DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Alam bawah sadar Via 3


__ADS_3

"Sepertinya bayi laki-lakimu memiliki sesuatu yang istimewa ...."


Via mendekat pada dua bayi di dalam box. Tubuhnya tembus saat Jimmy melewatinya ketik akan menggendong bayi perempuan yang tengah menangis dengan sangat kencang.


"Hyuna, kenapa kamu menangis? Bukan kah perutmu sudah kenyang?" Jimmy mengecek Hyuta yang tampak senyum-senyum mengoceh melihat sesuatu.


Seorang perawat datang tergopoh membantu Jimmy untuk menenangkan bayi perempuan tersebut. Hyuna dibawa keluar, dan giliran Hyuta yang digendong oleh Jimmy. Hyuta terus tersenyum melihat bayangan Via.


Via mencoba mencium bayi tersebut, tetapi tidak bisa. "Apa kamu bisa melihat Mama, Sayang? Ini Om Deval ... Apa kamu bisa melihatnya juga?"


Deval sedikit tersentak saat dipanggil sapaan Om. Lalu dia membelai pipi gembul bayi laki-laki itu.


"Dia mirip Jimmy yang dulu, waktu aku masih di dunia," ucap Deval.


"Dia pasti merasa bingung, tak satu pun orang tuanya yang mirip dengannya." Via menepuk kedua tangannya, membuat Hyuta semakin tertawa.


Jimmy merasa aneh, membawa Hyuta menghadap Via yang sedang terbaring. "Sayang, lihat anakmu. Dia tampak begitu gembira. Apakah kamu hadir untuk melihat mereka berdua?"


Via tertegun mendengar pertanyaan Jimmy. "Bagaimana Kakak tahu?" Via membelai pipi Jimmy.


Jimmy seakan merasakan kehadiran Via, mengedarkan pandangannya ke segala sisi di ruang itu.


"Sayang, apa benar kamu ada di sini?" Dia kembali memutar kepala melihat ke segala sisi. Hyuta terlihat fokus memandang pada satu arah. Dia terus tertawa melihat Via dan Deval.


"Apa kamu melihat Mamamu?" tanya Jimmy kepada bayi itu.


"Kembali lah! Kamu jangan berdiri di sana saja. Masuk lah kembali pada dirimu yang terbaring itu," ucap Jimmy sendu, mencium pucuk kepala bayi mungilnya.


"Aku di sini, Kak. Apa kamu tidak bisa mendengarku?" ucap Via tepat di hadapan Jimmy.

__ADS_1


Deval menyentuh pundak Via. Via melihat Deval menggelengkan kepalanya. Ini berarti sia-sia saja atas apa pun yang akan dikatakannya. Tak akan ada yang bisa mendengarnya.


Via hanya bisa membisu, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ini bukan lah kehendaknya. Lalu Deval mengajaknya kembali ke alam mereka. Via melangkah dengan lunglai.


Via dan Deval kembali duduk pada sebuah taman, dengan langit bewarna merah muda. Via membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangan. Dia ingin berbicara pada Jimmy untuk mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Namun, dia tidak bisa.


"Sampai kapan aku akan begini? Tubuhku masih nyata hidup di dunia. Namun, aku sudah berada di dunia yang tak bisa dilihat oleh manusia."


Deval ikut melipat tubuhnya. Dia merenungkan bahwa antara dirinya dan Via saat ini benar-benar telah berbeda. Meski sekarang mereka duduk berdua di tempat yang sama, tetapi suratan takdir di antara mereka belum tentu sama.


Deval tak henti memperhatikan Via yang masih membenamkan wajah. Tak ada rasa cemburu dan marah, seperti kala itu. Di mana saat di dunia, dengan mudahnya dia merasa terluka dan dibakar oleh amarah.


Deval kembali menyentuh pundak Via. Via menegakan kepala menatap Deval yang tersenyum tipis. Deval menepuk pelan pundak Via dan menganggukan kepala.


