DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Aksi memberantas tuan sistem


__ADS_3

"Kau, bangun-bangun sudah langsung ikut campur dengan urusanku."


"Oh, tentu. Aku hanya menuntut janjimu yang mengatakan akan memberikanku jalan tol untuk mengurus segala urusanku." Via menatap panjang kapten yang sepuluh tahun lalu wajahnya masih terlihat mulus. Kali ini wajah itu terlihat sedah dipenuhi rambut di setiap jengkal dagu hingga sisi di depan telinganya.


"Bagaimana Kap? Saya sempat mendengar taruhan antara Anda dengan Aura. Apakah Anda siap menanggalkan lencana jika benar-benar terbukti sudah salah menangkap pelaku?"


"Diam kau bocah?" teriak Kapten I Bagus Suska.


Via mencongkel telinga karena merasa sakit setelah mendengar teriakan dari pria itu. "Aku pikir, dalam usiaku saat ini, sudah tidak pantas dipanggil bocah. Apa Anda tidak tahu, saya sudah memiliki dua anak?"


Kapten I Bagus Suska terlihat sangat tertekan menyadari dirinya yang selalu kalah oleh sosok Via. "Sekarang kamu keluar! Silakan mau mengulang penyelidikan atau mau jungkir balik saya tak peduli!"


Via memasang wajah tersenyum miring. "Baik lah, Kap. Jika belum dibebaskan juga, maka siap-siap mencopot lencana bintangnya itu ya kalau saya membawa barang bukti yang autentik?"


"KELUUAAAARRR!" teriak kapten itu.


Via dengan santai bangkit dari posisi duduknya. Bergerak keluar dari ruangan itu.


"Ayooo, kita show time! Romi, kamu lacak pria bernama Marcell itu saat ini juga!"


Romi menatap salah satu ajudan yang masih asik sikut-sikutan. Mereka menyadari arti tatapan itu, menghentikan kerusuhan bergerak menuju ke tempat yang sekiranya nyaman untuk aksi selanjutnya. Dino menyerahkan laptop yang ditentengnya semenjak tadi.


Romi mulai membuka laptop. Sementara wanita bernama Aura bergerak duduk di dekat Romi. Via menyimpulkan dengan sementara bahwa Aura mengidolakan Romi.


"Ekheem, segitu amat natapnya?" Reza, suami Aura tampak cemburu duduk di sela Aura dan Romi.


"Iiiih, Kanda ganggu aja? Aku ingin berguru pada suhu dulu."


Aura bangkit dan menarik Reza bergeser kembali, dan duduk di tengah. Memperhatikan apa saja yang digunakan dan dilakukan oleh Romi.


Untuk melacak keberadaan Marcell, dia mencoba menggunakan NMAP (Network Mapper). Software ini digunakan untuk menemukan network yang digunakan oleh Marcell. Setelah itu, Romi mengakses beberapa software lainnya.


"Nah, dia sudah ditemukan," ucap Romi berhasil mencari pria tersebut, dalam waktu kurang dari lima menit.


Mata Aura terlihat sangat takjub. "Lihat dia deh, Kanda. Hebat kan?"


"Eleeeh, segitu doang, aku juga bisa," ucap Reza, suami Aura. Via hanya tersenyum menggelengkan kepala.

__ADS_1


Romi segera menentukan titik keberadaan Marcell. Lalu mereka bergerak dengan segera. Reza hendak bergera mengikuti mereka, ditahan oleh pihak kepolisian.


"Bapak belum boleh meninggalkan tempat, sebelum Kapten I Bagus Suska mempersilakan Anda pergi."


"Tapi ini saya mau menangkap pelakunya langsung!" bentak Reza kepada salah satu tim penyidik yang mencegatnya meninggalkan divisi tersebut.


"Kami tidak berani, Pak. Silakan duduk menunggu dengan tenang, atau kami suruh duduk menunggu di dalam sel?"


Reza tersentak, mundur dan menggaruk kepalanya dengan kasar. Aura menenangkannya dengan menepuk pundaknya beberapa kali.


"Biar aku saja yang ikut. Kanda di sini saja."


Tanpa menunggu jawaban dari Reza, Aura mengikuti langkah pasukan berbaju hitam tersebut. Mereka masuk mobil dengan postur kuat, dan yang dipercayakan menjadi supir kali ini adalah Dino. Dia melajukan kendaraan dipandu oleh Romi. Aura terkesima dengan kerja sama tim yang terbalut dengan apik.


"No, bawa mobilnya hati-hati! Kamu sedang membawa ibu yang tengah hamil muda ini lho?" ucap Via.


Via menyadari bahwa semua yang ada di dalam mobil tersebut memperhatikan Aura. Aura memang tergolong menikah dalam usia yang sangat muda. Jadi, menurut Via wajar apabila anak-anak yang dibawanya melihat Aura dengan tatapan menyidik.


"Ekheeem! Lanjut dan fokus!" titah sang nyonya besar.


"Asyiiiaaap, Ma!" ucap Jason.


