
Via berjalan perlahan menggunakan tongkat yang baru saja ia dapatkan dari Dedi. Tadi saat turun, dengan pedenya dia menyuruh Dedi untuk pulang. Dia merasa semua akan mudah setelah menggunakan tongkat.
Ternyata, semua mata memandang hiba ke arahnya yang berjalan dengan tongkat. Hal itu membuat dia merasa tidak enak, diperlakukan seperti orang cacat sungguhan. Ditambah harus membawa tentengan tas, menambah kerepotan atas semua perjalanan menuju lift.
"Ayo, aku gendong lagi?!" tiba-tiba seseorang sudah menyejajarkan diri berjalan dengannya. Tanpa mengubrisnya, Via memilih tetap berjalan.
Jimmy mendahului, dan berjongkok. Kalau nggak mau kayak yang kemarin, hari ini gendongan monyet aja, hayo?!" menyiapkan punggungnya untuk dinaiki oleh Via.
"Eeh, ada apa ini?" tanya salah satu penghuni gedung ini penasaran.
"Itu, kasihan. Si Mbaknya kesusahan jalan. Jadi si Mas tampan itu menawarkan untuk digendong, tapi si Mba nya nolak," ternyata sudah ramai warga menyaksikan drama di antara mereka.
"Tuh, udah ramai. Ayo buruan...!" titah pria yang dibilang tampan.
"Aku bisa jalan sendiri, Kakak jangan aneh-aneh kayak gitu."
"Aku nggak aneh-aneh. Ini serius!"
"Aku nggak enak ngerepotin. Lagian kita ini bukan siapa-siapa!"
Jimmy berdiri dengan tegap berhadapan dengan Via. "Ooh, ya udah. Kamu denger baik-baik ya!" Via mengangguk, mencoba mendengarkan dengan baik.
"Jika kamu tidak menjawab dalam hitungan ketiga, berarti aku menganggap kamu menyetujuinya." Via kembali mengangguk.
"Mulai hari ini aku putuskan bahwa aku ini adalah pacar kamu!" Via masih mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Jimmy.
"Satu, dua, tiga!" semua orang bertepuk tangan. Via masih bingung dengan apa yang baru saja terlewati.
"Oke, terima kasih. Kamu sudah menerimaku menjadi pacar kamu," lalu Jimmy mengambil kedua tongkat milik Via, lalu berjongkok kembali.
"Ayo! Buruan!"
"Ini gimana Kak?"
"Ayo, naik! Sekarang kita sudah resmi pacaran. Disaksikan puluhan orang yang menonton."
"Apa? Sejak kapan?"
"Sejak beberapa menit yang lalu! Kamu kan sudah menyetujuinya. Berarti kita sudah resmi pacaran."
"Tunggu dulu. Kamu menje?"
"Aduh Mba, terima saja! Udah ganteng banget gitu orangnya. Kalau Mba nggak mau, saya kasih ke adik saya aja. Mau nggak Mas?"
"Hehehe, jangan dong Mba. Ini kami baru pacaran beberapa menit," jawab Jimmy dengan meyakinkan.
"Waaah, ayo loh Mba, itu pacarnya udah capek lo nunggu. Tinggal naik aja, nggak capek lagi jalan menggunakan tongkat."
"Tapi, aku masih bingung...?" ucapnya dengan mata seolah tidak percaya.
"Ayoo!" Jimmy masih posisi punggung siap untuk dinaiki.
"Tapi malu ah!"
__ADS_1
"Jangan malu! Semua orang akan maklum kok."
"Iya, naik saja Mba!" seru penonton gregetan.
Via masih dalam wajah bingung, akhirnya mencoba untuk naik ke gendongan Jimmy.
"Nah, gitu kan cepet," celetuk penonton membubarkan diri.
Jimmy menyunggingkan senyum kemenangan lagi, Via seakan tersadar akan suatu hal, lalu meronta lagi.
"Kakak menjebakku!" mencoba turun dari gendongan itu.
"Kan sudah sesuai kesepakatan? Kamu sendiri yang menyetujuinya!"
"Kalau begitu kita putus!"
Jimmy seperti memikirkan sesuatu, "Apa? Kamu mencintaiku? Aku juga mencintaimu kok, semenjak dahulu kala," sambil bercanda.
Via tertegun mendengar ucapan Jimmy barusan, "Apa?"
"Ayo naik! Jangan drama melulu!"
"Tapi...?"
"Kamu masih malu? Sekarang alasannya kita belum menikah?" Via mengangguk.
"Ya udah, kita nikah aja sekalian!"
"Enak aja!" Via membuang muka. Via menangkap mata Jimmy dengan serius, "Kak, apa benar yang kamu bilang barusan?"
