DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Memberantas tuan sistem -- selesai


__ADS_3

Di TKP, Via menepuk-nepuk pipi Romi untuk menyadarkannya. Perlahan, Romi bangun dan melirik ke segala sisi. Dia melirik ke kiri dan ke kanan.


"Apa yang terjadi Rom?"


Romi menggelengkan kepala. "Aku juga tidak tahu, ketika asik memyelesaikan program, tiba-tiba dia memukul kepalaku."


Via membesarkan matanya. Aura pun tersentak langsung membayangkan orang yang dimaksud. Aura keluar dari mobil melihat ke segala sisi. Memperkirakan arah pria itu lari.


"Siapa yang memukulmu?" tanya Via kepada Romi.


"Marcell."


"Sekarang bagaimana keadaanmu?" Romi menganggukan kepala dan menujukan tanda jempol.


"Yang lain pada ke mana?" Romi menggelengkan kepala lemah.


Via beringsut keluar dari kendaraan tersebut. "Kamu istirahat dulu sejenak. Kami akan mencarinya." Pintu mobil ditutup dan Via memanjat naik ke atas mobil. Memutar fokus teleskop mencari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.


Dari dalam teleskop, akhirnya Via berhasil melihat ketiga anak-anak besar milik Jimmy. Tampak ketiga bujang itu tengah hajar-hajaran melawan Marcell. Di dalam teleskop tersebut, terlihat Marcell adalah merupakan seorang petarung yang tangguh. Via bergerak turun dari atap mobil dan bergerak menuju tempat tersebut diikuti oleh Aura.


Via mulai mengeluarkan bius dengan kadar yang lebih tinggi. Kali ini bius tersebut dimasukan ke dalam sebuah suntik yang cukup besar. Setelah itu, Via berlari diikuti Aura dengan langkah cepat. Akhirnya, mereka menemukan empat orang yang saling beradu kepalan tinju.


"Apa kalian bisa membuatnya tenang beberapa saat?" tanya Via.


Ketiga bujang mengangguk mantap dan mulai mencoba menahan Marcell. Dino melayangkan kepalannya ke arah perut Marcell. Jason bertugas menarik kaki Marcell hingga terjatuh. Dery bertugas menahan tubuh Marcell dan duduk di atas tubuhnya. Dengan sigap Jason duduk di atas kaki dan menahan kaki Marcell yang terus meronta.


Via berlari dengan langkah cepat. Segera menancapkan suntikan berisi bius ke paha lelaki kuat itu. Tak lama dua mobil rumah sakit datang. Dari dalam keluar para bujang berpakaian warna warni. Ada yang berwarna putih, hijau, biru. Terakhir sang Papa muncul melepas jas putih yang tadi lupa ditinggal karena sudah panik duluan saat Via, istrinya menelepon.


"Selamat, kalian datang terlambaaat!" rutuk Dino dengan alis naik sebelah. Wajahnya telah penuh dengan lebam bekas pukulan. Begitu juga dengan Jason, dan Dery. Mereka masih menahan Marcell hingga rontaan pria tersebut terasa makin lamban.


Jimmy langsung memeluk tubuh Via. "Apa kamu tidak apa-apa sayang?"

__ADS_1


Aura melihat betapa khawatirnya Jimmy terhadap istrinya yang bagi Aura sungguh kuat dan hebat. Tiba-tiba, Aura merindukan suaminya yang masih tertahan di kantor polisi. Via tampak menyunggingkan bibir dan tersenyum. Melihat para bujang penghuni rumah sakit mereka telah hadir untuk menangkap satu pria ini.


"Maaf kan aku, sudah membuat kalian semua repot seperti ini." Aura mendekat kepada pasangan yang masih dalam adegan mesra itu.


"Kamu tahu, aku sangat mengkhawatirkanmu setiap beraksi kembali seperti ini. Apa kamu tidak bisa duduk tenang mengasuh dua kembar kita yang masih butuh pelukan Mamanya?" ucap Jimmy mencium kening Via.


Marcell diikat dari pundak hingga ujung kaki dengan sebuah tali tambang. Via teringat pada kasus yang pernah ditanganinya dengan Stevan. Beberapa lintasan masa lalu bersama Stevan lewat dalam ingatannya.


