DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
115. Autofocus


__ADS_3

Lalu matanya menangkap sepeda keren yang selalu dipakai oleh Marni. Lalu dicoba untuk dinaiki, melihat banyak sekali tombol. Dengan iseng dia menekan salah satu tombolnya.


DOOORRRR...


Alangkah terkejutnya dia mendengar suara tembakan yang keras hingga sampai terjatuh ditimpa sepeda itu.


"Waduuh... barusan apa?" dia berlari ke arah dinding, dan tampak dinding sudah bolong. Terdengar kehebohan warga kosan dari luar. Dengan segera dia memperbaiki posisi sepeda itu, lalu keluar mengunci kamar Marni.


***


dddrrrtt...


dddrrrttt...


dddrrrttt...


Phonsel Irin bergetar, dia segera menarik alat komunikasi itu dari kantong celananya. Tampak kode nama Tous-san Via. Dengan segera diangkatnya. Tadi saat membawa Via, dia mencoba menghubungi ayah dari Via itu. Namun tidak berhasil


"Moshi-moshi Irin... ada apa tadi menelepon Tosan?"


"Moshi-moshi juga Om. Ini Om, Via masuk rumah sakit lagi."


"Lagi? Kenapa?" ucap sang ayah yang masih berada di negeri Pissa.


"Dia tadi pingsan Om..."


"Lhoooh? Ada apa?"


"Panjang ceritanya Om, Irin hanya mengabarkan Om dan keluarga saja."


"Oh iya, arigatou gozaimasu Irin. Om akan menghubungi Tante Megi dulu. Biar mereka segera ke sana. Om lagi berada di tempat yang jauh."


"Sama-sama Om. Baik lah Om..." panggilan ditutup tidak lama Stevan datang berjalan cepat ke arah Irin.


"Waah, cepet banget Aa sampai? Ini langsung dari Bandung kah?"

__ADS_1


"Bukan, aku tadi malam sudah tidur di rumah kos di kota ini. Sejak kemarin kamu bilang Via tidak mau keluar dari kamarnya, aku putuskan segera mencari rumah kos. Aku merasa sangat kwahatir padanya. Dia benar-benar tidak bisa dihubungi."


"Jangan kan Aa, aku aja tidak bisa bicara dengannya."


"Ya udah, sekarang dia dimana? Orang tuanya sudah dihubungi?"


"Baru saja Kak, mungkin tak lama lagi sampai ke sini."


"Oh, syukur lah? Ayo kita lihat anak itu!" lalu mereka berjalan menuju tempat Via yang masih dalam pemeriksaan.


Rini sedang berdiri di dekat sana, tengah memperhatikan tindakan medis yang diberikan kepada Via. Matanya menangkap sosok ganteng berada di samping Irin. Menyugar sedikit rambut disangkutkan di belakang telinga, dia berjalan tergopoh ke arah bule tampan itu.


"Haloo Abang ganteng," godanya sambil mengeluarkan senyuman mautnya.


"Halo Kak, apa kabar?" tanya Stevan menahan rasa terkejutnya.


"Kan udah gue bilang, jangan panggil gue kakak! Panggil Dedek aja deh kalau lo merasa sungkan?!"


Dedek? Stevan merasa heran.


"Iya Bang, panggil gue Dedek aja kalau lo gak mau manggil nama gue!"


"I-iya Dek, apa kabar Dek?"


"Iya, gue baik-baik aja kok Bang," mengedip-mengedipkan matanya mendekat dengan manja kepada Stevan.


Stevan melirik Irin yang sedang menahan rasa gelinya melihat kejadian ini. Stevan memberi kode agar Irin menjauhkan Rini ini darinya. Namun, Irin pura-pura buang muka, masih dalam menahan tawanya yang menikmati tontonan lucu itu.


Tak lama, akhirnya dokter menyelesaikan tindakan medis untuk Via. Berjalan mendekati tiga orang yang ribut mesuh-mesuh tak jelas itu.


"Siapa wali dari pasien Via?"


"Saya Dok," ucap Stevan spontan. Rini dan Irin spontan membesarkan matanya.


"Orang tuanya dimana?" tanya dokter itu kembali.

__ADS_1


"Masih dalam perjalanan, Dok...!"


Dokter itu menggelengkan kepalanya. "Apa orang tuanya sangat sibuk?"


"Iya Dok, sibuk sekali," jawab Irin.


"Ooh, pantas," wajah dokter itu terlihat sangat kecewa.


"Kenapa Dok? Bagaimana kondisinya sekarang ini?"


"Dia mengalami depresi, kurang gizi, dan dehidrasi. Kondisinya saat ini sangat buruk."


Stevan dan Irin sangat terkejut mendengar Via menderita penyakit kurang gizi. Dia mencoba mengingat-nginat kembali acara makan mereka terkahir. Belum sempat makan, Oliver sudah datang mengganggu dan mereka kabur.


Mungkin sejak itu dia belum memakan satu apa pun.


"Iya maaf Dok, itu sedikit terabaikan oleh kami karena ada beberapa masalah akhir-akhir ini."


"Pasien sudah kami berikan cairan infus, semoga kondisinya segera membaik."


"Terima kasih Dok. Kami sedang menunggu kedatangan orang tuanya juga. Jadi sampaikan kepada mereka, untuk segera menemui saya apabila telah sampai di sini."


"Baik Dok, terima kasih."


***


Beberapa waktu kemudian Ibu dan kakak Via berjalan dengan langkah cepat menuju Stevan dan Irin berdiri. Rini yang autofocus melihat sosok malaikat yang menggiringi bidadari langsung memasang mata berbinar.


Masih ada ya orang seperti itu di negeri ini?


"Ekheemm..."


...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...

__ADS_1


...terima kasih...


__ADS_2