"Kamu jangan heran. Kita tidak tahu dia bagaimana bukan? Alat pelindung diri ini sangat penting bagi kami," terang Via.


Aura menganggukan kepalanya. Bersiap untuk turun juga. Dia mengikuti para pria berpakaian hitam yang bergerilya bagaikan ninja. Bertemu lah pada tempat yang tidak terlalu besar. Kening mereka semua berkerut.


"Apa benar, ini tempatnya?"


Aura menghembuskan nafasnya dengan panjang. "Apa aku tidak bilang, Marcell itu hanya bekerja sendirian? Dia itu hacker, bukan mafia."


Mulut para pria berpakaian hitam tersebut membulat. Hanya saja mereka sedikit terkekeh, karena wanita yang baru mereka temui itu tidak mengetahui bahwa mereka lah komplotan mafia baik hati yang tak terendus oleh negara.


Aura hendak bergerak, namum dicegat oleh Via. "Apa kamu bisa bertarung?"


"Sedikit." Aura menyatukan jempol dan telunjuknya.


"Kamu lagi hamil muda kan? Hmmm, aku dulu waktu hamil muda sibuk hajar orang juga sih. Tapi tidak terlalu ekstrem. Soalnya selalu diingatkan suamiku, Kak Jimmy. Jadi, Kamu harus berhati-hati saja ya." Via menyerahkan knuckle kepada Aura.

__ADS_1


Aura langsung memasangnya menjadi tinju besi yang lumayan bikin orang tepar. "Karena yang kita incar hanya satu orang, namun tidak menutup kemungkinan dia adalah orang berbahaya. Kalian berjaga di luar, kami berdua yang akan masuk ke dalam," jelas Via mengomandoi para pria tersebut.


"Jason, kamu siapkan senjata yang bisa membius orang tersebut. Kita tidak boleh menyakitinya meski pun dia seorang monster!"


"Baik, Ma!" ucap Jason snyper muda dalam kelompok mafia tersebut.


"Sementara Dino, kamu jaga bagian luar, jika kami tidak bisa menghadapinya, dan tembakan yang dilayangkan Jason meleset,maka waktu itu lah untuk kamu terjun melindungi kami."


"Oke sip, Mama Gagu," ucap Dino sang musuh bebuyutan hingga liang lahatnya Via.


"Aku tiduran di mobil paja," gumam Romi cuek. Padahal dia sendiri memiliki rencana untuk menarik kembali sumber pemasukan kelompok mereka.0


"Terserah lah, kalau Lu turun lapangan malah repotin kite-kite juga," ucap Dino dengan sarkas.


Romi kembali masuk ke dalam mobil menyalakan AC dah mengakses laptop. Sementara yang lain bergerak dan Aura asik mengayun-ayunkan tangannya latihan menggunakan alat tinju besi tersebut.


(Jika penasaran, sebaiknya baca CEO Playboy Terjerat Nona Hacker)


Orang yang bernama Marcell menyadari kedatangan tamu yang tak diundang, bangkit dari monitor yang memampangkan gambar CCTV kedatangan mereka. Marcell menyiapkan beberapa senjata api dengan wajah menyeringai.


"Aku tak menyangka, dia menemukanku secepat ini. Haha, jangan pernah mencoba mempermainkanku. Rasakan akibatnya Nona Hacker!"


Marcell mulai membidik seseorang yang mengikuti Aura dan wanita yang tidak dikenalnya. Jason dengan mata elang yang sudah terlatih, mengenal kilauan senjata dari jauh, terlebih dahulu membidik ke arah bangunan tersebut.


doooorrrr


praaank


Aura dan Via terkejut mendengar suara tembakan tersebut. Apalagi bagi Aura ini adalah kali pertama baginya masuk dunia tembak menembak seperti ini. Tembakan tersebut sengaja tidak tepat sasaran.


Hal ini membuat Marcell terkejut dan duduk terhenyak. Dia tidak menyangka mereka membawa penembak jitu secara diam-diam. Mata Marcell mulai liar mencari posisi snyper yang mereka bawa. Namun, belum terlihat olehnya. Marcell mencoba berpindah posisi.


braaaaakkk


Pintu banguan itu didobrak oleh Dino. Aura dan Via masuk dengan perlahan pada bangunan yang telah lama kosong tersebut. Namun, mereka menemukan perangkat komputer yang menampilkan pemandangan hasil tangkapan CCTV.


"Marcell, di mana kau? Serahkan lah dirimu dengan baik-baik!" ucap Via.

__ADS_1


Namun, tak terdengar sahutan dari orang yang dipanggil. Via dan Aura masuk lebih dalam lagi dengan langkah perlahan. Mereka tak sadar setiap langkah diperhatikan oleh sepasang mata dalam persembunyiannya.


Aura seperti mendengar pergerakan seseorang. Aura mempertajam pendengarannya. Makin lama suara pergerakan itu terdengar makin jelas dan intesn. Aura memutar badannya, melihat seseorang yang akan menerkamnya.


__ADS_2