DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
54. Bule itu ya


__ADS_3

"Ha-ha-ha.. kok gue merasa lucu ya anak umur sebiji jagung berpikiran ke arah sana ya? Umur masih enam belas juga?" kalau mau yang kayak aku, nanti nikahnya ya sama aku aja, lanjutnya dalam hati, sembari mencubit pipi Via.


Via langsung menepis tangan Stevan, "Iiihh dari tadi tangan kenapa siih?" kening Via berkerut.


"Lagian gak masalah juga kan saat kita membayangkan masa depan? Ditimbangnya dari sekarang, apa ada kiat khusus untuk mendidik anak biar tumbuh sehat dan cerdas?"


"Jangan lupa ber-a-khlak!!" sela Stevan.


Via refleks mencubit Stevan, "Nyindir gue yaaa.. emangnya gue masih gak ada akhlak?"


"Udah gak nakal kayak dulu lagi kok! Hanya saja akan lebih bagus lagi jika hobby mencubit dan pemarahnya juga dihilangkan, waaahh sempurna banget tuuu!!"


"Huuh, Tiba-tiba gue merasa percakapan kita ini makin absurd?" Via mendelik dan melipat tangannya di dadanya.


"Ha-ha-ha, Lo sendiri yang mulai."


"Terus nanti beneran habis tamat Aa mau ke Jepang?"


"Yaa, jurusan gue cocoknya di sana. Jika mau ijazah sarjananya berguna, ya kerja di sana."


"Terus ninggalin gue di sini? Siapa yang bikinin PR gue nanti?"


"Kenapa? Lo takut Aa tinggalin?"


Meski agak merasa aneh dengan kata ganti Aa barusan, dia memilih untuk tidak berkomentar. Posisi tangannya kembali berubah, kali ini dia memainkan jari-jari tangannya dan tertunduk.


'Iya, gak terbayang aja kalau gak ada Aa, setelah empat tahun kita kenal kan," ungkapnya dengan raut sedih.


"Jadi nggak rela nih gue pergi ke Jepang?" sebuah senyuman mulai menyungging di bibir laki-laki iti.


"Itu kembali ke Aa nya, jika itu merupakan cita-cita Aa, gue gak bisa menahan Aa."


"Saudara Stevan Rusdi!" terdengar suara apoteker memanggil nama Stevan, menandakan obat untuk dia sudah bisa diambil. Stevan segera mengambil obat-obatan tersebut.


"Terimakasih mba…"


"Vi.. ayo cabut.."


Sebenarnya cita-cita utamaku kali ini adalah, ingin menjadi orang yang nomor bagimu Vi. Makanya cepat lah jadi dewasa! Biar aku tidak merasa takut lagi untuk menyatakan apa yang sudah membuat hatiku mendera saat kamu tak memahami apa yang kurasa.


Via segera mengikuti langkah Stevan, yang tidak mereka sadari terus diperhatikan oleh sosok Jimmy sedari tadi.


***



Di tempat lain, Deval tengah terengah dengan sekujur badannya basah oleh keringat. Dia memaksakan tubuhnya yang belum terlalu kuat itu untuk latihan kungfu, yang setahun belakang baru dipelajarinya.


Via telah berjanji merekomendasikan orang dari organisasi BOS, ditanya ngga ya? Besok saja di sekolah. Tanpa aku sadar, ternyata sejak awal sudah berada di dekatnya.


Teringat kembali saat pertama menemukan sosok Marni yang tengah dijemur di sampingnya kala masa MOS terakhir. Jika dia sudah mengetahui sejak awal sosok itu adalah Via, mungkin sudah diperlakukannya dengan baik. Yang penting aku sudah tahu, kami bisa bertemu setiap hari di sekolah.  🙂


Deval mencukup-kan latihan hari ini, waktu sudah beralih ke senja hari, dan tiba saatnya untuk kembali pulang.

__ADS_1


"Dari mana Val?" tampak sang anak telah membuka alat perban yang seharusnya masih melekat pada tubuhnya.


