DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
17. Raja untuk sang Ratu


__ADS_3

Via dan Irin memilih pulang diantar oleh Dedi. Sepanjang perjalanan, Via hanya sibuk dengan pikirannya sendiri, dan Irin memilih untuk tidak mengganggu Via untuk sementara waktu. Sepertinya saat ini Via membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sendiri.


Dari obrolannya dengan Devan, Irin tahu watak Deval secara umum. Orang yang tak banyak bicara, bicara banyaknya kalau sudah merasa dekat, dan dia adalah orang yang gampang sekali marah. Sifat Deval tak jauh berbeda dengan Via. Mungkin mereka sebenarnya tidak cocok untuk bersama. Bagai api ditambah api, malah apinya makin besar.


Via membutuhkan seorang yang berjiwa air, agar mampu memadamkan api yang gampang sekali menyala.


Dari sisi lain, Via memiliki mental seorang ratu. Dia berkarisma, saat menjalani tugas dia selalu percaya diri, sifat egoisnya yang dulu sudah banyak dibuangnya. Namun keras kepalanya masih tetap sama, hanya Tosan nya yang mampu menjinakkan gadis di sebelahnya ini yang entah memikirkan apa.


Tosan memiliki mental seperti seorang raja. Selama berteman dengan Via, dia tahu bahwa Tosan adalah orang yang sangat hebat. Orang tuanya pun sering memuji keberanian Tosan, menemui kepala negara secara langsung untuk bernegosiasi membuka cabang BOS di negara ini. Berarti ketangguhan dan percaya diri yang tinggi milik Via itu turun langsung dari ayahnya yang hebat.


Via membutuhkan seorang yang memiliki mental raja pula untuk mengendalikan jiwa Via yang bagai ratu keras kepala. Berdasarkan pantauan Irin,  Deval hanya tampak seperti pion yang gampang sekali ditendang. Kecuali jika Deval mampu mengikuti hingga melebihi semua hal yang ada di dalam diri Via. Tapi apa dia mampu dalam waktu singkat untuk mencapainya? 


Via pernah bercerita di masa kecilnya telah dididik dengan keras oleh sang ayah. Saat masuk SMP, dia disuruh tinggal di negara ini, karena sang ibu ingin Via mengenal budaya Indonesia. Berlaku bagai orang Indonesia, serta bertutur selayaknya orang Indonesia yang lemah lembut.


Awal mengenal Via, Irin sendiri merasakan betapa sombongnya gadis ini. Arogan luar biasa dan menganggap semua hal itu remeh, bahkan pernah sangat tidak sopan kepada Ayah Irin. Sehingga ayah Irin meminta izin orang tua Via untuk menghukum gadis kecil mereka. Apabila Via melanggar peraturan yang telah disepakati, ketika tinggal bersama dengan mereka.


Awalnya Tosan menolak, keberatan gadis cantiknya dihukum. Sementara dia sendiri tidak pernah menghukum buah hati kesayangan yang terpaut jauh dengan anak sulungnya. Tetapi sang Ibu yakni Mami Via dengan tegas mengizinkan hal itu.


"Kamu boleh melakukan apa pun itu, agar menjadi efek jera untuk mendidik Via."


"Dia sudah remaja, tentu harus paham mana yang baik dan mana yang buruk."


"Aku sengaja mengirimnya kepadamu karena ingin menjadikannya gadis yang tangguh dan berbudi luhur…"


"Jadi apa pun keputusanmu, untuk mendidik Via, kami setuju…"


Begitu lah, sehingga Via benar-benar seperti diospek oleh ayah Irin. Via pernah mencoba untuk kabur, namun tertangkap lagi. Bahkan Via pernah mencoba melawan ayah Irin dengan semua kemampuan bela diri yang dia miliki. Ternyata Via masih kalah. Setelah itu, dia mendapat hukuman yang cukup membuatnya lelah. Yakni membersikan halaman rumah tempat dia dititipkan kala itu selama sebulan, di waktu yang sama, tak boleh kurang maupun lebih. Setelah lelah, Irin muncul dan memeluk Via, sebagai obat dari apa yang telah ayahnya berikan untuk Via.


Sejak itu Via makin dekat dengan Irin, Irin juga memberikan penjelasan bagaimana sikap yang baik di hadapan orang yang lebih tua, yang seusia, dan yang lebih kecil. Lambat-laun walau progressnya cukup kecil, sikap Via mulai melunak, mulai sopan, mulai menghormati orang lain. Meski semakin hari dia makin pemarah, Irin hadir sebagai obat penenang.

