DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
S2-12 Pacar Via


__ADS_3

Nak, minum lah!" Mak Ida menyerahkan air putih kepada Via.


"Terima kasih Mak," Via menerima dan segera meminumnya. "Ini air ramuan obat Mak?"


"Bukan!" Mak Ida terkekeh, memamerkan gusinya yang sudah banyak kosong. "Ini hanya air putih biasa kok!"


"Oooh, aku pikir air obat yang bisa menyembuhkan dengan ajaib."


"Mana ada yang begitu! Nak, Kamu harus beristirahat dulu! Jangan dipaksakan kakinya!" kembali Mak Ida terkekeh. "Nanti, jangan lompat-lompat dulu!" kembali terkekeh. Via ikut terkekeh, bukan karena lucu, tetapi karena bingung.


"Nanti setelah tiga hari, Nak Via balik lagi ke sini! Kita ulangi pijitnya hingga kakinya benar-benar sembuh."


Via membesarkan matanya, "Tiga hari lagi Mak? Bener-bener tidak boleh bergerak?"


"Iya, ini kakinya belum bisa dipaksa jalan. Kaki Nak Via sudah parah kondisinya," kembali Mak Ida terkekeh.


"Waduuh, saya banyak pekerjaan penting ni Mak?"


"Pekerjaan kantoran kan hanya duduk di kursi saja. Nak Via jangan memakai sepatu yang ada hak dulu!"


"Saya orang lapangan Mak, tidak bisa duduk diam di kantor," celetuknya.


"Ya udah, Nak Via nurut kata Mak saja? Kalau masih bandel gerak sana gerak sini, nanti malah tidak bisa jalan selamanya, gimana?" mendengar itu, Via menjadi shock.


***


Via duduk merenung di sebuah taman. Menyandarkan tubuh di sebuah bangku panjang. Menatapi kaki dengan balutan perban yang tidak karuan.


Sepertinya terpaksa menggunakan bantuan tongkat. Seandainya dari awal waktu Jimmy menyarankan aku patuh aja. Mungkin kakiku sudah sehat.


Via menopangkan kepalanya dengan tangan yang bertumpu paga gagang bangku. Dia tengah menunggu Dedi membelikannya kopi, sembari melihat hiruk pikuk alun-alun kota di sore hari. Matanya menangkap sosok pria yang tengah ribut dengan dua orang gadis.


Bukan kah ituuu..


Kembali dia melihat wajah itu, milik orang yang dirindukan, namun bukan yang dirindukan. "Jadi sekarang dia jadi pria cassanova ya?" celetuknya masih memperhatikan ketiga orang itu.


Lalu Via terpejam mengernyitkan wajahnya, "Aduuh," melihat pria itu ditampar salah satu wanita lalu ia pergi. Via tergelak melihat yang satu lagi menampar pria itu. Kali ini dia yang menikmati tontonan layar lebar romansa pria hidung belang, secara gratis. Karena tidak bisa menahan tawa melihat ekspresi pria itu mengelus kedua pipinya, Via ngakak hingga bengek, memegang perutnya.


Pria itu mendengar suara perempuan yang menertawakannya. Wajahnya seketika berbinar, menebarkan senyuman penuh pesonanya. Setengah berlari dia menuju ke tempat Via duduk.


"Via, ini kamu kaaan?" ucapnya memastikan saat beberapa langkah lagi berada di hadapan gadis itu.

__ADS_1


"Coba kamu diam dulu dengan tenang!" titah Via. Pria itu mengikuti dengan patuh. Ekspresi tenang yang dibuatnya, itu membuat perasaan Via malah berdebar makin kacau.


"Udah, udah! Kayak biasa aja!" ralatnya lagi.


Pria itu adalah Devan, lalu duduk di sebelah Via. "Kamu masih merindukannya?" Via mengangguk. "Kalau gitu aku bersiap menggantikannya!"


Via langsung mendelik pria yang baru saja kena tampar oleh dua wanita dalam jarak beberapa detik ini. "Abis kena putus sama dua orang lari ke aku gitu yaa?"


Devan menatap Via tidak percaya, "Coba ulang lagi!" ucapnya memegang kedua pundak Via memastikan.


Via langsung menepis kedua tangan yang tak sopan itu, "Ini tangan makin jadi yaaa?" sindirnya merasa tak nyaman dengan itu.