"Kenapa kamu buka semua?


"Tidak apa Ma, aku baik-baik saja.."


"Hmmmfff.. nanti kalau terjadi apa-apa Mama nggak mau tahu ya? Heran anak satu ini kenapa keras kepala sekali. Dibilang jangan ikut misi, masih aja ikut."


"Dibilang opname dulu di rumah sakit, malah minta sekolah. Disuruh di rawat rumah, malah pergi latihan…ckckck…" ibunya berlalu dengan omelan khas emak-emak lalu berjalan menuju dapur.


Deval hanya menggeleng lalu menuju kamar saudaranya, Devan. 


"Van!!" dengan nada dan aura penuh penindasan


Namun tidak ada sahutan, lalu dibukanya pintu kamar itu. Sang kembaran tampak tengah sibuk dengan ponsel sambil senyam-senyum tak jelas.


"Lo lagi apa?"


"Ini gue lagi chatting sama Sabrina," jawab saudaranya itu.


"Hmm, mintain kontak Via sama Sabrina donk?"


"Buat apa?"


"Pakai nanya lagi? Ketik aja, bilang gue minta kontak Via! Nanti kirim ke gue! Gue mandi dulu."


"Huuuu…." 😏😤 Devan hanya bisa menurut pada kakak kembarnya itu meski kesal dengan caranya yang menyebalkan.


[Oohh, oke!]


Lalu kontak sudah dikirim dan diforward ke kontak Deval.


Deval yang baru saja membersihkan diri langsung mengecek pesan masuk dan segera menghubungi kontak yang sudah didapatkannya itu.


Terdengar nada sambung,  Tut Tut Tut


"Halooo.." terdengar suara gadis itu.


"Ya Hallo!" balas Deval.


"Ini Lo Val?"


"Kok tahu? Diam-diam Save kontak gue ya?" 🙂


"Enggak..cuma gue hafal aja ini suara Lo!"


"Masa?" meski curiga, namun membuat perasaannya girang.


"Siapa itu..?" terdengar suara laki-laki yang bertanya pada Via.


"Deval A…."


"Ooh…"

__ADS_1


"Siapa itu Via?" tanya Deval yang juga penasaran.


"Ini Aa yang tadi itu lhoo, Lo tadi lihat di kostan kan?" jelas Via.


"Masih sama dia?" alisnya berkernyit.


"Iya, tadi kami lagi ngerjain kasus yang lumayan Val. Jadi ini baru kelar. Tadi kenapa main cabut aja?"


"Kan gue udah bilang gue mesti lakuin sesuatu."


"Apa itu?"


"Lagi usaha untuk jadi yang terbaik buat Lo," ucapnya dengan nada serius.


"Maksudnya?"


"Besok aja kita bahas. Tadi gimana misinya?"


"Yaaah… Bisa dibilang beres, tapi hasil yang diharap belum keluar."


"Lo baik-baik aja kan?"


"Iya, gue baik-baik aja…"


"Ekhemm….." terdengar deheman Stevan yang mungkin masih berada di samping Via.


"Gue obat nyamuk… Gue obat nyamuk… Gue obat nyamuk.." Stevan bernyanyi tidak jelas siapa yang bawa.


"Iiihhh? Aa' ni ganggu aja deeh?!"


"Sorry, Sorry! Nanti aja kita lanjut ya Val!"


"Lo hati-hati ya? Sampai jumpa besok di sekolah!"


"Iya, Jangan lupa minum obat ya?" ucap Via.


"Iya…🙂" Telepon ditutup, kembali dia merenung.


"Bule itu ya? Hmmm…"



...*bersambung*...


...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE & KOMENTAR...


...terima kasih...


berhubung otor mendapat surat cinta dari noveltoon.. otor minta kawan-kawan reader ikut singgah di karya otor yang udah tamat yaa..karyanya sepi aja..tapi malah dapat rekomendasi dari noveltoon



__ADS_1


__ADS_2