DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
S2-24 Penjahat-2


__ADS_3

"Pantas Jimmy mentoknya sama Marni. Bahkan jadi secantik ini sekarang." Talita menggelengkan kepalanya, "Bahkan kamu udah tidak gagap lagi? Ditolong sama Jimmy dalam mengobatinya?"


"Bu-bukan sih." Via menggaruk tengkuknya mendapat interogasi mendadak. "Aku mengganti pakaian dulu kalau gitu." Dia berdiri langsung berjalan dengan cepat.


"Hati-ha--"


......buukgs......


Jimmy belum selesai bicara, Via sudah jatuh duluan, karena menginjak gaun yang terlalu panjang.


***


Kembali mereka berjalan menyusuri area pejalan kaki. Kendaraan masih cukup ramai hilir mudik kian kemari. Pejalan kaki seperti mereka pun tak kalah ramai, menghampiri jajanan-jajanan yang ada di sepanjang area ini.


"Mau kemana lagi kita Kak?"


"Jalan aja, mumpung ada kesempatan buat berdua kan. Oh ya, kamu sudah cerita tentang aku kepada orang tuamu belum?"


"Belum sih."


"Kenapa belum cerita? Kamu bener-bener gak yakin padaku?"


"Yaa, kita lihat nanti. Atau mau aku videocall saat ini juga? Biar kakak bicara dengan mereka langsung."


"Ehm...," Jimmy langsung merasa tercekak.


"Kenapa? Maksa-maksa mulu kan? Sekalian saja kita bicarakan langsungq jika bener-bener serius."


"Baik lah, ayo kita cari tempat enak untuk video call sama keluarga kamu." Lalu mereka mencari kafe terdekat sambil menikmati es kopi kesukaan Via.


Mereka duduk bersebelahan, dan tengah mencoba menghubungi Tosan. Tetapi tak ada jawaban dari Tosan. Lalu Via beralih menghubungi ibunya. Di dalam video, tampak sang ibu sedang sendirian di rumah


"Mami, Tosan dimana? Tadi Via telepon, tapi tidak ada jawaban."


"Oooh, Tosan kamu sedang perjalanan menuju Italia."


"Ngapain ke sana lagi?"


"Ada urusan mendadak dengan organisasi BOS di sana. Kali ini anggota kita diculik oleh mereka."


"Iiih, kurang ajar. Besok aku ke sana juga. Ada urusan yang belum beres dengan bajingan bule itu."


"Maksud kamu Oliver?" sela Jimmy.


"Siapa pun si keparat itu. Aku ingin menangkap dan menghajarnya dengan tanganku sendiri. Membalas semua yang telah dilakukannya."


"Via, siapa di samping kamu? Kenalkan lah pada Mami!"


"Ini aku mau kenalin ke Mami."


"Haloo Mami," sapa Jimmy membuat Via melotot, dan sang Ibu tertawa.


"Halooo... Kamu pacar Via ya?"

__ADS_1


"Semoga bisa jadi suami Via nanti ya Mi."


"Wei, lancar bener panggil Maminya?"


"Kan calon Mami aku juga ini." Lalu fokus kembali kepada yang ada di dalam layar. "Kita pernah bertemu dulu kok Mami. Waktu Via dulu habis kecelakaan kan?"


"Oh ya? Siapa dulu Ji-ji--"


"Jimmy Mi..." sela pria itu dengan pedenya ikut memanggil ibu Via dengan Mami.


"Jimmy, iya Jimmy... Waah, sekarang kamu terlihat sangat berebda ya?"


"Dia oplas Mi," sela Via.


"Oplas? Apa yang terjadi?"


Sementara Jimmy menangkap satu sosok yang telah berdiri di dekat mereka. Dengan sorot sendu menatap Via yang tak bisa dimilikinya tengah sibuk berbicara dengan ibunya.


Jimmy meminta izin kepada Mami Via, untuk menemui rekan kerjanya. Lalu Jimmy membiarkan Via berbicara dengan sang ibu, sedikit melangkah mendekati Romi. Sembari berbicara dengan ibunya, Via terheran tiba-tiba saja ada Romi di sana.


"Kau bahkan mengikuti kami hingga ke sini? Hentikan! Saya sedang bersamanya di sini."


"Saya ingin bicara. Sepertinya saya tidak bisa lagi bekerja sama dengan White House," lalu pergi melangkahkan kakinya satu per satu pergi meninggalkan mereka.