"Kamu mencintaiku? Kok bisa?"
Jimmy akhirnya menarik Via kembali naik ke gendongannya. Perlahan dia berjalan memasuki lift, yang sudah disediakan oleh warga yang ada di sana. Mereka berdua sama-sama dalam diam yang panjang hingga sampai ke lantai sepuluh, tempat Via tinggal.
"Kak, jawab aku! Kenapa Kakak bisa mencintaiku? Padahal, aku selalu menjauhimu?"
"Apa cinta itu perlu satu alasan?"
"Ya, aku rasa begitu."
"Ya udah, kalau gitu alasannya karena aku mencintaimu. Tak pernah ada yang bisa menggeser kamu dari dalam hati aku."
......bluuush......
Seketika wajah Via merona. Lalu ditepisnya, "Kamu laki-laki yang gampang mengumbar cinta!"
"Aku serius!" Jimny sudah berada tepat di depan pintu rumah Via. Dengan santai dia memasukkan kode pasword rumah itu tanpa minta izin.
Mata Via terbelalak, memiliki rencana untuk menggantinya setelah Jimmy pergi. Jimmy menurunkan Via, dan tangannya dipegang hingga Via duduk dengan baik di atas sofa.
Menengok di bawah tudung saji masih ada makanan bersisa, "Kenapa tidak kamu habiskan? Bahkan telornya tidak kamu makan?"
Kembali Via menatap Jimmy heran. "Jadi kakak yang menyiapkan semuanya untukku?"
__ADS_1
"Maaf, aku hanya ingin membantu."
"Tapi kakak udah keluar masuk rumahku secara diam-diam, itu sungguh keterlaluan!"
"Iya, maaf. Nanti masih akan seperti itu. Hanya menjelang kondisi kamu membaik kok!"
"Iiih, Kamu kenapa sih Kak?"
"Aku? Aku ini pacar kamu lhoo?"
"Kenapa tiba-tiba begini?"
"Ini semua bukan tiba-tiba! Aku tak ingin kehilanganmu lagi." Jimmy berjongkok di hadapan Via, "Aku mencintaimu."
......deg......
Tiba-tiba jantung Via berdetak dengan cepat mendengar perkataan yang diucap dengan wajah Jimmy yang serius.
"Kakak tak boleh mencintaiku!"
"Kenapa? Karena masa lalumu dengan papaku?"
"Kakak sudah tahu?"
"Tentu," Jimmy meraih tangan Via. "Mau kah kamu memaafkannya? Sekarang papaku sudah berubah."
......glek......
Via menahan salivanya, mulutnya seakan tercekat pada pernyataan cinta yang baginya sangat tiba-tiba.
"Kamu heran? Kenapa aku terus mengejarmu seperti saat ini?!" Via hanya diam, meminta jawaban tanpa berkata apa-apa.
"Aku takut suatu saar kamu menghilang lagi. Aku sudah tidak kuasa menahannya. Sejak dulu, aku ingin meneriakkan segala laraku saat kehilanganmu. Meski kamu tak pernah memikirkanku sama sekali."
"Dulu aku masih sanggup bertahan, meski kamu terus berdua dengannya. Asal bisa melihatmu bahagia, tak apa bagiku yang bukan siapa-siapa."
"Namun, saat kamu menghilang tanpa kabar, itu membuatku gila. Kini saat kamu hadir lagi di sini, aku berjanji tak akan melepaskanmu. Apa pun alasannya, aku tak akan melepaskanmu," ucapnya menatap mata Via dengan dalam.
Tanpa sadar air mata Via menetes satu per satu. Wajahnya menyemburatkan satu hal yang tidak dapat dimengerti.
"Kamu boleh pergi. Tinggal kan aku!"
Jimmy bangkit, bukan menuju pintu. Namun duduk di sofa sebelah gadis itu, "Kamu pikir akan mudah mengusirku?" mengambil tissue, menyeka air mata Via.
"Kamu tidak boleh mencintaiku! Aku terlahir untuk hidup sendi--" jemari Jimmy mencapit bibir Via, sehingga dia tidak bisa melanjutkan apa yang akan dikatakannya.
"Aku yang akan melindungimu. Tak akan kubiarkan siapa pun menyakitimu." Tanpa permisi, dia mengecup pipi gadis itu lalu bangkit dan berjalan membuka pintu.
"Nanti aku akan kembali, jangan berpikir untuk mengubah kode paswordmu jika tidak ingin kubobol pintu rumahmu!" lalu pintu ditutupnya, terdengar nada pintu terkunci.
Via menyentuh pipinya yang baru saja mendapat serangan mendadak, "Siiiaaalll," bisiknya lirih dengan wajah merona.
...*bersambung*...
__ADS_1
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...