__ADS_1


Mungkin suatu saat nanti dia akan dikirim ke Jepang juga untuk mengenal budaya negara matahari terbit itu. Secara ayahnya juga berasal dari sana. Tapi entahlah, apa masih mau menurut nantinya atau tidak. Sementara seluruh anggota keluarganya masih di Singapura mengurus pekerjaan masing-masing.


Irin yang telah terlatih oleh sifat Via yang gampang marah, bertindak sebagai makhluk peredam emosi dan selalu mampu menenangkan Via. Dia merasa seperti memiliki seorang adik. Seperti mengasuh adiknya sendiri. Dan Via juga nyaman bersama Irin.


Hanya saja sebuah kesalahan yang diluar perkiraan terjadi. Via menangkap salah satu tangan kanan dari Buana Putra. Membuat sang kanan membocorkan rahasia di balik tindakan ilegal yang dilakukan oleh perusahaan yang dipimpin Buana Putra. Sehingga saham perusahaannya jatuh cukup terjal sehingga menyebabkan Buana Putra bangkrut.


Buana Putra melacak orang-orang di sekitar Detektif Via, dimana dia sekolah, dimana dia tinggal, dan siapa orang terdekatnya. Dan jawabannya kala itu ialah Sabrina. Orang yang telah seperti saudara bagi Via, dan Via sangat bergantung padanya.


(Cerita khusus penculikan Irin nanti ada di bab yang cukup panjang)


"Rin….Rin…" Lamunan Irin dibuyarkan oleh guncangan halus dari Via.


"Ya… Kenapa?"


"Kenapa melamun? Dari tadi gue ngomong sama batu jadinya…" Via manyun..


"Maaf… Maaf… Tadi gue hanya flash back ke masa-masa lalu yang telah kita alami berdua.."


"Iya..iya… Ada apa?" 


"Tugas Minggu ini banyak banget, nanti kita kerjakan sama-sama aja ya .."


"Bukannya ada Aa Stevan yang biasa ngerjain tugas Lo?"


"Ooohh… Iya…" Dia menepuk jidat, "Tadi dia menanyakan tugas yang akan dikerjakan, sekarang kan gue lagi off.. jadi ngga perlu dia dulu…" Lalu Via merogoh tas mencari ponsel. Mengusap layar ponselnya dan tampak banyak sekali panggilan yang tak terjawab..


Via menekan tombol telepon, telepon dengan mode speaker dan terdengar suara sambungan lalu panggilannya diangkat…


"Heeehh… Neng…kemana aja? Udah lumutan gue nungguu…" Jawab yang di seberang.

__ADS_1


"Aduuuhh A… Sorry… Tadi lagi ada masalah, sampai lupa balas pesannya…" Jawab Via menyesal.


"Dia sibuk pacaran A…" Timpal Irin terkikik.. Dia tahu sebenarnya Stevan suka pada Via. Hanya saja dia tahu, Stevan memilih memendam. Tak berani untuk lebih mendekati anak boss nya yang masih bau kencur.


"Hah, udah punya pacar Lo Vi?" Suara Stevan mulai menyidik, Via membesarkan matanya pada Irin.


"Ohh.. engga.. ga ada waktu buat pacaran… Lo kan…."


"Aa!!!" Potong Stevan..


"Aa kan tahu gue sibuk.. ga ada waktu buat pacaran.. ga ada dalam kamus gue untuk pacaran…" terang gadis cantik itu.


"Sekarang Lo lagi dimana?" tanya bule yang di seberang.


"Otewe pulang nih A…"


"Buruan aah… Gue udah capek nunggu di kamar Lo.."


"Aa udah di kosan gue?"


"Iye… Tapi gue gak nemuin tugas yang mau dikerjain dan ga ada catatan juga.."


"Iya ..iya.. Tunggu aja. Sebentar lagi nyampe…" Telepon ditutup dan tiba-tiba dia tertawa sendiri.


"Gue lupa bilang dia ngga usah datang, ternyata dia udah di kosan…"


"Waaah..asyik ni.. gue juga bisa ketemu Aa… Dah lama ngga ketemu dia.." lalu Irin merancang rencana buat nyomblangin Via dengan Stevan. Menurut Irin Stevan juga memiliki mental Raja, yang bisa menjinakkan Ratu yang keras kepala ini.


...*Bersambung*...

__ADS_1


...Jangan lupa meninggalkan tanda jejak yaa.. LIKE, LOVE, GIFT & VOTE 🥰🥰🤩🤩😍😍...


...Terima kasiiiih.....


__ADS_2