
"Kamu...???"
Devan menyerahkan tas milik Irin dengan cengiran di wajahnya. "Sudah lama banget ya kita nggak ketemu?" ucapnya dengan mengeluarkan senyuman imutnya.
"Udah deh, jangan tepe-tepe terus! Itu jambretnya mau diapain?"
"Biarin aja di sana sampai pegel," ucap Devan yang masih mengembangkan senyuman mautnya.
"Makin lama kamu makin aduhai aja Rin?"
"Sudah sejak dahulu kala bukannya?" Irin memasang kembali sepatunya.
"Iya sih, namun aku sampai pangling lho lihat kamu sekarang."
"Aku juuga pangling, kamu makin ganteng aja sekarang ya."
"Oh iya dong," dia terkekeh mendengar itu. Tak heran saat ini banyak sekali yang ingin menjadi kekasihnya.
"Seadainya Deval masih ada, Via pasti menggila pepetin dia kemana-mana," ucap Irin.
"Emang kenapa?"
"Yaaa, aku sekarang baru sadar. Ternyata, walau dia kuat dan cuek begitu dia adalah tipikal budak cinta." Irin terkekeh, apalagi Via terlihat sudah mulai menyukai Jimmy.
"Kita duduk di sana yuk?" Devan menunjuk sebuah kafe tak jauh dari sana. Irin setuju dan mereka sama-sama melupakan sesuatu.
"Wooiiyy... gue kenapa diikat di sini?" teriak si jambret.
***
Sudah lebih satu jam Irin mengatakan akan segera pulang, tetapi sampai sekarang dia belum juga sampai.
Via mencoba berjalan tanpa menggunakan tongkat. Sakit yang dirasakan sebelumnya, sudah banyak berkurang. Tidak mau mengambil resiko lagi, dia memilih menggunakan kembali tongkatnya.
Semoga besok atau lusa sudah baikan.
Via melangkahkan kakinya menuju pintu ingin keluar dari rumahnya. Dia berjalan perlahan menuju lift untuk naik hingga rooftop gedung ini. Dia berencana untuk duduk di taman yang ada di sana.
Di sana juga ada kolam renang yang sengaja dibuat bagi penghuni appartemen yang suka berenang. Tetapi tujuannya bukan untuk berenang. Dia hanya ingin mengusir rasa bosan yang melanda karena sendirian di rumah.
Saat pintu lift terbuka, dia mendahulukan orang yang ingin keluar. Setelah itu, dia masuk dengan perlahan. Tiba-tiba saja, yang tadi keluar, masuk kembali. Via tidak memperhatikan, karena orang itu membelakanginya.
Kolam renang berada di puncak gedung yang terdiri dari empat puluh lantai ini. Via memilih duduk di kursi malas sambil menikmati pemandangan taman kecil yang ada di sana. Ada juga anak kecil yang tengah mandi di bagian dangkal ditemani ayahnya.
Via menikmati pemandangan ini, mengedarkan seluruh perhatiannya ke setiap bagian di lantai itu. Lalu matanya terfokus pada seseorang berkaca mata hitam yang tampak terus memperhatikannya. Via melambaikan tangannya kepada pria itu, dan dibalas dengan lambaian juga.
Bukannya itu Romi? Dia di sini juga?
__ADS_1
Romi bangkit dari kursi yang dia duduki tadi. Melangkahkan kaki ke arah Via. Lalu duduk di kursi malas yang ada di sebelah gadis itu.
"Kamu? Eh, elo?" Via memasang wajah heran.
"Kenapa ragu gitu? Bagaimana kabarmu?" tanya pria itu sembari membuka kacamata hitamnya.
"Ooh, he... siapa tau merasa masih abegeh," lalu gadis itu terkekeh.
Romi menatap kaki Via yang masih diperban, "Masih sakit?"
"Udah berkurang dari kemarin sih." Via memperhatikan pria di sampingnya ini. "Kamu tinggal di sini juga?" Romi menggeleng.
Via mengerutkan kening, kemarin tiba-tiba saja dia juga ada di alun-alun kota mengaku pacarnya. "Terus di sini ngapain?"
"Atasanku juga tinggal di sini." ucapnya yang menyadari Via mulai curiga.
"Sudah ketemu?" kembali Romi menggeleng. "Terus kenapa sampai ke sini?"
"Ooh, aku mendapat kabar lantai puncak ada kolam renang. Aku tertarik ingin melihatnya."
"Sambil terus melihatku?" Via masih menyelidiki Romi dengan gelagatnya yang aneh.