"Aku yakin, kalian pasti bisa bersama kembali. Kita tunggu saja kapan waktunya."


Deval masih dalam senyum tipisnya sedikit menghela nafas. "Aku sudah sendirian di sini kurang lebih sembilan tahun pada waktu dunia. Aku sudah terbiasa dengan ini semua. Kadang kala, saat aku rindu padamu, aku akan langsung datang melihatmu. Mungkin ke depannya bukan sekedar melihatmu saja. Siapa tau aku bisa berbicara dengan putramu yang sangat tampan itu."


Via tersenyum dan dia sendiri mengakui putranya terlihat tampan dan putrinya sangat cantik. Dia merasa ingin kembali berada di sisi mereka. Ingin memeluk mereka berdua.


"Ajarkan aku, bagaimana caranya agar bisa melihat mereka kembali?"


"Mudah saja, kamu tinggal memikirkan kamu ingin kemana, maka dengan otomatis akan ada lorong yang akan mengantarmu menuju ke tempat mereka."


Mendengar penjelasan Deval tersebut, Via sedikit merasa lega. Dia bisa kapan saja bertemu dengan orang-orang yang disayanginya. Deval ikut tersenyum, meski hanya tipis.


*


*

__ADS_1


Via sudah berada di dekat bayi mereka. Namun bayi perempuannya terlihat sangat sensitif. Sehingga membuat dia menangis dengan suara yang sangat keras. Hal ini membuat Via menjadi panik. Ingin mengangkat Hyuna, tetapi tangannya tidak bisa menyentuh bayinya.


"Sayang, ini Mama. Kamu jangan menangis, Nak ..." ucapnya sedih.


Jimmy yang berada di luar kamar tergopoh masuk ke dalam kamar dan langsung menggendong Hyuna. "Ssst ... ssstt ...." Jimmy menyandarkan bayi tersebut pada bahunya mengusap punggung menenangkan Hyuna.


Mata Jimmy liar melihat ke segala sisi. "Apakah kamu berada di sini, Sayang?"


"Aku di sini, Kak. Tepat di hadapanmu, Kak," ucap Via lirih menahan rindunya pada Jimmy.


Sementara Hyuta yang tertinggal di dalam box tersenyum merentangkan tangan minta digendong oleh Via. Via hanya bisa melongokan wajahnya mencium bayi tampan tersebut.


"Anak pinternya, Mama. Nanti kamu pasti jadi orang yang sangat hebat."


*


*


Via setiap waktu datang mengunjungi keluarganya. Baik itu di rumah, maupun di rumah sakit. Dia jadi tahu Jimmy dan Romi sedang mengupayakan membuat peralatan untuk menyadarkan Via dari koma. Peralatan yang belum pernah ada sebelumnya.


Sudah puluhan kali percobaan, tetapi hasilnya masih gagal juga. Sudah banyak waktu dan biaya yang mereka habiskan untuk membuat alat. Sehingga Jimmy menetapkan sistem rodi dan memaksa seluruh anggota White House mencari dana untuk membuat peralatan hingga nanti ketika semuanya dinyatakan berhasil.


Tibalah saatnya Romi dan Irin menikah. Via hanya bisa melihat mereka dari jauh dalam wajah penuh haru.


"Meski pun kalian tidak menungguku sadar terlebih dahulu, aku tetap bahagia melihat kalian bisa bersama." Dia mengahapus air mata melihat mereka sedang duduk berdua di pelaminan.


Beberapa waktu kemudian Irin mendatanginya sambil berurai air mata. "Maafkan gue, Vi ... Gue menikah tanpa kehadiran lo ..."


Via memeluk Irin dari belakang. "Tak apa, Rin. Ini demi kebahagiaan lo sendiri. Sedangkan gue tidak tahu kapan akan sadar kembali, atau mungkin tak akan pernah sadar."

__ADS_1


__ADS_2