"Maaf, aku hanya kaget kamu mengubah sapaan. Dulu selalu Lo atau Gue padaku. Jadi berasa ajaib aja mendengarnya," lalu dia tersenyum. "Kapan kamu sampai ke sini?"


"Yaa, aku bukan abege lagi. Berasa nggak pantas aja. Baru beberapa hari ini aku di sini."


"Aku sudah menjadi Detektif tetap di BOS lhooo..." ucap Devan pamer.


Ternyata sifat narcisnya belum hilang, batin wanita yang diajak bicara.


"Waaaahh, hebat yaaa? Saking hebatnya jadi bisa punya banyak pacar," sindir Via mendelik.


"Wahahaha, sudah lah. Jangan sinis gitu sama aku. Selagi masih muda kan?" mengelus dagunya yang licin tanpa jenggot itu.


"Keseleo."


"Lain kali hati-hati jalannya yah!?" mengedipkan matanya. Hal itu membuat Via semakin jengah membuang muka. Mengedarkan pandangan melihat arah Dedi menghilang sejak tadi belum muncul juga.


"Mencari siapa? Kamu ke sini sama pacar baru kamu ya?"


"Iya," jawabnya asal.


"Ooh, udah punya pacar. Tadi kenapa masih kangen sama dia?"


Via hanya bisa membuang muka. Entah kenapa beda banget sifatnya, yang satu terlalu bocor, yang satu terlalu hemat.


"Kamu bohong kan? Sebenarnya belum punya pacar kan?" masih nyerocos.


"Sayang, sudah lama menunggu?" tiba-tiba sudah ada seseorang berdiri di belakang Via.


Gadis itu merasa sangat terkejut, tiba-tiba saja seseorang yang sudah lama tidak dijumpainya mengaku sebagai pacar. Via hanya melongo mendengar jawaban itu.

__ADS_1


Pria yang berada di belakang Via menepuk pundak Devan, memberi kode untuk menjaga jarak. Devan refleks menjauh dari Via. Pria itu berjalan memutari Via, duduk di sampingnya. Pria itu mengamati Devan. Heran melihat seseorang mirip si culun pacar Marni. Cukup lama mereka diam dalam pikirannya masing-masing.


"Kalian kembar kan?" tembak pria yang duduk di tengah itu.


"Siapa? Gue?" tanya Devan memastikan.


"Iya, siapa lagi."


"Gue memang punya kembaran, tapi dia sudah meninggal delapan tahun lalu."


Pria itu mengangguk, karena sempat melihat si culun dengan kembarannya saat lomba balap motor Marni dan Dino dulu.


"Sejak kapan kalian pacaran? Bukannya dia baru sampai di sini? Sedangkan sebelumnya dia di luar negeri. Apa kalian pacaran sejak dia di luar negeri? Terus kapan ketemunya? Terus kapan kalian jadiannya? Terus--" mulutnya dibekap oleh pria itu.


Via terkekeh melihat aksi dua orang aneh ini.


Devan mendorong tangan yang menempel di mulutnya, "Nama lo siapa?" lanjutnya, "Tinggal dimana? Kerja dimana?" kembali pria itu menutup mulut Devan.


"Lo mirip teman gue!" celetuknya. "Mungkin lo nggak kenal gue, nama gue Romi, kami dulu satu kelas saat dia sekolah di sini."


Via melihat pria yang ada di sampingnya ini, melihat orang yang sama tapi tampak berbeda. Beneran ini Romi? batinnya melihat pria itu dari atas ke bawah merasa tak percaya.


"Ooh, kalau gitu berarti gue mengganggu? Jadi gue mengganggu kencan kalian ni? Jadi ngapain--" kembali mulut itu disumpal oleh Romi.


"Non, maaf ya membuat Non Via menunggu lama." ternyata Dedi membawa sepasang tongkat sebagai alat bantu berjalan bagi Via. Setelah itu menyerahkan benda itu kepada Via, sembari heran melihat dua pria asing yang tampak sedang ribut.


"Waaah, ternyata sekalian beli ini? Pantesan lama," celetuknya menerima tongkat itu.


"Siapa mereka Non?" tanya Dedi heran.


Tiba-tiba Romi bangkit lalu pergi, Devan pun bangkit. Romi berlari dan dikejar oleh Devan.


"Sialan lo! Ngerjain gue lo!" umpatnya mengejar Romi.


"Ada apa Non?" Dedi masih belum memahami kondisi yang tengah terjadi.


Via hanya mengedikkan bahu.


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...

__ADS_1


...terima kasih...


__ADS_2