin mendengarnya langsung terucap dari bibirmu."
"Kamu sama sekali belum mencintaiku dengan sungguh-sungguh." ucap Jimmy dengan dingin. Kembali melajukan kendaraannya. Mereka berdua sama-sama diam yang panjang.
Sampai di basement tempat memarkirkan kendaraan, tanpa berkata apa-apa Via berjalan terlebih dahulu meninggalkan Jimmy. Jimmy hanya menatap punggung wanita yang dicintainya itu. Membiarkannya pergi menjauh.
Bagaimana pun, aku tidak akan melepaskanmu. Meski aku harus memaksamu untuk mencintaiku!
Via melangkahkan kakinya perlahan demi per lahan. Semua ucapan Tosan masih terngiang-ngiang di telinganya. Membayangkan cintanya yang kembali kandas.
Mungkin aku memang tak pantas untuk dicinta. Pintu lift terbuka, Via masuk terduduk menyandarkan diri di dalamnya. Sepertinya aku lelah menjadi wanita yang kuat. Apa aku boleh menangis di sini?
Tetes demi tetes air matanya jatuh begitu saja. Dalam diamnya, pikirannya terasa sangat berkecamuk. Harusnya aku sadar sejak awal, bahwa hubungan kami ini akan sangat sulit untuk dijalani.
Pintu lift kembali terbuka. Ada beberapa orang yang masuk, membuat Via segera menyapunya. Tampak sebuah tangan yang memegang sapu tangan, berada tepat di depan mata Via. Gadis itu melihat siapa yang memberikan sapu tangan itu.
"Kamu?"
***
Italia
__ADS_1
"Kenapa dia harus dekat dengan anak Buana Putra? Seharusnya dari awal dia menjauh!" ucap Tosan tengah telepon video dengan istrinya.
"Perasaan kan tidak bisa kita tebak, Sayang. Biar kan dia memilih sendiri. Toh dia yang akan menjalaninya."
"Pokoknya aku tidak setuju. Masih banyak pria lain yang lebih pantas untuk anak kita!"
"Sudah lah, Sayang! Kamu jangan keras kepala begitu kepada anak kita. Jika kamu begitu terus, nanti dia kawin lari dan menjauh dari kita, bagaimana?"
"Aku akan menghajar dan membunuh anak itu jika berani-beraninya mengajak Viaku kawin lari."
"Huusshh! Main bunuh aja. Aku suka sama Jimmy kok. Dia baik dan santun sekali. Apalagi dia juga seorang dokter. Kapan lagi punya menantu seorang dokter kan? Nanti dia bisa merawat kita di masa tua." bujuk sang istri.
"Ingat, semua hanya masa lalu. Masa lalu ada yang pahit berakhir manis. Ada yang manis berakhir pahit. Hanya sedikit kisah itu yang stag, datar aja dari awal hingga akhir. Coba lah pikirkan lagi dengan baik."
"Hmmmm....!" sang suami hanya bergumam panjang.
"Ingat! Kali ini harus kamu pikirkan baik-baik! Bagaimana kebahagiaan anakmu! Cobalah memberikan dia ruang atas pilihannya sendiri. Selama ini kamu terlalu diktaktor terhadap gadis kecilku itu! Jika terjadi apa-apa pada anakku, aku tak akan memaafkanmu. Meski kau itu suamiku!"
"Lhoh? Kok sekarang malah aku yang kamu ancam?"
"Masa bodoh!" sang istri menutup panggilan secara sepihak.
"Huh, sama aja ibu dan anak main tutup telepon begitu saja," gerutu sang ayah.
Dia tengah bersiap-siap menyelidiki anggota Organisasi BOS yang diculik. Hingga hari ini masih belum ditemukan titik terangnya. "Ini masih ulang Bruno, tentunya. Tapi pemerintah di sini begitu melindunginya. Dia memiliki hak jaminan khusus, sehingga kami tidak bisa mengganggunya."
dddrrrttt...
dddrrrrtt...
Sebuah panggilan dari Markas Organisasi BOS di negara ini.
"Ya ada apa?" tanyanya.
"Kami baru saja mendapat informasi bahwa tangan kanan Bruno tengah melakukan transaksi jual beli perempuan berusia belia. Jadi sepertinya anggota kita diculik karena berhasil mengungkap hal itu. Kami curiga dia tengah di sandera di sana."
"Hmmm, kalau begitu segera siapkan dengan segera Jet agar saya segera ke sana secepatnya!"
"Yes Sir..."
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
__ADS_1
...terima kasih...