"Dulu Aa Stevan pernah melindungiku dari siraman air panas, Kak."


Jimmy mendengar ucapan Via hanya bisa tersenyum simpul. Dia teringat mendengar Via dan pria bule berkonsultasi dengan Mamanya kala itu. Dia benar-benar tidak menyangka, bahwa gadis yang menari-nari dalam pikirannya lah yang sedang berada di dalam ruang kerja mamanya.


Marcell dibawa menggunakan ambulans rumah sakit. Hal ini membuat pihak kepolisian merasa heran.


"Kenapa bawa pasien ke sini? Ini seharusnya tugas pihak rumah sakit!" ucap salah satu anggota.


"Ini orang sakitnya bukan sekadar sakit biasa. Ini sakitnya harus diobat di dalam tahanan!" ucap Dino yang meringis karena


Via segera masuk ke dalam ruang kerja Kapten I Bagus Suska. Dia meletalakan tubuh pria yang bernama Marcell tersebut tepat di hadapannya. "Apa Anda melupakan masa lalu?"


"Apa maksudmu?" Kapten I Bagus Suska mendengkus kasar.


"Ini sama persis dengan kasus mutilasi dulu lho? Pelaku sebenarnya mengalami masalah dalam kejiwaan. Bedanya orang ini mampu memanipulasi banyak orang."


Kapten I Bagus Suska menjepit dagu pria yang sedang tidak sadarkan diri. "Apa maksudmu memanipulasi banyak orang?"


"Aaah, Anda ini membuat saya kecewa saja Kap! Silakan turunkan lencanamu!"


braaakk


"Apa? Berani sekali kau?" Kapten I Bagus Suska menggebrak meja kasar. Dia sungguh merasa sangat terhina.

__ADS_1


"Saya bosan dengan sikap Anda, Kap! Apa satu kali kesalahan dalam penyelidikan itu tidak cukup? Harus berapa kali lagi, Anda melakukan salah tangkap seperti ini?"


braaak


"DIAM KAU!" Kali ini Kapten I Bagus Suska menendang kursi yang ada di dekatnya.


"Lepaskan orang yang Anda masukan ke dalam sel itu dengan segera. Atau, saya akan menuntut Anda ke Mahkamah Agung?" Via membuka pintu ruangan tersebut dengan kasar.


"Aku tak menyangka, Anda kembali seperti dulu setelah saya kembali. Anda sungguh membuat saya dan warga negara ini kecewa!"


braaakk


Pintu ditutup dengan kasar. Wajah Via terlihat sedikit merah dengan nafas memburu akibat amarah. Jimmy mendekat dan membelai rambut Via. Jimmy hanya memberi anggukan tampak wajah Via sedikit lebih tenang.


Setelah itu, Via berjalan mendekat menuju tempat Aura berdiri. "Kamu sabar dulu ya? Semoga setelah ini akan membuat mulutnya bungkam."


Aura menganggukan kepala. "Maaf ya Mba? Udah merepotkan?"


"Ini adalah tugasku sebagai penyidik. Aku pergi dulu sejenak."


Semua anggota yang dibawanya mengikuti di belakang. Jimmy berada di samping mendekap pundaknya. Mereka meninggalkan Aura untuk memeriksa bukti fisum sampel darah dan beberapa helai rambut yang dia dapat.


Semua anggota menuju rumah sakit, dan Via langsung menuju labor. Memeriksa beberapa lembar rambut yang dia dapatkan. Tadi Via sempat mengambil sampel rambut Marcell.


Pesan dari Kapten I Bagus Suska masuk dalam ponsel Via.


[Dia sudah saya lepaskan. Berhenti lah mempermalukan saya!]


Sebuah senyuman kemenangan terhias di bibir Via. Jimmy yang memperhatikan reaksi istrinya, ikut mengintip membaca pesan yang masuk.


"Kalau begitu, kamu tidak perlu lanjutkan," ucap Jimmy.

__ADS_1


Via menggelengkan kepalanya. "Ini tetap harus diselesaikan, Kak. Ini akan menjadi kenangan baginya, agar selalu bertindak hati-hati tidak asal-asalan lagi."


__ADS_2