Via yang sedang berbicara dengan ibunya, tertegun mendengar kata White House, itu adalah mafia target operasinya yang sudah diselidikinya semenjak menjadi agen FBI. "Mi, sepertinya aku ada urusan mendadak. Aku tutup dulu. Nanti kita lanjutkan." Via langsung menutup panggilan. Mengejar Romi.


"Romi! Tunggu! Apa maksudmu?" Via mengucapkan itu dengan suara tegas dan lantang. Romi tidak mengubris tetap berjalan.


Via bersiap mengejar, ditahan oleh Jimmy. Via menyibak tangan Jimmy dan berlari mendahului Romi dan mencegatnya. "Katakan apa maksudmu dengan White House?"


Via tertegun melihat Jimmy dengan mata nanar. Pimpinan White House?


Jimmy melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah Via. Mencoba meraih tangannya, namun Via dengan segera memelintir tangan itu dan menguncinya di belakang.


"Kamu penjahaaat!" bentak gadis itu murka. Semua penghuni kafe melihat heran ke arah mereka. Padahal baru saja mereka bermesraan berdua.


"Tunggu! Kamu harus mendengar penjelasanku dulu!"


"Jadi selama ini kamu sengaja menjebakku dengan kata-kata manismu?" bentaknya mendorong Jimmy ke dinding dengan tangan yang masih dikuncinya dengan kuat.


"Dengarkan aku dulu!"


"Jadi kamu hanya mempermainkan perasaanku? Pura-pura suka ternyata ada maksud lain? Bahkan hingga memanggil ibuku dengan Mami?"


Jika dibiarkan dia akan makin salah paham, Jimmy mengaitkan salah satu kaki Via, sehingga membuatnya oleng dan hampir jatuh. Jimmy dengan sigap menangkap gadis itu, dan kali ini Via yang di pepet ke dinding. Dia terus meronta, dan kedua tangannya tengah dibelenggu oleh kedua tangan Jimmy.


"Kamu harus dengarkan aku dulu!"


"Lepas!" Via terus memberontak. Menggunakan kakinya yang masih bebas, namun ternyata Jimmy lihai dalam mengatasinya. Salah satu kaki Via ditautkan dan dikunci oleh kakinya. Sehingga Via benar-benar tidak bisa bergerak.


"Dengarkan aku dulu! Kamu bisa diam gak sih? Dengarkan aku dulu!"


Via yang merasakan amarahnya di puncak kepala, tidak mau menurut dengan apa yang dikomandoi oleh Jimmy. Mencoba kembali menghajar Jimmy, kali ini kepala yang menjadi senjata.

__ADS_1


......Duuuugk.....


"Aaauuuuhhh!!!" refleks Jimmy menyentuh matanya yang diberi serangan kepala oleh Via. Kedua tangannya telah bebas, dia gunakan kembali capuera sambil salto, menarik kaki Jimmy tadi yang menjepit kakinya.


...duuugghh...


Jimmy jatuh terjengkang, Via berlari menjauh, Jimmy berusaha menangkap kaki gadis itu, namun tangannya diinjak oleh Via.l


Jimmy duduk, mengibaskan tangannya yang kesakitan. Dia benar-benar sangat kuat, batinnya masih mengibaskan tanganya yang berasa senut-senut habis diinjak Via dengan sengaja.


***


Jimmy menekan-nekan nomor pasword yang biasa, namun pasword itu ditolak. Via telah mengubah kata kunci rumahnya dengan cepat.


dug


dug


dug


"Sayang!"


dug


dug


dug


"Sayaang!"


"Aku mohon dengarkan aku terlebih dahulu!"


"PERGIIII!!!" suara Via terdengar dari sebuah kotak elektronik yang tersedia.


"Dengar kan aku dulu!!!"


"Pergi kau penjahat!!! Selama ini kau hanya bermain-main kan? Selamat!!! Kau menang!!!"


"Tidak ada yang mempermainkanmu! Ini semua aku lakukan untuk menemukanmu!"


"PERGIIIII...!"


"Jika tidak dibuka, aku dobrak!" ucap Jimmy masih mengetuk-ngetuk pintu itu.


Tiba-tiba penghuni yang tepat berada di depan rumah Via, membuka pintunya menyiram air satu ember ke arah Jimmy.


"Kata orang di dalam sana kau seorang penjahat! Apa yang akan kau lakukan kepadanya, hah?!"


Permisi, numpang promo karya temanku juga ya. Ceritanya tak kalah seru. Ayooo diintip dulu.



...*bersambung*...

__ADS_1


...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...


...terima kasih...


__ADS_2