"Tadi kebetulan melihatmu. Aku merasa kenal, antara yakin dan tak yakin. Makanya waktu kamu melambaikan tangan, jadi semakin yakin itu kamu." jawabnya asal.
Memang susah berhadapan dengan detektif. Tidak gampang percaya pada omongan orang. Padahal jika cewek lain, malah klepek-klepek dibilang seperti itu. Pasti ngaku 'ini adalah jodoh.'
"Iya bener..."
"Kalau bohong gimana?" ternyata ponselnya bergetar.
"Hmmm, kalau nggak percaya, ya udah."
Via mengangkat panggilan, dari kontak yang tidak dikenal kemarin. Angkat ngga ya?
"Hallo," akhirnya panggilan diangkat dengan ragu.
"Kamu dimana?" tanya yang di seberang.
Via kembali memastikan kontak itu, benar-benar tidak terdaftar, namun suaranya sudah terdaftar dalam ingatan. "Kak Jimmy?" Telinga Romi langsung tegak mendengar nama Jimmy.
"Iya ini aku. Kamu lagi dimana? Kenapa rumahnya kosong?"
"Aku lagi di kolam renang nih Kak, bosan di rumah sepi sendirian."
"Dimana kolamnya?"
Via mengernyitkan keningnya. "Masa Kakak gak tau? Sudah berapa lama tinggal di sini?"
__ADS_1
"Ooh, hemm..., iya aku tau. Tunggu aku segera ke sana."
Via menutup panggilannya, merasa aneh penghuni lama tidak tau dimana lokasi fasilitas istimewa ini. Romi tampak menahan cengiran seakan memahami sesuatu.
"Kalau gitu, aku cabut dulu. Sepertinya big boss ku udah di rumahnya."
"Lhoo? Gitu aja?"
"Iya, aku cabut dulu."
"Oh, ya udah."
Via menatap punggung orang yang baru saja meninggalkannya itu. Bukannya dia yang keluar lift, lalu tiba-tiba masuk lagi itu? Jangan-jangan dia memang sengaja menguntitku? Siaaalan tu orang, sungutnya di dalam hati.
Via kembali melihat sekitar. Anak kecil berjenis kelamin laki-laki yang berusia sekitar tiga tahun tadi, tengah belajar berenang di kolam dangkal. Via melirik sekitar anak kecil, tetapi tak ada yang mengawasi.
Mana orang tuanya tadi? Bukannya tadi lagi belajar berenang bersama ayahnya?
Via mengedarkan pandangannya melihat seluruh sisi, tetapi tidak terlihat sama sekali. Via kembali meraih tongkatnya, agak ragu melangkahkan kakinya menuju kolam itu. Tampak anak kecil berjalan-jalan di tepian kolam yang dalam.
"Deek, jangan berjalan di sana. Bahaya!" teriak Via.
Anak kecil itu bergoyang-goyang sambil mencibir meledek Via. "Tante jelek, tante jelek, tante jelek..." ucapnya menari-nari, lidah keluar.
"Iiish, Anak bandeeel," teriak Via dengan wajah mengancam. Lalu anak itu berlari memutari pinggiran kolam. Via kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian taman ini. Orang tuanya belum juga kembali.
Via mencoba mendekat ke arah kolam itu, makin dekat perasaannya makin berkecamuk. "Heei, jangan lari-lari di sana!" Via sudah tidak sanggup untuk mendekat, degup jantungnya berdetak semakin hebat.
Si anak kecil itu tidak juga berhenti berlari di sana. "Pergi dari situ!" Via sudah tidak kuat berteriak. Anak itu makin mempercepat larinya. Tiba-tiba tubuhnya oleng, dan rebah ke arah kolam yang kabarnya hanya sedalam dua meter itu. Tetapi bagi anak kecil itu sangat lah berbahaya.
~byuuuurr~
Anak itu tercebur, dan langsung hilang masuk ke dasar kolam. "Tidaak!" pekiknya, melempar kedua tongkat itu.
Tanpa sadar dia ikut menceburkan diri masuk kolam, mencari bocah laki-laki tadi. Namun, Via tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia mematung melihat anak kecil itu yang berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya mencoba naik ke permukaan.
~byuuuurrr~
Kembali terdengar hempasan air, ada yang masuk ke kolam.
~byuuuurrr~
Sekali lagi terdengar hempasan air, kembali ada yang masuk ke kolam.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
__ADS_1
...terima kasih...